Tarakan – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak kader Muslimat NU memperkuat peran perempuan dalam membina generasi bangsa. Ia juga mendorong Muslimat NU terus menyuarakan perdamaian dunia.
Pesan itu disampaikan Khofifah saat menghadiri Maulidurrasul dan Harlah ke-80 Muslimat NU Pengurus Wilayah Kalimantan Utara di Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang dan ratusan warga Muslimat NU se-Kalimantan Utara.
Acara diawali dengan lantunan Shalawat Nabi. Selain memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah ke-80 Muslimat NU, kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi serta memperkuat semangat pengabdian kader Muslimat NU di Kalimantan Utara.
Khofifah mengatakan perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi penting dalam membentuk karakter generasi bangsa. Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan agama, akhlak, karakter, hingga nilai kemanusiaan.
“Muslimat NU adalah madrasah ula. Kita mendidik, membimbing, dan membina putra-putri bangsa,” kata Khofifah dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Ia berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Keteladanan Rasulullah SAW, kata Khofifah, harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari melalui penguatan akhlak dan kepedulian kepada sesama.
Khofifah juga mengajak kader Muslimat NU memperkuat doa untuk keluarga, terutama agar anak-anak menjadi penyejuk hati dan tumbuh sebagai generasi yang berakhlakul karimah.
“Setiap pengajian, saya yakin semua orang tua berdoa agar anaknya mempunyai akhlakul karimah, menjadi anak yang solih dan solihah. Saya berharap kita semua bisa mendidik dan membina putra-putri bangsa,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya doa Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama.
“Tidak lupa ya Bu. Mohon kepada Allah supaya kita bertemu keluarga, bertemu anak kita qurrata a’yun atau penyejuk mata. Setelah salat, bersama-sama tambahkan doa tersebut,” pesannya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menyerukan pentingnya perdamaian dunia. Menurutnya, perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan negara, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi perempuan.
Ia menilai Muslimat NU memiliki posisi strategis untuk menyuarakan perdamaian sekaligus menanamkan nilai persaudaraan, toleransi, dan kemanusiaan dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.
“Yang kita harapkan ada perdamaian di dunia, diwujudkan bersama oleh warga dunia. Maka selalu ada seruan Muslimat NU kepada PBB supaya negara di dunia membangun suasana sejuk dan damai,” ujarnya.
Khofifah mengatakan seruan perdamaian tersebut merupakan bagian dari upaya Muslimat NU mengambil peran dalam persoalan global.
Selain isu perdamaian, Khofifah menyoroti penguatan kapasitas perempuan melalui berbagai bidang. Salah satunya melalui program paralegal Muslimat NU. Menurut Khofifah, saat ini lebih dari 2.600 paralegal Muslimat NU telah mengikuti pendidikan dan diwisuda.
“Muslimat NU memiliki paralegal. Ada lebih dari 2.600 yang sudah diwisuda. Mereka melalui proses dan sertifikatnya sudah internasional,” terangnya.
Khofifah juga menyampaikan kiprah Muslimat NU dalam pengembangan keilmuan. Ia menyebut terdapat 206 profesor yang tergabung dalam Muslimat NU.
“Muslimat ini memiliki 206 profesor Muslimat NU dan insyaallah terus berkembang,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan profesor dan ulama perempuan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak perempuan dengan kapasitas keilmuan yang kuat. Mereka dinilai memiliki peran penting dalam pembangunan peradaban.
“Kita sampaikan pada dunia, Indonesia punya banyak ulama perempuan. Ilmunya luar biasa dan berperan membangun peradaban. Pola inilah yang kita kembangkan di Muslimat NU,” tegas Khofifah.
Ia berharap seluruh program dan kiprah Muslimat NU semakin memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kita ikhtiarkan supaya Muslimat ini insyaallah anfa’, dalam artian anfauhum linnas, bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengapresiasi perjalanan 80 tahun Muslimat NU. Ia menyebut delapan dekade merupakan perjalanan panjang yang diwarnai pengabdian kepada masyarakat.
“Delapan dekade bukanlah perjalanan yang singkat. Ini adalah perjalanan panjang dan pengabdian yang harus terus diapresiasi,” kata Zainal.
Menurutnya, peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU sekaligus menjadi momentum memperkuat iman, akhlak, dan semangat pengabdian. Ia juga menilai perempuan memiliki posisi penting dalam pendidikan generasi muda.
“Hari ini menjadi momentum penguat iman, akhlak dan semangat pengabdian serta mengikuti keteladanan Rasulullah. Harlah Muslimat menjadi pengingat bagaimana perempuan sebagai madrasah ula bagi anak-anak, menjadi garda terdepan dalam mendidik generasi muda di Kalimantan Utara,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat