Adi Prayitno: Presiden Tak Bisa Diturunkan di Tengah Jalan, Masyarakat Tunggu Pemilu

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful Hidayat

- Author

Senin, 7 September 2026 - 22:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno. (Dok. Istimewa)

Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno. (Dok. Istimewa)

Digitaljatim.com – Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai masyarakat perlu memahami sistem presidensialisme yang diterapkan di Indonesia. Salah satunya terkait posisi presiden yang tidak bisa begitu saja diturunkan di tengah masa jabatan.

Menurutnya, terdapat dua hal yang perlu dipahami yakni dari sisi konseptual dan teori serta berdasarkan data survei terkait wacana pergantian presiden di tengah masa jabatan.

“Saya ingin ngomong dua hal. Pertama dari segi konseptual dan teori. Dalam sistem presidensialisme, maka presiden terpilih itu haram hukumnya diturunkan di tengah jalan,” kata Adi dalam video yang dikutip dari akun TikTok @komunitas.omerta, Senin (7/9/2026).

Pengamat Politik itu menjelaskan, dalam sistem presidensialisme, masyarakat yang tidak puas dengan pemerintahan memiliki mekanisme melalui pemilu. Jika tidak setuju dengan kebijakan maupun kepemimpinan presiden, masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilu berikutnya.

“Ada istilah yang disebut dengan victim. Jadi kalau pun kecewa, mau marah, gundah-gulana terhadap yang sedang berkuasa, tunggu lima tahun untuk mengganti. Kalau setuju, pilih,” ujarnya.

Adi membandingkan sistem presidensialisme dengan sistem parlementer. Dalam sistem parlementer, posisi perdana menteri sangat bergantung pada dukungan parlemen.

“Kalau tidak setuju dan kecewa, jangan pilih. Itu logika dalam sistem presidensialisme. Agak berbeda dengan sistem parlamentarisme, dimana seorang pemimpin, perdana menteri dipilih oleh parlemen,” jelasnya.

Menurut Adi, sistem parlementer memungkinkan terjadinya tarik-menarik kepentingan antara parlemen dan pemerintahan. Kondisi tersebut dapat memicu kebuntuan politik atau deadlock ketika dukungan politik terhadap pemerintah berubah.

“Itu sering terjadi deadlock. Jadi yang memilih DPR ataupun parlemen dengan perdana menteri itu juga dianggap memiliki power yang sama. Makanya dalam sistem parlamentarisme, sistem politiknya agak kacau dan gaduh,” tuturnya.

BACA JUGA  Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja

Sementara itu, dalam sistem presidensialisme, presiden memiliki masa jabatan yang telah ditentukan. Karena itu, kata Adi, pergantian presiden tidak dapat dilakukan hanya karena ketidakpuasan politik di tengah masa jabatan.

“Dalam sistem presidensialisme, agak rumit sebenarnya untuk menjelaskan secara teori. Tidak bisa diturunkan di tengah jalan,” katanya.

Selain menjelaskan dari sisi teori, Adi juga mengungkap hasil survei Parameter Politik Indonesia yang dilakukan pada Juli 2026. Berdasarkan survei tersebut, mayoritas masyarakat disebut tidak setuju dengan upaya menurunkan presiden sebelum masa jabatannya berakhir.

“Yang kedua, data survei saya di bulan Juli 2026, ada sekitar 67 persen masyarakat yang tidak setuju jika ada upaya untuk menurunkan presiden di tengah jalan,” ungkapnya.

Ia menyebut angka tersebut berasal dari survei yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Adi mengatakan pihaknya dapat menunjukkan bukti hasil survei tersebut apabila diperlukan.

“67 persen? Itu kredit rupiah kapan ya? Juli, beberapa bulan yang lalu. Kalau nanti butuh kita kirimkan screenshot-nya,” imbuh dia.

Adi menambahkan, hanya sekitar 14–15 persen responden yang menyatakan setuju dengan upaya menurunkan presiden di tengah masa jabatan, dengan berbagai alasan.

“Hanya ada sekitar 14–15 persen yang setuju dengan alasan apa pun,” pungkasnya. 

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri
Raperda Tibumtranmas Linmas Dibahas, Rizza DPRD Sidoarjo Soroti Bullying hingga Gangster Pelajar
Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja
Belajar dari Kasus Tanah Fasum Sidoarjo, Sriatun DPRD Jatim Tekankan Digitalisasi Aset Desa
Ning Lia Apresiasi Transformasi Digital Pengadilan Tinggi Surabaya, Layak Jadi Percontohan Nasional
Gerakan Indonesia ASRI, PC TIDAR Sidoarjo Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Hidup
Dukung Gerakan Indonesia ASRI, DPC Partai Gerindra Sidoarjo Hijaukan Hutan Kota dan Bersihkan Sungai
Hadiri Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-81 Jatim, Senator Lia Sebut Jatim Bangunan Politik Humanis
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Raperda Tibumtranmas Linmas Dibahas, Rizza DPRD Sidoarjo Soroti Bullying hingga Gangster Pelajar

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:39 WIB

Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Belajar dari Kasus Tanah Fasum Sidoarjo, Sriatun DPRD Jatim Tekankan Digitalisasi Aset Desa

Minggu, 18 Oktober 2026 - 04:10 WIB

Ning Lia Apresiasi Transformasi Digital Pengadilan Tinggi Surabaya, Layak Jadi Percontohan Nasional

Berita Terbaru

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau pelaksanaan khitanan massal dan cek kesehatan gratis (CKG) di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan

Jumat, 23 Okt 2026 - 03:31 WIB

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan. (Dok. Syaiful)

Pemerintahan dan Kebijakan

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Kamis, 22 Okt 2026 - 23:53 WIB

WhatsApp