Surabaya Temukan 4.191 Kasus TBC, Lilik Hendarwati Minta Warga Tidak Panik

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Yoyok

- Author

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati. (foto: Istimewa)

Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati. (foto: Istimewa)

Penulis: Syaiful HidayatEditor: Yoyok

Surabaya – Maraknya kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Hingga lima bulan pertama tahun 2026, tercatat sebanyak 4.191 kasus TBC ditemukan di Kota Pahlawan dari estimasi 11.412 kasus yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, meminta seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Menurutnya, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu menunjukkan kondisi yang memburuk. Justru, hal itu bisa menjadi indikator bahwa upaya skrining dan penemuan kasus secara dini semakin aktif dilakukan oleh tenaga kesehatan.

” Meningkatnya temuan kasus TBC di Surabaya harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Namun masyarakat tidak perlu panik. Bertambahnya angka kasus juga bisa menunjukkan bahwa skrining dan penemuan dini semakin aktif dilakukan, sehingga penderita dapat segera diobati dan risiko penularan bisa ditekan,” ujar Lilik, Jumat (12/6/2026).

Ketua Fraksi PKS Jatim itu menilai penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan semata. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk mempercepat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut.

“Saya mendorong adanya sinergi dan kolaborasi agar penanganan TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW, sekolah, tempat ibadah hingga dunia usaha,” katanya.

Lilik juga menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap penderita TBC yang kerap membuat pasien enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan secara terbuka. Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan literasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

“Literasi dan edukasi tentang gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta kepatuhan minum obat harus terus diperkuat agar tidak ada lagi stigma yang membuat pasien takut berobat. Di masyarakat kita masih banyak stigma buruk terhadap penyandang TBC, padahal penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila terdeteksi lebih awal dan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas. Karena itu, dukungan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk membantu proses kesembuhan pasien.

“TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan apabila dideteksi lebih awal dan diobati secara teratur. Jangan mengucilkan penderita, tetapi rangkul dan dukung mereka agar sembuh. Dengan gotong royong dan meningkatnya kesadaran masyarakat, saya optimistis Surabaya dapat menekan penyebaran TBC dan mewujudkan kota yang lebih sehat bagi seluruh warganya,” tuturnya.

Selain itu, Lilik juga menyampaikan sejumlah harapan dan rekomendasi kepada Pemerintah Kota Surabaya agar pengendalian TBC dapat berjalan lebih efektif. Di antaranya memperluas skrining dan pelacakan kontak di wilayah padat penduduk, memastikan ketersediaan obat serta layanan pengobatan yang mudah diakses masyarakat, memberikan pendampingan dan bantuan gizi bagi pasien dari keluarga kurang mampu, serta memperkuat kolaborasi antara puskesmas, rumah sakit, dan kader kesehatan.

“Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh pasien dapat menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Sebab keberhasilan pengobatan menjadi salah satu kunci utama untuk memutus rantai penularan TBC di masyarakat,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Yoyok

Sumber Berita: digitaljatim.com

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Kembali Beri Kado HUT Ke-81 RI, Medical Check Up di RS Paru Manguharjo Gratis 100 Persen
Akreditasi Rumah Sakit Kini Berbasis Hasil Klinis, Puguh DPRD Jatim Minta Pemerintah Gencarkan Sosialisasi
186 Kasus HIV di Kota Malang Jadi Sorotan, Puguh DPRD Jatim Sebut Kondisi Mengkhawatirkan
Gubernur Khofifah Bangga RSUD Dr. Soetomo Jadi Rumah Sakit Terbaik Nasional Versi SCImago 2026
Pemadaman Listrik di Jatim Jadi Sorotan, Puguh DPRD Minta Rumah Sakit Diprioritaskan
Puguh Wiji Pamungkas Raih Maklumat Award 2026, Tegaskan Komitmen Perjuangkan Akses Kesehatan Warga Jatim
Dokter Benjamin DPRD Jatim Prihatin, 7.129 Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Sidoarjo dalam Tiga Bulan
Kasus HIV/AIDS Sidoarjo Naik Signifikan, Ketua Komisi D DPRD Dorong Pemetaan Wilayah Rawan dan Skrining Massal
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Gubernur Khofifah Kembali Beri Kado HUT Ke-81 RI, Medical Check Up di RS Paru Manguharjo Gratis 100 Persen

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:05 WIB

Akreditasi Rumah Sakit Kini Berbasis Hasil Klinis, Puguh DPRD Jatim Minta Pemerintah Gencarkan Sosialisasi

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:54 WIB

186 Kasus HIV di Kota Malang Jadi Sorotan, Puguh DPRD Jatim Sebut Kondisi Mengkhawatirkan

Senin, 22 Juni 2026 - 22:37 WIB

Gubernur Khofifah Bangga RSUD Dr. Soetomo Jadi Rumah Sakit Terbaik Nasional Versi SCImago 2026

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:49 WIB

Pemadaman Listrik di Jatim Jadi Sorotan, Puguh DPRD Minta Rumah Sakit Diprioritaskan

Berita Terbaru

WhatsApp