Gubernur Khofifah Kunjungi Pusat Riset Stem Cell dan Kanker SCCR Indonesia di Semarang

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful Hidayat

- Author

Senin, 14 September 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. (Dok. Humas Pemprov)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. (Dok. Humas Pemprov)

Semarang – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan riset dan inovasi kesehatan agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium.

Hal itu disampaikannya saat mengunjungi PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (13/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah melihat langsung fasilitas penelitian dan teknologi kesehatan yang dikembangkan SCCR Indonesia, termasuk riset terapi sel punca atau stem cell serta penelitian kanker.

Khofifah mengatakan kunjungan itu memberikan pembelajaran mengenai pentingnya menghubungkan riset, teknologi, kepakaran, dan pelayanan kesehatan dalam satu ekosistem.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan proses pembelajaran yang luar biasa. Kami diperkenalkan dengan berbagai alat kesehatan dan alat-alat laboratorium kesehatan yang menurut saya super-super canggih,” kata Khofifah dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Menurut Khofifah, kemampuan menghasilkan riset harus berjalan beriringan dengan proses hilirisasi. Dengan begitu, hasil penelitian dapat diterapkan menjadi layanan medis yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Keberanian melakukan hilirisasi hingga hasil penelitian benar-benar dapat diterapkan menjadi layanan medis yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Khofifah menilai SCCR Indonesia menjadi salah satu contoh bahwa kemampuan anak bangsa dalam bidang kedokteran dan teknologi kesehatan telah berkembang. Selain menghasilkan penelitian, pusat riset tersebut juga telah mengimplementasikan hasil penelitian untuk mendukung layanan medis.

Ia menekankan kemajuan riset kesehatan tidak akan memberikan dampak maksimal jika hanya berhenti di ruang laboratorium. Hasil penelitian perlu memiliki jalur untuk dikembangkan dan diterapkan kepada masyarakat.

“Bagaimana sesungguhnya anak di negeri ini melalui Stem Cell and Cancer Research Indonesia yang ada di Semarang ini ternyata sudah memberikan hasil riset yang luar biasa, sudah diimplementasikan luar biasa, sudah memberikan layanan yang luar biasa,” tuturnya.

Khofifah juga mengaitkan penguatan riset dan layanan kesehatan berbasis teknologi dengan upaya meningkatkan kemandirian kesehatan nasional. Menurutnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang memilih mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri.

Kondisi tersebut turut berdampak pada perekonomian karena biaya pengobatan masyarakat Indonesia di luar negeri membuat devisa mengalir ke negara lain.

“Sebetulnya tidak terhitung berapa devisa yang harus keluar negeri, ratusan triliun, untuk pengobatan bangsa ini, masyarakat Indonesia yang sudah mempercayakan proses layanan kesehatannya ke berbagai rumah sakit di luar negeri,” jelas Khofifah.

Karena itu, dia mendorong pengembangan pusat riset kesehatan di dalam negeri mendapat dukungan lebih luas. Pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dunia usaha, pusat penelitian, dan para pakar dinilai perlu memperkuat kolaborasi.

Khofifah menyebut Jawa Timur memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem riset kesehatan tersebut. Jawa Timur memiliki banyak perguruan tinggi, rumah sakit, tenaga kesehatan, industri, pusat penelitian, serta sumber daya manusia yang dapat dikoneksikan.

“Bahkan dari banyak pakar dari perguruan tinggi, perguruan tinggi world class university juga hadir di sini. Tentu tidak sekadar sebagai researcher, tetapi bagaimana proses untuk memberikan layanan dari hasil riset itu bisa dirasakan oleh masyarakat lebih luas lagi,” katanya.

Menurutnya, keterhubungan antara peneliti dan dunia pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi. Hasil penelitian harus memiliki ruang untuk dikembangkan, diuji, dan diterapkan secara bertanggung jawab.

Pengalaman melihat langsung pengembangan riset stem cell di SCCR Indonesia, lanjut Khofifah, menjadi perspektif penting bagi Jawa Timur dalam memperkuat kolaborasi riset kesehatan.

“Kita semua mendorong, mendukung bagaimana para expertise di bidang teknologi stem cell di Semarang ini bisa terus mendapatkan ruang untuk mendedikasikan seluruh ilmu yang bisa dirasakan manfaatnya lebih luas lagi oleh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Khofifah bahkan melihat potensi pusat riset dan layanan stem cell di Indonesia untuk berkembang menjadi rujukan di tingkat regional. Menurutnya, penguatan kapasitas riset, teknologi, sumber daya manusia, dan layanan medis dapat membuka peluang Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi kesehatan di kawasan.

“Dari proses perencanaan ke depan rasanya ini bisa menjadi center of gravity dari proses pelayanan stem cell tidak hanya di Indonesia, tidak hanya di ASEAN, tapi juga di sangat banyak negara akan melihat bahwa anak bangsa ini sudah melahirkan hasil-hasil riset yang luar biasa di bidang kedokteran, terutama, dan sudah memberikan layanan medik yang luar biasa,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan pentingnya memastikan hasil penelitian dapat diimplementasikan untuk mendukung pelayanan kesehatan.

“Jadi bukan hanya risetnya, tapi juga hasil risetnya sudah diimplementasikan dengan memberikan layanan yang luar biasa,” kata Khofifah.

Khofifah berharap pengembangan riset kesehatan berbasis teknologi tinggi terus mendapat dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan para pakar. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Dan tentu kita terus doakan tempat ini terus berkembang dan sukses ke depannya,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wamenkes-Wamendagri Hadiri Deklarasi Siaga TB, Pemkab Sidoarjo Dapat Bantuan Bangun 15 Puskesmas
Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Potensi Influenza A, Dinkes Diminta Perkuat Antisipasi
Influenza Merebak di Jatim, Puguh DPRD Dorong Dinkes Perkuat Pencegahan
FPKS DPRD Jatim Dorong Ekosistem Obat Bahan Alam yang Terintegrasi dan Berbasis Riset
Kebakaran Dapur Gizi RSSA Malang, Puguh DPRD Jatim Dorong Mitigasi Risiko Diperkuat
Gubernur Khofifah Kembali Beri Kado HUT Ke-81 RI, Medical Check Up di RS Paru Manguharjo Gratis 100 Persen
Akreditasi Rumah Sakit Kini Berbasis Hasil Klinis, Puguh DPRD Jatim Minta Pemerintah Gencarkan Sosialisasi
186 Kasus HIV di Kota Malang Jadi Sorotan, Puguh DPRD Jatim Sebut Kondisi Mengkhawatirkan
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 19:00 WIB

Wamenkes-Wamendagri Hadiri Deklarasi Siaga TB, Pemkab Sidoarjo Dapat Bantuan Bangun 15 Puskesmas

Selasa, 22 September 2026 - 23:10 WIB

Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Potensi Influenza A, Dinkes Diminta Perkuat Antisipasi

Selasa, 22 September 2026 - 10:40 WIB

Influenza Merebak di Jatim, Puguh DPRD Dorong Dinkes Perkuat Pencegahan

Senin, 14 September 2026 - 20:07 WIB

Gubernur Khofifah Kunjungi Pusat Riset Stem Cell dan Kanker SCCR Indonesia di Semarang

Jumat, 11 September 2026 - 14:43 WIB

FPKS DPRD Jatim Dorong Ekosistem Obat Bahan Alam yang Terintegrasi dan Berbasis Riset

Berita Terbaru

WhatsApp