Jakarta – Mantan Calon Wakil Presiden RI Mahfud MD menyampaikan ucapan dan pesan dalam Haul ke-526 Kiai Agung Rabah Pamekasan dan Hari Lahir (Harlah) Pondok Pesantren Syaikh Abdurrahman Rabah, Sumedangan, Pademawu, Pamekasan.
“Assalamualaikum Wr Wb, Saya Mohammad Mahfud MD, Putera Madura, mengucapkan selamat dan sukses atas penyelenggaraan Haul Kiai Agung Rabah ke-526 dan Harlah Pondok Pesantren Syaikh Abdurrahman Rabah. Semoga nilai-nilai perjuangan Syaikh Abdurrahman Rabah dan perjuangan Pondok Pesantren Rabah senantiasa dipelihara oleh keluarga dan keturunannya, sehingga nilai-nilai tersebut berkontribusi positif dalam kemajuan masyarakat Indonesia, dan mendorong peran serta Madura untuk menyongsong peradaban Indonesia yang lebih maju. Wassalamualaikum Wr Wb”, ucapnya di Studio Terus Terang dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/6/2026).
Kiai Agung Rabah adalah salah satu Waliyullah Madura yang secara genealogis merupakan keturunan Sunan Kudus dari jalur Kiai Mandaraga dan Kiai Bukabu Sumenep.
Menurut pegiat Persatuan Bani Bhuju’ (PBB) Firman Syah Ali, Kiai Agung Rabah tidak punya putera, tapi warisan spiritual, intelektual dan perjuangannya diteruskan oleh keponakan kandungnya.
“Kiai Agung Rabah tidak mempunyai putera, tapi nilai spiritual, intelektual dan dakwahnya diwariskan kepada keponakan kandungnya, Kiai Adil. Kiai Adil ini kemudian dijuluki sebagai Bhuju’ Rabah II, sebagai penerus Kiai Agung Rabah. Keturunan Kiai Adil inilah yang kemudian oleh masyarakat disebut sebagai Potoh Rabah,” ucap Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.
Menurutnya, Kiai Adil adalah putera dari saudara kandung Kiai Agung Rabah yang bernama Dewi Asri.
“Kiai Adil alias Bhuju’ Rabah II adalah putera dari saudara kandung Kiai Agung Rabah yang bernama Dewi Asri. Dewi Asri menikah dengan salah satu keluarga dekatnya yang bernama Kiai Abdul Qidam. Dalam tradisi Bani Walisongo, sangat tidak mungkin seorang Kyai/Nyai menikah dengan keluarga jauh, mereka istiqomah melakukan Endogami, yaitu praktik pernikahan dengan saudara dekat,” imbuh Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP).
Menurutnya, pernikahan antara Dewi Asri dengan Kiai Abdul Qidam Arsojih, oleh Allah diijinkan menurunkan Raja-raja, tokoh negarawan dan Ulama besar.
“Alhamdulillah, buah pernikahan Dewi Asri dengan Kiai Abdul Qidam Arsojih, oleh Allah dijinkan menurunkan raja-raja, negarawan dan ulama besar. Diantara keturunanya adalah Bindere Saot, pembuka dinasti terakhir Kerajaan Sumenep, KH As’ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional RI, serta Mahfud MD, Mantan Calon Wakil Presiden RI,” kata Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK).
Karena para Raja dan Kiai dahulu berendogami, maka keturunan Kiai Abdul Qidam banyak yang juga sekaligus merupakan keturunan ulama/raja lainnya.
“Karena para Raja dan Kiai dulu berendogami, maka garis genealoginya bercabang kemana-mana, artinya keturunan Kiai Abdul Qidam bisa juga sekaligus merupakan keturunan dari raja-raja dan kiai lainnya. Contoh, Prof Mahfud MD. Prof Mahfud MD selain merupakan Keturunan Kiai Abdul Qidam, juga merupakan Keturunan Bhuju’ Agung Toronan, Bhuju’ Macan Alas, Bhuju’ Azhar Seda Bulangan, Raja-raja Mataram, Sunan Cendana, Pangeran Katandur dan banyak lagi lainnya. Catatan lengkap ada di para munsib otoritatif seperti NAAT, Raden Abdul Hamid Suryodirjo Palalang, Raden Sufandi Carek Samaator dan lain-lainnya,” imbuh Aktivis ’98.
Melanjutkan pesan Mahfud MD, Ia meminta Potoh Rabah mewarisi api, bukan abu.
“Menyimak pesan Prof Mahfud MD itu, kita para potoh Rabah hendaknya mewarisi api dari nilai dan perjuangan Kiai Agung Rabah, bukan mewarisi abu. Jangan hanya warisi nasabnya, tapi warisi tirakatnya, warisi dakwahnya,” pungkas Ketua Umum Solidaritas Masyarakat Membangun Pamekasan Sejahtera (Sorban Mera).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok
Sumber Berita: digitaljatim.com












