Jakarta – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menekankan pentingnya peran pemerintah sebagai jembatan antara pekerja dan industri. Menurutnya, kesejahteraan pekerja dan pertumbuhan industri harus berjalan beriringan.
Hal itu disampaikan Emil saat menjadi narasumber dalam Talk Show Mata Lokal Fest 2026 yang digelar Tribun Network bertema “Restore Indonesia: Taking Care of What Sustains Us” di Thamrin Nine Ballroom, Chubb Square Lantai GF, Jalan MH Thamrin No. 10, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
Emil mengatakan pekerja memiliki harapan besar terhadap peningkatan kesejahteraan. Di sisi lain, industri memiliki kemampuan dan keterbatasan dalam memenuhi tuntutan pekerja.
Karena itu, menurut Emil, pemerintah memiliki peran penting untuk mempertemukan kepentingan pekerja dan industri.
“Pekerja punya cita-cita dan harapan yang besar, tetapi industri juga punya keterbatasan dalam menyepakati sebuah angka. Nah, untuk mengatasi masalah antara pekerja dan industri, di sinilah pemerintah menjadi salah satu jembatan yang penting,” kata Emil dalam keterangannya, Kamis (7/10/2026).
Emil menuturkan pemerintah harus memastikan pertumbuhan industri tetap berjalan tanpa mengabaikan kesejahteraan pekerja. Hubungan industrial, kata dia, seharusnya tidak dipandang sebagai dua kepentingan yang saling berhadapan, melainkan sebagai bagian yang dapat tumbuh bersama.
Dia mencontohkan para pekerja di Pelabuhan Banyuwangi yang bekerja siang dan malam untuk memastikan aktivitas pelabuhan tetap berjalan. Menurutnya, kerja keras tersebut harus diikuti dengan peningkatan kesejahteraan yang sepadan.
“Jangan sampai pelabuhannya terus tumbuh, ekonominya terus bergerak, tetapi kesejahteraan orang yang menggerakkannya tertinggal. Pertumbuhan harus dirasakan juga oleh pekerjanya,” ujarnya.
Menurut Emil, menjaga keseimbangan antara kepentingan pekerja dan industri bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Hal itu membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.
“Untuk menjaga sirkulasi darah ekonomi supaya tetap lancar, kita tidak bekerja sendirian. Ada instansi pusat, pemerintah kabupaten/kota, desa hingga elemen masyarakat. Kalau semuanya berjalan sinergis, cita-cita pembangunan bisa kita capai bersama,” ucapnya.
Emil juga menekankan pertumbuhan industri harus sejalan dengan daya dukung lingkungan. Semakin besar aktivitas industri, kata dia, semakin besar pula kebutuhan terhadap lahan, air, dan energi.
“Industri membutuhkan ruang untuk tumbuh, tetapi ada ruang yang harus kita jaga. Jangan sampai pertumbuhan industri justru mengurangi kemampuan kita memenuhi kebutuhan pangan,” katanya.
Emil mengatakan Jawa Timur terus berupaya menjaga keseimbangan tersebut dengan membuka ruang bagi industri sekaligus melindungi lahan yang menopang kebutuhan pangan melalui perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).
Hal itu, kata dia, terlihat dari Lahan Baku Sawah yang mencapai sekitar 1,2 juta hektare. Sementara capaian usulan perlindungan LP2B mencapai 87,34% hingga September 2026. Di sisi lain, industri pengolahan berkontribusi 31,45% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada Triwulan I 2026.
“Jadi, target pertumbuhan industri tidak bisa hanya melihat berapa banyak yang bisa kita bangun. Kita juga harus menghitung air, energi, lahan dan daya dukung lingkungan yang kita punya,” jelasnya.
Emil menegaskan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan industri dan lingkungan yang menopangnya.
“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya industri tumbuh, tetapi apakah pertumbuhan itu juga membuat pekerjanya semakin sejahtera. Pemerintah harus memastikan keduanya berjalan bersama. Industri tumbuh, pekerja sejahtera, dan tidak ada yang merasa ditinggalkan,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat