Gubernur Khofifah Panen Sayur Hasil Program SIKAP SMAN Taruna Nala, Bukti Nyata Ketahanan Pangan dari Sekolah

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful

- Author

Minggu, 23 Agustus 2026 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memanen sejumlah hasil budidaya Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang. (Dok. Humas Pemprov)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memanen sejumlah hasil budidaya Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang. (Dok. Humas Pemprov)

Malang – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memanen sejumlah hasil budidaya Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang. Kegiatan itu dilakukan di sela peresmian fasilitas baru dan hasil rehabilitasi sekolah, Kamis (20/8/2026).

Khofifah memanen sejumlah sayuran yang dibudidayakan para taruna, di antaranya tomat, sawi, cabai, dan terong. Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa upaya membangun ketahanan pangan bisa dimulai dari lingkungan sekolah.

Program SIKAP, kata Khofifah, bukan sekadar menghasilkan bahan pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual karena para taruna terlibat langsung dalam proses budidaya, mulai dari menyiapkan media tanam, menanam, merawat, mengamati pertumbuhan, hingga memanen.

“Ini adalah praktik nyata pembelajaran ketahanan pangan. Para taruna bisa melihat langsung bagaimana proses menanam, merawat, dan kemudian memanen hasilnya. Ada tomat, ada sawi, ada terong dan cabai yang hari ini bisa kita panen bersama, bahkan mereka juga menanam padi. Ini luar biasa,” ujar Khofifah dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

Menariknya, setiap angkatan di SMAN Taruna Nala, baik kelas X, XI maupun XII, memiliki bidang garapan masing-masing sesuai jenis tanaman yang dipilih dan dikembangkan.

Para taruna bertanggung jawab terhadap proses tumbuh kembang tanaman yang menjadi bidang garapan angkatannya. Pembagian tersebut dinilai tidak hanya menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan, tetapi juga menjadi bagian dari penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning.

Para taruna tidak hanya memahami teori. Mereka belajar melalui pengalaman, pengamatan, pemecahan masalah, evaluasi, hingga refleksi terhadap proses budidaya yang dilakukan.

“Melalui bidang garapan masing-masing, para taruna belajar bertanggung jawab. Mereka tidak hanya mengetahui teori tentang tanaman, tetapi juga mengamati proses pertumbuhannya, menghadapi persoalan yang muncul, mencari solusi, dan mengevaluasi hasilnya. Inilah pembelajaran yang nyata dan bermakna,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian Khofifah adalah budidaya tanaman padi. Padi di SMAN Taruna Nala tidak ditanam di lahan persawahan, melainkan menggunakan wadah bekas galon air minum.

BACA JUGA  Wagub Emil Ajak Mahasiswa Jadi Arsitek Pembangunan, Dorong Kolaborasi Internasional di Jatim

Dengan keterbatasan lahan, para taruna memanfaatkan wadah tersebut sebagai media tanam produktif. Di bawah bimbingan guru mata pelajaran yang relevan, mereka mempelajari proses penanaman dan perawatan hingga tanaman padi tumbuh dengan baik.

“Ini luar biasa. Padi yang biasanya identik dengan lahan persawahan ternyata dapat ditanam dalam wadah bekas galon dan tumbuh dengan baik. Dengan bimbingan guru, ketekunan, dan perawatan yang tepat, para taruna berhasil membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak boleh membatasi kreativitas dan inovasi,” tegas Khofifah.

Menurutnya, praktik tersebut sekaligus mengajarkan pentingnya memanfaatkan kembali barang bekas secara produktif. Selain mendukung ketahanan pangan, penggunaan bekas galon sebagai media tanam menjadi pembelajaran tentang kreativitas, kepedulian lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Khofifah menilai keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari pendampingan para guru. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membimbing para taruna dalam memantau pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan panen yang optimal.

“Apalagi yang saya dengar, para taruna dalam mengembangkan program SIKAP dibimbing langsung oleh guru mata pelajaran yang membidangi. Pantas saja hasil tanaman mereka, baik sayur-mayur maupun padi, tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.

“Kolaborasi antara guru dan taruna menjadi kunci. Guru memberikan arahan sesuai keilmuannya, sedangkan para taruna belajar mempraktikkan, merawat, dan bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka kelola,” sambungnya.

Khofifah mengatakan pengalaman melalui program SIKAP penting untuk membangun pemahaman bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi. Ada ketekunan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang harus dijalankan dalam setiap prosesnya.

“Supaya para taruna tidak hanya belajar dari buku, tetapi mereka bisa menikmati langsung prosesnya. Dari sini mereka belajar bahwa setiap hasil membutuhkan proses, perawatan, dan tanggung jawab,” katanya.

Dia menegaskan pelaksanaan SIKAP tidak harus menggunakan pola yang seragam di seluruh sekolah. Setiap satuan pendidikan dapat mengembangkan kegiatan sesuai kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, dan potensi masing-masing.

BACA JUGA  Wagub Emil Titip Tiga Bekal kepada Mahasiswa Baru UNUSA, Modal Menuju Indonesia Emas 2045

“Tidak harus menunggu memiliki lahan yang luas. Ruang yang tersedia bisa kita manfaatkan secara produktif sesuai dengan kondisi sekolah. Yang penting ada kemauan untuk mengembangkan dan menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran,” tutur Khofifah.

Khusus di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Khofifah mengapresiasi pengembangan SIKAP yang telah menghasilkan berbagai jenis sayuran dan dapat dipanen langsung di lingkungan sekolah.

Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah dapat dikembangkan melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Ketahanan pangan itu bukan sesuatu yang jauh. Bisa dimulai dari lingkungan sekolah, dari hal yang sederhana, seperti menanam sayuran. Dari proses sederhana itu kita berharap tumbuh kesadaran, kepedulian, dan semangat untuk menjadi generasi yang produktif,” ujar Khofifah.

Program SIKAP merupakan inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan untuk mendorong satuan pendidikan mengembangkan kegiatan ketahanan pangan melalui pertanian, perikanan, peternakan, maupun bentuk budidaya pangan lainnya.

Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur. Rinciannya, 596 SMA, 759 SMK, dan 193 SLB. Secara keseluruhan, sekolah-sekolah tersebut telah mengembangkan 41 jenis produk tanaman.

Khofifah mengatakan luasnya keterlibatan sekolah menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui ekosistem pendidikan dengan melibatkan guru dan peserta didik secara langsung.

“Ini menunjukkan bahwa sekolah bisa menjadi bagian penting dari gerakan ketahanan pangan Jawa Timur. Kita ingin kesadaran itu tumbuh sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah,” jelasnya.

Menurut Khofifah, hasil program SIKAP juga masih dapat dikembangkan lebih jauh. Selain dikonsumsi atau dimanfaatkan di lingkungan sekolah, hasil budidaya dapat diolah sehingga memiliki nilai tambah.

“Ke depan kita berharap tidak berhenti pada menanam dan memanen. Kalau memungkinkan, hasilnya bisa diolah, dikembangkan, dan memiliki nilai tambah. Dengan begitu anak-anak belajar tentang produktivitas sekaligus kemandirian,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wagub Emil Titip Tiga Bekal kepada Mahasiswa Baru UNUSA, Modal Menuju Indonesia Emas 2045
Wagub Emil Ajak Mahasiswa Jadi Arsitek Pembangunan, Dorong Kolaborasi Internasional di Jatim
Senator Lia: Gen Z Harus Melek Politik dan Berani Suarakan Aspirasi
Gubernur Khofifah dan Menteri PPPA Panen Ikan Nila hingga Sawi Samhong di Pameran SIKAP Jombang
Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 112 Murid di Jombang, Apresiasi 193 Prestasi Nasional-Internasional
Dhamroni DPRD Sidoarjo Dorong Tunjangan untuk Guru yang Mengajar di Wilayah Terpencil
Komisi D DPRD Sidoarjo Soroti Dana TKG Rp23 Miliar yang Mengendap Jadi SiLPA
Senator Lia Istifhama Dorong UNITABAH Lamongan Perkuat Pendidikan dan Peradaban Pesisir
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 14:58 WIB

Wagub Emil Titip Tiga Bekal kepada Mahasiswa Baru UNUSA, Modal Menuju Indonesia Emas 2045

Senin, 7 September 2026 - 23:11 WIB

Wagub Emil Ajak Mahasiswa Jadi Arsitek Pembangunan, Dorong Kolaborasi Internasional di Jatim

Sabtu, 5 September 2026 - 22:16 WIB

Senator Lia: Gen Z Harus Melek Politik dan Berani Suarakan Aspirasi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:20 WIB

Gubernur Khofifah dan Menteri PPPA Panen Ikan Nila hingga Sawi Samhong di Pameran SIKAP Jombang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 112 Murid di Jombang, Apresiasi 193 Prestasi Nasional-Internasional

Berita Terbaru

WhatsApp