Akreditasi Rumah Sakit Kini Berbasis Hasil Klinis, Puguh DPRD Jatim Minta Pemerintah Gencarkan Sosialisasi

Penulis Syaiful Hidayat
Editor -

- Author

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Puguh Wiji Pamungkas. (Dok. Istimewa)

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Puguh Wiji Pamungkas. (Dok. Istimewa)

Surabaya – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana mengubah sistem akreditasi rumah sakit menjadi berbasis hasil klinis (clinical outcome) mendapatkan dukungan dari Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Puguh Wiji Pamungkas. 

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada pemahaman masyarakat terhadap berbagai aturan layanan kesehatan, khususnya mekanisme pelayanan BPJS Kesehatan.

Menurut Puguh, orientasi akreditasi yang menitikberatkan pada hasil klinis merupakan langkah positif karena mendorong rumah sakit meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan pasien, serta kepastian layanan kesehatan bagi masyarakat.

“Saya pikir ini langkah yang bagus sebagai upaya memberikan kepastian dan jaminan pelayanan kepada masyarakat yang berobat di rumah sakit,” ujar Puguh, Selasa (28/7/2026).

Meski demikian, legislator PKS dari Daerah Pemilihan Malang Raya itu menilai tantangan terbesar justru terletak pada masih adanya kesenjangan informasi antara regulasi yang dibuat pemerintah dengan pemahaman masyarakat sebagai pengguna layanan BPJS Kesehatan.

Puguh mencontohkan kebijakan mengenai sejumlah penyakit yang harus ditangani di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan tidak dapat langsung dilayani di rumah sakit. Menurutnya, banyak masyarakat belum memahami mekanisme tersebut sehingga kerap menimbulkan kebingungan saat mencari pelayanan kesehatan.

“Sering kali masyarakat sudah datang ke rumah sakit, tetapi ternyata tidak memenuhi kriteria layanan yang dijamin. Akibatnya mereka harus kembali ke FKTP atau bahkan memilih berobat secara umum. Kondisi seperti ini menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, rumah sakit pada dasarnya hanya menjalankan regulasi yang telah ditetapkan pemerintah dan ketentuan penjaminan BPJS Kesehatan. Karena itu, sosialisasi kebijakan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada rumah sakit.

Menurut Puguh, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan beserta seluruh jajarannya, mulai dari dinas kesehatan provinsi, kabupaten/kota hingga puskesmas, harus lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat setiap kali terdapat perubahan kebijakan.

“Kalau regulasinya jelas dan tujuannya meningkatkan kualitas layanan, tentu kita dukung. Tetapi pemerintah juga harus hadir memberikan sosialisasi secara intensif agar masyarakat memahami kapan layanan BPJS bisa digunakan, kapan harus melalui FKTP, dan bagaimana mekanismenya,” katanya.

Puguh menegaskan, edukasi yang masif akan menjadi jembatan antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan, rumah sakit sebagai penyedia layanan, dan masyarakat sebagai penerima manfaat. Dengan demikian, perubahan sistem akreditasi berbasis clinical outcome tidak hanya meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, tetapi juga menghadirkan kepastian dan kenyamanan bagi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.

“Jangan sampai masyarakat sudah memiliki kartu BPJS tetapi menganggap semua layanan otomatis bisa ditanggung. Di sinilah pentingnya edukasi yang berkelanjutan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara masyarakat, rumah sakit, dan BPJS,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : -

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

186 Kasus HIV di Kota Malang Jadi Sorotan, Puguh DPRD Jatim Sebut Kondisi Mengkhawatirkan
Gubernur Khofifah Bangga RSUD Dr. Soetomo Jadi Rumah Sakit Terbaik Nasional Versi SCImago 2026
Pemadaman Listrik di Jatim Jadi Sorotan, Puguh DPRD Minta Rumah Sakit Diprioritaskan
Puguh Wiji Pamungkas Raih Maklumat Award 2026, Tegaskan Komitmen Perjuangkan Akses Kesehatan Warga Jatim
Surabaya Temukan 4.191 Kasus TBC, Lilik Hendarwati Minta Warga Tidak Panik
Dokter Benjamin DPRD Jatim Prihatin, 7.129 Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Sidoarjo dalam Tiga Bulan
Kasus HIV/AIDS Sidoarjo Naik Signifikan, Ketua Komisi D DPRD Dorong Pemetaan Wilayah Rawan dan Skrining Massal
KRIS BPJS Jadi Perhatian Publik, Suli Da’im Minta Warga Tidak Cemas Soal Iuran dan Hak Pelayanan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:05 WIB

Akreditasi Rumah Sakit Kini Berbasis Hasil Klinis, Puguh DPRD Jatim Minta Pemerintah Gencarkan Sosialisasi

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:54 WIB

186 Kasus HIV di Kota Malang Jadi Sorotan, Puguh DPRD Jatim Sebut Kondisi Mengkhawatirkan

Senin, 22 Juni 2026 - 22:37 WIB

Gubernur Khofifah Bangga RSUD Dr. Soetomo Jadi Rumah Sakit Terbaik Nasional Versi SCImago 2026

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:49 WIB

Pemadaman Listrik di Jatim Jadi Sorotan, Puguh DPRD Minta Rumah Sakit Diprioritaskan

Kamis, 18 Juni 2026 - 00:37 WIB

Puguh Wiji Pamungkas Raih Maklumat Award 2026, Tegaskan Komitmen Perjuangkan Akses Kesehatan Warga Jatim

Berita Terbaru

Firman Syah Ali, anggota Persatuan Bani Bhuju' (PBB) Pamekasan. (Dok. Pribadi)

Citizen Reporter

Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Selasa, 28 Jul 2026 - 14:01 WIB

WhatsApp