Mempertanyakan Analisis CSIIS Tentang Calon Ketum PBNU

Editor Yoyok

- Author

Rabu, 22 April 2026 - 17:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Panglima Nadhliyin Bergerak Firman Syah Ali. (Foto: Istimewa)

Panglima Nadhliyin Bergerak Firman Syah Ali. (Foto: Istimewa)

Editor: Yoyok

Oleh Firman Syah Ali *)

Hari ini, Direktur CSIIS Dr Sholeh Baasyari (SB) menulis opini di duta.co tentang titik kompromi KH A Muhaimin Iskandar (AMI) dan H Nusron Wahid (NW) dalam suksesi PBNU 2026.

Analisis SB tersebut didasarkan pada pertemuan Anre Gurutta Nasaruddin Umar (NU), AMI, dan NW pada resepsi  Harlah dan Halal bi Halal PB IKA PMII di Grand Mercure Kemayoran Jakarta, hari minggu tanggal 19 April 2026.

SB menyebut pertemuan tersebut penuh nuansa “konsolidasi”, di mana  ketiga tokoh NU di pemerintahan tersebut (terutama AMI dan NW), secara agitatif “menyerang” kepengurusan PBNU sekarang, serta menginginkan Kepengurusan yang akan datang dipimpin oleh tokoh PMII.

Setelah itu SB menganalisis dan memprediksi beberapa nama kandidat sebagai titik kompromi tokoh-tokoh otoritatif tersebut. Sayangnya tokoh yang dibedah oleh SB diduga bukan tokoh PMII. Seandainya pernah ikut Mapaba PMII, setidaknya ketokohannya kurang otoritatif dan kurang populer di PMII.

Penulis hadir dalam kegiatan Halal Bi Halal yang dimaksud oleh SB dalam tulisannya di duta.co. Suasana kebatinan yang ditangkap oleh penulis adalah keinginan kolektif untuk menjadikan NU sebagai rumah bersama alumni PMII.

Dengan keinginan kolektif seperti itu, menurut hemat penulis sebaiknya Calon Ketum dan Sekjen yang muncul adalah tokoh PMII. Ketum dan Sekjen adalah Ahlul Balad nantinya di PBNU. Jika Ahlul Baladnya kader PMII, maka sesuai semangat forum di Grand Mercure, PMII datang ke situ tidak lagi diperlakukan seperti tamu. Bang Andi Jamaro ya tidak diperlakukan seperti tamu. Mas Endin AJ Soefihara ya jadi tuan rumah sebagaimana beberapa era ke-PBNU-an sebelumnya.

Namun SB sempat menyebut satu nama dari figur PMII minded yaitu KH Marzuki Mustamar (MM). Setelah dpuji sebagai faqih, kemudian MM dimentahkan sebagai tokoh yang kurang laku cabang-cabang NU gara-gara keterlibatannya dalam polarisasi nasab Ba’alawi kontemporer dalam berbagai kesempatan, berkelindan dengan PWI-LS. Terus terang penulis kurang setuju dengan analisis ini, karena pro kontra Nasab Ba’alawi sama sekali tidak diperhitungkan dalam kontestasi Calon Catur Sagotra (empat pimpinan utama) NU 2026.

BACA JUGA  Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Kembali ke laptop, menurut penulis sebaiknya PB IKA PMII mulai mendata nama tokoh-tokoh PMII yang punya potensi besar untuk maju dalam Muktamar NU. Diantara nama-nama tersebut adalah KH Said Aqil Siradj, H Nusron Wahid, Gus Yusuf Chudori, Andi Jamaro Dulung, Anre Gurutta Nasaruddin Umar dan banyak lagi nama lainnya. Intinya PMII kaya figur, tidak kekurangan sosok untuk menjadi nakhoda utama NU ke depan. Tentu saja kita punya satu misi yang sama, yaitu penyelamatan NU.

Setelah data tersebut ditabulasi, kemudian dimapping potensi dan kelemahannya masing-masing. Bagaimana modal basis dukungan, modal genealogis, modal intelektual dan moral serta modal jalur langit dari masing-masing Bakal Calon.

Proses berikutnya tentu saja penentuan 5 besar Calon Rois Aam-Katib Aam dan 5 Besar Calon Ketum-Sekjen. Sepuluh nama ini kemudian dimatangkan lebih lanjut oleh para senior PMII untuk kemudian disepakati 4 nama dan kemudian kita dukung dengan kompak, solid dan penuh semangat.

Demikian catatan kecil sebagai percikan pemikiran penulis untuk masa depan NU yang lebih baik. Semoga bermanfaat. Terima kasih dan wallahu a’lamu.

*) Firman Syah Ali, penulis adalah Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK)

Editor : Yoyok

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029
Teori Pohon Khidmat NU
Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas
Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU
Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”
Diaspora Madura Menggagas Studi Tiru ke Maldives
Getaran Nasionalisme dalam Haul Khotib Parangghan Sumenep
Transformasi Petani di Tengah Sengatan Konflik Global
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:29 WIB

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Jumat, 4 September 2026 - 05:23 WIB

Teori Pohon Khidmat NU

Rabu, 2 September 2026 - 11:40 WIB

Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas

Selasa, 1 September 2026 - 20:33 WIB

Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:20 WIB

Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”

Berita Terbaru

WhatsApp