Surabaya – Kebakaran melanda area dapur gizi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Puguh Wiji Pamungkas, meminta insiden tersebut menjadi momentum memperkuat mitigasi risiko bencana di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan milik Pemprov Jatim.
Kebakaran terjadi pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 14.50 WIB. Api diduga dipicu korsleting arus listrik di bagian atap ruang dapur gizi.
Sebanyak tujuh unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut. Api berhasil dikendalikan sekitar pukul 15.40 WIB.
Puguh menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia juga telah memberikan dukungan kepada jajaran manajemen RSSA agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan optimal.
“Saya turut prihatin atas peristiwa kebakaran yang terjadi di instalasi gizi Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Tentu ini menjadi bagian dari warning bagi kita semua, terutama jajaran instansi pemerintahan di lingkungan Pemprov Jawa Timur,” ujar legislator PKS tersebut dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan klarifikasi Direktur Utama RSSA yang diterima Puguh, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Sementara untuk memenuhi kebutuhan makanan pasien, layanan katering sementara didatangkan dari pihak luar.
Menurut Puguh, keberlangsungan pelayanan rumah sakit harus menjadi perhatian utama setelah terjadi insiden. Kebakaran di area penunjang rumah sakit, kata dia, jangan sampai berdampak terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana kejadian ini tidak mengurangi kualitas layanan kepada masyarakat. Kebutuhan katering pasien sementara diambilkan dari luar. Jangan sampai pelayanan kepada pasien terganggu akibat kejadian ini,” katanya.
Sebagai anggota Komisi E DPRD Jatim yang salah satunya membidangi sektor kesehatan, Puguh menilai kebakaran tersebut menjadi pengingat bagi seluruh fasilitas kesehatan milik Pemprov Jatim untuk melakukan mitigasi risiko secara berkala.
Menurutnya, rumah sakit memiliki karakter pelayanan yang berbeda dengan fasilitas umum lainnya. Selain kualitas pelayanan medis, aspek keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana harus menjadi bagian dari pengelolaan rumah sakit.
“Mitigasi risiko kebencanaan di seluruh instansi, terutama rumah sakit dan layanan kesehatan di Jawa Timur, khususnya milik Pemprov, menjadi sesuatu yang sangat penting. Rumah sakit adalah fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga aspek keselamatan dan mitigasi risiko bencana harus benar-benar diperhatikan,” tegas Puguh.
Ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap potensi risiko kebakaran maupun bencana lainnya di fasilitas kesehatan. Evaluasi tersebut meliputi kondisi instalasi listrik, peralatan, sarana keselamatan, jalur evakuasi, sistem pemadam kebakaran hingga kesiapan petugas menghadapi kondisi darurat.
Puguh juga membuka kemungkinan revitalisasi instalasi gizi RSSA apabila hasil evaluasi menunjukkan terdapat peralatan atau perlengkapan yang sudah tidak layak digunakan.
“Kalau memang dibutuhkan revitalisasi di instalasi gizi, saya pikir harus dipikirkan. Peralatan dan perlengkapan yang memang sudah tidak layak digunakan perlu direvitalisasi sehingga semuanya proper sesuai standar dan menjadi bagian dari proses antisipasi terhadap risiko kebencanaan,” ungkapnya.
Puguh berharap penanganan pascakebakaran tidak hanya berfokus pada pemulihan fasilitas yang terdampak. Evaluasi dan perbaikan sistem, menurutnya, juga harus dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Ini bukan hanya soal memulihkan fasilitas yang terbakar, tetapi bagaimana kita memastikan seluruh sistem keselamatan di rumah sakit semakin baik. Jangan sampai ada potensi risiko yang sebenarnya bisa kita mitigasi sejak awal,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat