Wagub Emil Dorong Ekonomi Syariah Jatim, Tekankan Pentingnya Ekosistem Berkelanjutan

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful Hidayat

- Author

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 02:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak menjadi pembicara dalam Indonesia Collaborative Forum 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta.(Dok. Humas Pemprov)

Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak menjadi pembicara dalam Indonesia Collaborative Forum 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta.(Dok. Humas Pemprov)

Jakarta – Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak menegaskan pentingnya membangun ekosistem yang terintegrasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah secara berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya melalui regulasi dan program, tetapi juga harus didukung kesiapan kelembagaan, pembiayaan, hingga akses pasar.

Hal itu disampaikan Emil saat menjadi pembicara dalam Indonesia Collaborative Forum 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/10/2026). Emil yang juga menjabat Ketua Umum Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jatim itu menilai pemerintah harus memastikan seluruh mata rantai pendukung usaha berjalan beriringan.

“Jangan kita berpikir kalau sudah ada produk halal, selesai. Ketika kita meminta pelaku usaha mendapatkan sertifikasi halal, kita juga harus melihat apakah lingkungan produksinya memungkinkan. Ketika kita memberikan pembiayaan, kita juga harus melihat apakah kelembagaannya siap,” kata Emil dalam keterangannya, Sabtu (10/10/2026).

“Jadi pemerintah harus memastikan mata rantainya tersambung. Pemerintah harus membangun ekosistemnya,” tegasnya.

Emil menjelaskan, pengembangan usaha berbasis syariah membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari lingkungan produksi, pemenuhan standar halal, pembiayaan, kelembagaan, hingga pemasaran.

Menurutnya, sertifikasi halal tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan. Pelaku usaha juga perlu memastikan kebersihan, sanitasi, kondisi lingkungan produksi, serta pengelolaan limbah memenuhi ketentuan.

Dia mengakui pemenuhan berbagai persyaratan tersebut tidak mudah bagi pelaku usaha kecil apabila harus dilakukan secara mandiri. Karena itu, pemerintah perlu hadir melalui penyediaan lingkungan usaha dan fasilitas yang memadai.

“Bagi usaha kecil, untuk memenuhi seluruh persyaratan yang ada ini tentu tidak mudah jika mereka harus dilakukan sendiri. Maka di sinilah peran pemerintah untuk memastikan itu,” ujarnya.

Emil mencontohkan pentingnya dukungan infrastruktur melalui pembenahan pasar tradisional saat dirinya menjabat Bupati Trenggalek pada 2016. Pembenahan dilakukan secara bertahap, mulai dari pasar yang baru dibangun, kemudian diperluas ke pasar lainnya.

BACA JUGA  Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Temui Kementerian ESDM, Bahas Kepastian Pasokan BBM di Jatim

Perbaikan tersebut mencakup penyediaan air bersih, sanitasi, dan penataan lingkungan pasar agar pedagang dapat memenuhi standar kebersihan serta keamanan pangan.

“Kalau kita meminta pedagang memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan, tetapi pasarnya sendiri tidak mendukung, tentu akan sulit. Jadi yang dibangun bukan hanya pelakunya, tetapi juga lingkungannya,” ucapnya.

Lebih lanjut, Emil menyebut Jawa Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi syariah melalui ekosistem pesantren. Dengan 7.347 pesantren, Jatim dinilai memiliki basis yang kuat untuk menggerakkan kegiatan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Salah satu upaya yang dikembangkan Pemprov Jatim adalah program Eko-Tren atau Ekonomi Pesantren. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan kelembagaan.

Dalam ekosistem tersebut, Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) berperan sebagai fondasi kelembagaan untuk menopang kegiatan ekonomi. Keberadaan koperasi diharapkan mampu memperkuat tata kelola usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Sementara itu, program One Pesantren One Product (OPOP) mendorong lahir dan berkembangnya produk-produk usaha pesantren. Pengembangannya perlu didukung pendampingan, sertifikasi, pembiayaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan akses pasar.

“Kalau kita bicara ekonomi pesantren, produknya penting, tetapi produk saja tidak cukup. Harus ada lembaga yang mengelola, ada orang yang menjalankan, ada pembiayaan, ada pendampingan dan ada pasarnya. Jadi OPOP harus diperkuat dalam ekosistem ekonomi pesantren,” katanya.

Emil menambahkan, pengembangan Eko-Tren juga memberikan ruang bagi pesantren, santri, dan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi melalui tiga pendekatan, yakni Pesantrenpreneur, Santripreneur, dan Sociopreneur.

Menurutnya, ketiga pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga memperkuat pelaku usaha dan kelembagaan.

BACA JUGA  Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Temui Kementerian ESDM, Bahas Kepastian Pasokan BBM di Jatim

“Jadi yang dibangun bukan hanya usahanya, tetapi juga orang dan kelembagaannya. Pesantren, santri dan masyarakat harus sama-sama menjadi bagian dari ekosistem,” ujarnya.

Di akhir paparannya, Emil mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi lintas sektor agar pengembangan ekonomi syariah dapat berjalan secara berkelanjutan. Dia menegaskan, pemerintah, perbankan, pesantren, dan pelaku usaha perlu mengambil peran masing-masing dalam membangun ekosistem tersebut.

“Pemerintah tidak bisa sendiri. Bank tidak bisa sendiri, pesantren tidak bisa sendiri, pelaku usaha juga tidak bisa sendiri. Pemerintah membangun ekosistemnya, lalu semua pihak mengisi perannya. Pembiayaan tersedia, kelembagaan diperkuat, pelaku usaha menghasilkan produk, dan pasar menjadi ruang pertumbuhannya,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Temui Kementerian ESDM, Bahas Kepastian Pasokan BBM di Jatim
Wagub Emil Tekankan Peran Pemerintah Jembatani Pekerja dan Industri
Ning Lia Dukung Transmigrasi Berbasis Usulan Daerah untuk Perkuat Ekonomi Komunal
Survei KPK Sebut 50% Mahasiswa Masih Nyontek, Ini Respons Gus Hilman PKB
Senator Lia Istifhama Apresiasi Menko Zulhas, 26 Ribu Gerai KDKMP Siap Beroperasi Bulan Ini
Temui Presiden Prabowo, Presiden FIFA Apresiasi Sukses Indonesia Gelar FIFA ASEAN Cup 2026
Menko Cak Imin Ganti Alphard dengan Maung Garuda Buatan Pindad
Menteri PPPA Arifah Raih Penghargaan Perempuan Berbakti, Ning Lia: Jadi Inspirasi bagi Banyak Perempuan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Temui Kementerian ESDM, Bahas Kepastian Pasokan BBM di Jatim

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 02:57 WIB

Wagub Emil Dorong Ekonomi Syariah Jatim, Tekankan Pentingnya Ekosistem Berkelanjutan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 11:49 WIB

Wagub Emil Tekankan Peran Pemerintah Jembatani Pekerja dan Industri

Rabu, 7 Oktober 2026 - 02:16 WIB

Ning Lia Dukung Transmigrasi Berbasis Usulan Daerah untuk Perkuat Ekonomi Komunal

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:57 WIB

Survei KPK Sebut 50% Mahasiswa Masih Nyontek, Ini Respons Gus Hilman PKB

Berita Terbaru

WhatsApp