Bangkalan – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak mahasiswa menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan membangun peradaban yang berkemajuan. Menurutnya, nilai keislaman perlu diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, serta kemajuan pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial.
Pesan tersebut disampaikan Senator Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia saat menjadi narasumber Islamic Talkshow bertajuk “Membangun Peradaban dari Timur: Kontribusi Nilai-Nilai Islam bagi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara” di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang dimoderatori Moh Miqdad Ilmi itu turut dihadiri Kepala BPSDM Jawa Timur Dr. Ramliyanto S. yang mewakili Gubernur Jawa Timur, anggota DPRD Jatim Lora Nasih Aschal, Dekan Fakultas Keislaman UTM Dr. Abdur Rohman, serta jajaran pimpinan fakultas, dosen, dan pengurus organisasi mahasiswa.
Dalam paparannya, Ning Lia menegaskan bahwa membangun peradaban dari Timur bukan sekadar mengenang kejayaan Islam pada masa lalu. Namun, diperlukan upaya menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam agar mampu menjawab tantangan zaman dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Salah satu gagasan yang dibahas ialah benevolent society, yakni masyarakat yang mengedepankan kebaikan bersama dan kemanfaatan sosial. Menurutnya, peradaban yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga kualitas ilmu pengetahuan, karakter, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Ning Lia juga menjelaskan tiga pendekatan epistemologi Islam, yaitu bayani, irfani, dan burhani. Bayani bertumpu pada teks, irfani menekankan pengalaman spiritual, sedangkan burhani mengedepankan penalaran dan pembuktian rasional.
“Ketiganya dapat menjadi pijakan untuk membangun tradisi keilmuan yang memadukan nilai agama, kedalaman spiritual, dan rasionalitas. Pembahasan ini juga berkaitan dengan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi,” kata Ning Lia dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).
Ia turut mengulas sejarah kejayaan peradaban Islam, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah melalui Baitul Hikmah. Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa kemajuan peradaban membutuhkan tradisi belajar, pertukaran pengetahuan, serta keterbukaan terhadap pemikiran.
Ning Lia juga mengaitkan pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai hubungan sosial dan pembagian kerja dengan gagasan Adam Smith tentang ketergantungan antarmanusia dalam memenuhi kebutuhan hidup.
“Keduanya menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kehidupan masyarakat dibangun melalui hubungan dan kerja sama. Setiap orang memiliki peran yang saling melengkapi sehingga kemajuan membutuhkan solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut juga menyoroti pentingnya demokrasi substantif dan meritokrasi. Menurutnya, demokrasi tidak cukup berhenti pada prosedur politik, tetapi harus diwujudkan melalui keadilan, kesempatan yang setara, dan penghargaan terhadap kemampuan seseorang.
Putri KH Masykur Hasyim itu menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membangun peradaban Islam di Nusantara. Selain menjadi pusat pendidikan agama, pesantren berperan dalam membentuk akhlak, kedisiplinan, dan karakter generasi penerus.
Hal tersebut sejalan dengan ungkapan syubbanul yaum rijalul ghod, yang bermakna pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ning Lia kemudian memperkenalkan konsep SANTRI sebagai nilai yang relevan bagi generasi muda, yakni Smart, Adaptability, Networking, Toughness, Responsibility, dan Integrity.
Konsep tersebut menekankan pentingnya kecerdasan, kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, ketangguhan, tanggung jawab, dan integritas dalam menghadapi tantangan masa depan.
Sementara itu, Kepala BPSDM Jawa Timur Dr. Ramliyanto S. menyoroti jejak panjang perkembangan Islam di Jawa Timur yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.
“Di antaranya keberadaan makam Fatimah Binti Maimun di Gresik, tradisi Wali Songo, serta pesantren sebagai bagian dari warisan sejarah yang dapat menjadi inspirasi pembangunan peradaban. Bahkan, jumlah pesantren di Jatim mencapai 7.347 unit dan ini terbanyak di Indonesia,” kata Ramliyanto.
Ia menambahkan, khazanah keilmuan para ulama perlu terus diinventarisasi dan didigitalisasi agar dapat diakses generasi berikutnya. Dengan demikian, warisan intelektual Islam tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Rektor UTM Prof. Dr. Syafi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyinggung ungkapan al-Islamu mahjubun bil-muslimin, yang menggambarkan bahwa citra Islam dapat tertutupi oleh perilaku pemeluknya. Karena itu, nilai-nilai positif dalam ajaran Islam perlu tercermin melalui sikap dan tindakan umat.
Menurutnya, identitas keislaman tidak cukup ditampilkan melalui simbol atau atribut seperti sarung dan kopiah. Lebih dari itu, nilai-nilai Islam harus menjadi bagian dari karakter, pola pikir, dan gaya hidup, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan sosial.
Melalui forum akademik tersebut, ia berharap mahasiswa dapat memahami nilai-nilai keislaman secara lebih mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua pelaksana M. Bagus Junaidi mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga mendorong pertumbuhan intelektual, kreativitas, dan kepedulian sosial. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam membangun peradaban.
Senada, Gubernur BEM Fakultas Keislaman UTM M. Fathul Amin Firdaus menyebut Islamic Talkshow tersebut sebagai puncak rangkaian kegiatan kepemimpinan yang diarahkan untuk membangun peradaban.
“Melalui kegiatan itu, pembangunan peradaban dari Timur diharapkan menjadi ajakan bagi generasi muda untuk menghubungkan warisan intelektual Islam dengan kebutuhan masa kini,” tutupnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat