Surabaya – Kiprah Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, menyambangi sejumlah perguruan tinggi mendapat perhatian kalangan mahasiswa. Kehadirannya di lingkungan kampus tidak sekadar mengisi diskusi maupun kuliah umum, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman tentang kepemimpinan, politik, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Ning Lia tercatat meraih 2.739.123 suara pada Pemilu 2024. Capaian tersebut menempatkannya sebagai senator perempuan nonpetahana dengan perolehan suara tertinggi secara nasional. Pengalaman itu menjadi salah satu bekal bagi Ning Lia untuk berbagi perspektif mengenai dinamika politik, representasi masyarakat, dan proses pengambilan kebijakan publik kepada generasi muda.
Sejumlah perguruan tinggi yang pernah menjadi tempat Ning Lia berbagi pengalaman di antaranya Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Islam Madura (Unira), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Universitas Wiraraja Sumenep, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, hingga sejumlah politeknik dan kampus lainnya.
Kehadirannya di lingkungan akademik membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk berdialog langsung dengan praktisi yang terlibat dalam dunia politik dan kebijakan publik.
Ketua BEM FISIP Untag Surabaya Awaludin Kahar menyampaikan apresiasi atas kesediaan Ning Lia berbagi ilmu dan pengalaman dengan mahasiswa. Menurutnya, perjalanan Ning Lia menjadi pembelajaran bahwa politik tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan, tetapi juga keberanian mengambil peran dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kehadiran Ibu Lia Istifhama menjadi kesempatan berharga bagi kami untuk belajar tentang kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai Anggota DPD RI Dapil Jawa Timur dengan perolehan 2,7 juta suara, beliau menjadi salah satu sosok yang menginspirasi generasi muda untuk berani mengambil peran dalam dunia politik,” ungkap Awaludin dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Ia menilai, perjalanan Ning Lia di dunia politik juga memberikan pelajaran tentang pentingnya membangun kedekatan dengan masyarakat. Pendekatan komunikasi yang humanis dan keterbukaan terhadap berbagai kalangan menjadi hal yang menarik untuk dipelajari mahasiswa.
Awaludin juga menyoroti penghargaan Politisi Humanis Indonesia yang diterima Ning Lia. Menurutnya, politik semestinya tidak hanya dipahami sebagai upaya meraih kekuasaan, tetapi juga menyangkut kepedulian, kesediaan mendengarkan aspirasi, dan komitmen memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Dari Ning Lia kita belajar bahwa politik bukan hanya sekadar jabatan, tetapi tentang kepedulian, kesediaan mendengarkan aspirasi, dan upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Dia berharap Ning Lia terus mendapat ruang untuk memperluas kontribusinya bagi masyarakat Jawa Timur. Awaludin juga berharap semakin banyak kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat dalam proses pembangunan dan kehidupan demokrasi.
Sementara itu, Ning Lia menekankan pentingnya kesiapan generasi muda, termasuk Gen Z dan Generasi Alpha, dalam menghadapi tantangan kepemimpinan masa depan. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menguasai pengetahuan dan mampu menyampaikan gagasan. Mereka juga harus memiliki kemampuan membaca persoalan, menawarkan solusi, serta mengembangkan empati sosial.
Senator asal Jawa Timur itu menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak calon pemimpin yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Salah satu nilai yang perlu diperkuat dalam menyiapkan pemimpin masa depan adalah meritokrasi. Prinsip ini menempatkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas sebagai dasar seseorang memperoleh kesempatan maupun kepercayaan.
“Gagasan meritokrasi menempatkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas sebagai dasar seseorang memperoleh posisi atau kepercayaan. Dengan prinsip ini, kesempatan berkiprah di dunia legislatif tidak semestinya hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kekayaan, kedekatan politik, atau latar belakang tertentu,” kata Ning Lia yang juga putri KH Masykur Hasyim tersebut.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat