Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengajak Universiti Malaya menjalin kemitraan strategis dengan perguruan tinggi dan pondok pesantren di Jawa Timur untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Kolaborasi itu diharapkan mampu meningkatkan daya saing ekonomi syariah Indonesia dan Malaysia di tingkat global.
Ajakan tersebut disampaikan Emil saat menerima delegasi Universiti Malaya dalam program Nusantara Shariah and Economics Exchange (N-See) di Ruang Bhinaloka Adikara, Kantor Gubernur Jawa Timur, Rabu (5/8/2026).
Emil menilai Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, serta rumpun bahasa yang menjadi modal kuat untuk memperluas kerja sama, khususnya di sektor ekonomi syariah.
“Saya melihat Indonesia dan Malaysia tidak perlu berkompetisi dalam ekonomi syariah. Justru kita harus berkolaborasi. Malaysia memiliki pengalaman yang sangat baik, sementara Jawa Timur memiliki ekosistem yang lengkap. Jika kedua kekuatan ini dipertemukan, saya yakin kita dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kemasyuran ekonomi syariah di mata dunia,” ujar Emil dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Sebagai Ketua Harian Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jawa Timur, Emil menyebut provinsi ini memiliki modal besar berupa 7.425 pondok pesantren yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Jaringan pesantren tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan ekonomi syariah di daerah.
Menurut Emil, pesantren kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga berpotensi menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui program Ekotren (Ekonomi Pesantren), Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong pesantren mengembangkan ekosistem halal. Upaya itu dilakukan melalui penguatan koperasi syariah, pengembangan UMKM halal, industri halal, hingga peningkatan kapasitas kewirausahaan santri.
Emil mengatakan ekosistem yang telah terbentuk akan semakin kuat jika diperluas melalui kemitraan internasional, termasuk dengan Universiti Malaya yang memiliki rekam jejak dalam pengembangan ekonomi syariah.
“Malaysia memiliki keunggulan dalam pengembangan ekonomi syariah, sementara Jawa Timur memiliki ekosistem yang sangat kuat. Karena itu, kami ingin hubungan ini tidak hanya berhenti pada pertukaran akademik, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan ekosistem halal,” katanya.
Untuk merealisasikan kerja sama tersebut, Emil menawarkan kemitraan antara Universiti Malaya dengan sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur, seperti Universitas Airlangga (Unair), UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), serta kampus lain yang memiliki fokus pada ekonomi dan keuangan syariah.
Kerja sama itu dapat diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, pengembangan kurikulum, hingga pendampingan inkubasi bisnis syariah yang melibatkan perguruan tinggi, pesantren, dan dunia usaha.
“Kalau kita berjalan bersama, bukan hanya perguruan tinggi yang memperoleh manfaat, tetapi juga masyarakat. Hasil riset dapat diterapkan untuk memperkuat UMKM, industri halal, hingga meningkatkan kesejahteraan umat. Partnership seperti inilah yang ingin terus kita bangun,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -