Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi kepada seluruh petani di Jatim. Menurutnya, petani memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Apresiasi itu disampaikan Khofifah bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional 2026 yang jatuh pada Kamis (24/9/2026).
“Selamat Hari Tani Nasional Tahun 2026 kepada seluruh petani, khususnya para petani di Jawa Timur. Terima kasih atas kerja keras, ketekunan, dan pengabdian panjenengan semua. Dari tangan para petani, pangan tersedia, ekonomi desa bergerak, dan ketahanan bangsa terus terjaga,” kata Khofifah, Kamis (24/9/2026).
Khofifah menyebut petani bukan hanya berperan sebagai produsen pangan. Petani juga menjadi penggerak ekonomi perdesaan serta salah satu pilar dalam menjaga kedaulatan pangan.
Dia mengatakan Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk memperkuat komitmen membangun sektor pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan.
“Petani tidak hanya menanam benih di lahan pertanian. Para petani juga menanam harapan, menjaga kehidupan, dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi,” ujarnya.
Khofifah menyebut peran petani Jatim tercermin dari capaian produksi padi dan beras. Berdasarkan Angka Tetap BPS Jatim yang dirilis 2 Februari 2026, luas panen padi sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare.
Produksi padi pada periode tersebut mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 12,60% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi itu setara dengan sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi masyarakat.
Kinerja produksi padi Jatim juga diperkirakan berlanjut pada 2026. Berdasarkan potensi produksi Januari-Oktober 2026, produksi padi Jatim diperkirakan mencapai 9,86 juta ton GKG atau meningkat 5,13% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Luas panen padi di Jawa Timur mencapai 1,74 juta hektare, meningkat 4,58% atau bertambah 76,19 ribu hektare dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 1,66 juta hektare,” jelas Khofifah.
Peningkatan luas panen tersebut sejalan dengan produksi padi yang mencapai 9,86 juta ton GKG. Angka itu naik 5,13% atau bertambah 480,77 ribu ton dibandingkan produksi 2025 sebesar 9,38 juta ton GKG.
Sementara produksi beras tercatat mencapai 5,69 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 5,13% atau bertambah 277,61 ribu ton dibandingkan produksi 2025 yang mencapai 5,41 juta ton.
Khofifah mengatakan capaian tersebut menempatkan Jatim sebagai provinsi dengan potensi produksi padi tertinggi secara nasional.
“Alhamdulillah, sejak 2020 hingga Semester I 2026, Jawa Timur konsisten menjadi produsen padi dan beras tertinggi secara nasional. Capaian ini merupakan buah dari kerja keras para petani, penyuluh, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian,” katanya.
Khofifah menegaskan tingginya produksi pertanian tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan sektor pertanian. Menurutnya, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani.
Pemprov Jatim, kata dia, terus memperkuat ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Di antaranya melalui peningkatan akses benih unggul dan pupuk, perbaikan irigasi, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, akses pembiayaan, hingga penguatan pemasaran dan hilirisasi.
“Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani,” ungkapnya.
Pemprov Jatim juga mendorong penguatan kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan komunitas pertanian juga terus dikembangkan.
Menurut Khofifah, modernisasi pertanian menjadi penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, sekaligus meningkatkan produktivitas.
Pemanfaatan teknologi pertanian, mekanisasi, digitalisasi pemasaran, efisiensi penggunaan air, serta pola budidaya ramah lingkungan dinilai perlu terus diperluas.
“Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah diwariskan para pendahulu,” tuturnya.
Khofifah juga mengajak generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, regenerasi petani menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pangan pada masa mendatang.
Pertanian, lanjut Khofifah, kini tidak lagi identik dengan pekerjaan konvensional. Sektor ini telah berkembang dengan dukungan teknologi, pengolahan produk, kewirausahaan, pemasaran digital, hingga industri berbasis pertanian.
“Masa depan pangan berada di tangan generasi muda. Mari kita bangun pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian,” katanya.
Pada Hari Tani Nasional 2026, Khofifah kembali menyampaikan penghargaan kepada para petani pangan, hortikultura, dan perkebunan yang terus menjaga produktivitas pertanian Jatim.
Dia berharap para petani Jatim semakin tangguh, sejahtera, dan berdaya saing. Khofifah juga mengajak seluruh pihak bersama-sama mempertahankan Jatim sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
“Terima kasih kepada seluruh petani Jawa Timur yang tidak pernah lelah merawat tanah, menanam, dan menghasilkan pangan bagi masyarakat. Semoga seluruh ikhtiar dan kerja keras para petani senantiasa diberikan kelancaran, keberkahan, serta hasil panen yang melimpah,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat