Sidoarjo – Upaya mengenalkan potensi kearifan lokal Sidoarjo dilakukan melalui workshop menulis pantun di Lippo Plaza Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan yang diikuti 30 peserta dari berbagai kalangan ini menjadi salah satu upaya memperkuat literasi sekaligus mempromosikan kekayaan budaya daerah.
Workshop tersebut merupakan rangkaian kegiatan Out of the Boox: Gebyar Literasi Sidoarjo 2026 dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Kegiatan ini digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Sidoarjo bekerja sama dengan Penerbit Mizan.
Direktur CV Karya Puspita Publishing, Ely Puspitaningrum mengatakan workshop tersebut tidak hanya mengajarkan teknik dasar penulisan pantun, tetapi juga mendorong peserta mengangkat potensi kearifan lokal sebagai inspirasi berkarya.
Menurutnya, pantun bertema kearifan lokal memiliki karakteristik tersendiri karena dapat mengangkat berbagai potensi daerah, mulai dari destinasi wisata, budaya, tradisi, hingga kekayaan sejarah Sidoarjo.
“Dasar penulisan pantun tetap harus dipahami terlebih dahulu. Satu bait terdiri dari empat baris, dengan dua baris pertama sebagai sampiran dan dua baris berikutnya sebagai isi. Polanya juga harus memperhatikan rima AB-AB,” ujarnya.
Setelah memahami struktur pantun, peserta diajak menggali berbagai potensi yang dimiliki Sidoarjo. Mulai dari destinasi wisata, situs bersejarah, budaya, hingga tradisi masyarakat yang dapat diangkat menjadi sampiran maupun isi pantun.
Ely menilai, pengenalan kearifan lokal melalui pantun menjadi salah satu cara kreatif untuk memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda.
“Potensi daerah harus terus digali dan dipromosikan. Dengan begitu, masyarakat semakin mengenal destinasi dan kekayaan budaya yang dimiliki Sidoarjo. Tradisi dan kebudayaan juga harus terus digaungkan agar diketahui generasi penerus,” jelasnya.
Dalam workshop tersebut, setiap peserta juga mendapat tugas membuat 12 pantun. Karya yang dihasilkan nantinya akan dikumpulkan dan melalui proses kurasi sebelum diterbitkan menjadi buku antologi pantun bertema kearifan lokal Sidoarjo.
Ely menjelaskan, proses kurasi dilakukan untuk memastikan setiap pantun memiliki struktur yang tepat, keterkaitan antara sampiran dan isi, serta pesan yang ingin disampaikan. Orisinalitas karya juga menjadi perhatian agar pantun yang diterbitkan tidak sekadar mengulang karya yang sudah ada.
“Kami ingin peserta tidak berhenti setelah mengikuti workshop. Mereka tetap belajar bersama dan menghasilkan karya. Harapannya, pantun-pantun tersebut bisa ikut mengangkat nama dan potensi Kabupaten Sidoarjo,” katanya.
Rencananya, buku antologi tersebut akan diluncurkan setelah seluruh karya selesai melalui proses kurasi dan penyuntingan. Panitia juga membuka peluang memberikan apresiasi kepada tiga peserta dengan karya terbaik.
“Selain berkesempatan karyanya diterbitkan dalam buku antologi, peserta akan mendapatkan e-sertifikat workshop dari Disperpusip. Sementara peserta yang karyanya terpilih untuk diterbitkan berpeluang memperoleh sertifikat dan buku fisik,” imbuhnya.
Melalui kegiatan ini, workshop menulis pantun diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar bagi peserta, tetapi juga melahirkan karya literasi yang dapat menjadi media promosi budaya, tradisi, dan potensi lokal Kabupaten Sidoarjo.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat