Surabaya – Gagasan otonomi berkeadilan yang diusung Senator DPD RI, Lia Istifhama, tidak hanya berhenti pada konsep kebijakan. Lebih dari itu, ia menghadirkan pendekatan humanis dengan menjadikan generasi muda sebagai pilar utama keberlanjutan ekonomi daerah.
Dikenal lantang dalam menyuarakan isu strategis, Lia tetap mampu menjaga keseimbangan dengan pendekatan yang anggun dan merangkul, khususnya kepada generasi Z. Ia menyadari, masa depan demokrasi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif anak muda.
Sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia melalui Badan Pengkajian, Lia aktif hadir dalam berbagai forum diskusi, baik tingkat nasional maupun daerah. Namun, yang membedakan, ia tidak membatasi ruang dialog hanya pada forum formal. Ia justru kerap turun langsung ke kampus, komunitas, hingga ruang-ruang kecil generasi muda.
“Pantang menolak undangan” menjadi prinsip yang melekat pada dirinya. Hampir setiap undangan dari mahasiswa, aktivis, hingga komunitas lokal direspons dengan kehadiran langsung. Baginya, menyerap aspirasi tidak harus menunggu forum besar, tetapi bisa dimulai dari ruang sederhana.
Pendekatan tersebut membuatnya dikenal sebagai politisi tanpa jarak. Ia tidak mempersoalkan jumlah audiens, melainkan kualitas dialog yang terbangun. Dari forum besar hingga diskusi tingkat program studi, Lia konsisten hadir dan membuka ruang komunikasi dua arah.
Tak heran, kiprahnya mendapat apresiasi luas, termasuk dari kalangan muda. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai Politisi idola Gen Z oleh Radar Surabaya, berkat intensitasnya menyapa mahasiswa dan aktivis pergerakan.
Meski kritis, Ning Lia menegaskan pentingnya menjaga etika dalam demokrasi. Ia kerap mengingatkan generasi muda bahwa kebebasan berpendapat harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga persatuan bangsa.
“Kita boleh bersuara, tapi tidak ada ruang untuk provokasi. Karena generasi mendatang berhak hidup damai dan aman,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.
Menurutnya, generasi muda bukan sekadar penerus, melainkan agen utama dalam menjaga keberlanjutan bangsa. Oleh karena itu, konsep otonomi berkeadilan yang ia dorong juga harus memberi ruang luas bagi partisipasi anak muda dalam pembangunan daerah.
Sementara itu, salah satu anak muda Fajar Yulianto kagum dengan sosok Lia Istifhama. Menurutnya, Ning Lia berhasil memadukan keberanian bersuara dan kemampuan merangkul.
“Ning Lia menghadirkan wajah politik yang tidak hanya tegas secara gagasan, tetapi juga hangat dalam pendekatan. Sebuah kombinasi yang dinilai relevan untuk menjawab tantangan demokrasi dan ekonomi berkelanjutan di masa depan,” katanya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -