Surabaya – Koperasi Difabel Jawa Timur Sejahtera (Kodifa Jawara) menjadi salah satu wadah pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas. Koperasi ini dinilai sebagai langkah konkret untuk mendorong kemandirian ekonomi kelompok disabilitas.
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari mengatakan, ide pembentukan koperasi berangkat dari aspirasi komunitas disabilitas yang menginginkan ruang ekonomi mandiri.
“Mereka bertanya apakah bisa punya wadah ekonomi. Saya jawab bisa, dan akhirnya kita sepakat membentuk Koperasi Difabel Jawa Timur Sejahtera (Kodifa Jawara),” ujar Untari saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (21/4/2026).
Sri Untari menjelaskan, proses pembentukan Kodifa Jawara dilakukan melalui sejumlah pertemuan yang digelar di GADISku Surabaya. Dalam forum tersebut, penyandang disabilitas bersama Dinas Koperasi merumuskan konsep hingga koperasi siap diluncurkan.
“Dalam pertemuan itu, teman-teman disabilitas bersama dinas koperasi merumuskan konsep koperasi sampai akhirnya siap diluncurkan,” jelasnya.
Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan, keterbatasan fisik bukan penghalang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya. Ia menyebut banyak di antara mereka memiliki kemampuan di berbagai bidang, mulai dari penulis, advokat hingga akademisi.
“Artinya ini bukan hambatan. Mereka punya karya dan potensi besar,” kata Sri Untari.
Sri Untari juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam kebijakan disabilitas. Menurutnya, paradigma saat ini bukan lagi berbasis belas kasihan, melainkan pemenuhan hak sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Sebagai bentuk dukungan, pihaknya akan melibatkan Dinas Koperasi untuk mendampingi pengelolaan Kodifa Jawara, mulai dari tata kelola organisasi hingga keuangan.
“Tim dari dinas koperasi akan kami turunkan untuk mendampingi, agar mereka bisa berkembang dan mandiri,” imbuh dia.
Sri Untari menambahkan, Kodifa Jawara nantinya akan difokuskan sebagai koperasi pemasaran yang membantu memasarkan produk karya penyandang disabilitas. Ia juga mendorong masyarakat untuk ikut mendukung, salah satunya dengan menggunakan produk mereka.
“Misalnya sesekali memakai batik karya teman-teman disabilitas sebagai bentuk dukungan moral,” tuturnya.
Sri Untari optimistis potensi ekonomi koperasi tersebut cukup besar, mengingat banyaknya produk kreatif yang dihasilkan penyandang disabilitas. Selain itu, strategi pemasaran berbasis digital juga akan menjadi fokus pengembangan ke depan.
“Kehadiran koperasi ini harus aktif, termasuk memanfaatkan digital marketing agar produknya dikenal lebih luas,” pungkasnya.
Editor : Yoyok











