Kiai Ma’ruf Khozin Soroti Pemberitaan Muktamar ke-35 NU: Kegiatan Positif Kalah Viral dari Demo

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful

- Author

Selasa, 1 September 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kiai muda NU Jawa Timur KH. Ma'ruf Khozin. (Dok. Istimewa)

Kiai muda NU Jawa Timur KH. Ma'ruf Khozin. (Dok. Istimewa)

Surabaya – Kiai Muda Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin menyoroti pemberitaan mengenai Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Menurutnya, sejumlah kegiatan positif dalam rangkaian muktamar justru kalah viral dibanding pemberitaan mengenai aksi demonstrasi.

Hal itu disampaikan Kiai Ma’ruf melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Minggu (30/8/2026). Ia mengaku sengaja berjalan kaki berkeliling kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum untuk melihat langsung berbagai kegiatan yang berlangsung selama muktamar.

“Saya sengaja banyak berjalan kaki keliling Pondok Tambakberas Jombang, tempat perhelatan Muktamar NU ke-35. Bagi saya ini sangat tepat dengan nama pesantren, Bahrul Ulum, lautan ilmu. Sebab acara Muktamar ini dipenuhi dengan kajian ilmu,” ujar Kiai Ma’ruf, Selasa (1/9/2026).

Ia menyebut salah satu agenda resmi Muktamar NU ke-35 adalah Bahtsul Masail, forum kajian dan pembahasan persoalan fikih di lingkungan NU. 

“Forum tersebut terbagi menjadi tiga majelis, yakni Komisi Waqi’iyah yang membahas persoalan fikih aktual, Komisi Maudhuiyyah untuk fikih konseptual, serta Komisi Qonuniyah yang membahas fikih terkait perundang-undangan,” jelas Kiai Ma’ruf. 

Menurut Kiai Ma’ruf, peserta Bahtsul Masail yang mengikuti forum tersebut juga telah terdaftar dan menggunakan tanda pengenal resmi.

Selain Bahtsul Masail, ia menyebut terdapat berbagai forum keilmuan lain di sekitar Pondok Induk Bahrul Ulum. Di antaranya kajian yang menghadirkan Prof Mahfud MD dan Prof Nadirsyah Hosen.

Ada pula forum yang mempertemukan perguruan tinggi NU dengan Universitas Indonesia (UI) untuk membahas kerja sama riset dan beasiswa. Sementara di masjid, berlangsung kajian Aswaja NU Center.

“Kemudian ada juga pertemuan para dokter NU dengan kajian problematika medis terkini. Ada juga ijazah sanad ilmu dengan menghadirkan ulama dari Damaskus. Pameran kitab-kitab ulama Nusantara,” kata dia.

BACA JUGA  Lelang Lukisan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Muktamar NU Dimenangkan Senator Lia Istifhama

Namun, Kiai Ma’ruf menilai berbagai kegiatan tersebut justru kalah mendapat perhatian dibanding aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok orang terkait salah satu calon ketua yang disebutnya terhambat aturan pemilihan.

Menurutnya, pemberitaan mengenai aksi tersebut kemudian membentuk kesan bahwa Muktamar NU ke-35 identik dengan kericuhan.

“Akhirnya banyak diberitakan bahwa Muktamar NU isinya adalah kericuhan. Ada lagi yang membandingkan dengan Muhammadiyah yang selalu tertib,” jelasnya.

Kiai Ma’ruf menilai pemberitaan mengenai Muktamar NU tidak lepas dari sudut pandang pembaca maupun pemberi perhatian terhadap isu tersebut. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menerima seluruh informasi negatif tanpa melihat konteks secara utuh.

“Ini soal sudut pandang. Jika Anda tergolong orang yang memang tidak senang dengan NU akan langsung menerima berita negatif. Terlalu fanatik juga tidak baik, karena sama-sama menghilangkan kewarasan bernalar,” tuturnya.

Ia kemudian mengutip sebuah syair yang menggambarkan bagaimana rasa cinta maupun kebencian dapat memengaruhi cara seseorang melihat suatu persoalan.

“Pandangan kecintaan menutup segala cela, sebagaimana pandangan benci menampakkan segala keburukan,” katanya.

Kiai Ma’ruf menambahkan NU merupakan organisasi besar dengan latar belakang warga dan dinamika internal yang beragam. Karena itu, menurutnya, NU akan selalu menjadi organisasi yang menarik perhatian dan tidak lepas dari perdebatan publik.

“Memang NU selalu menarik untuk diributkan karena ia organisasi besar. Isi di dalamnya juga nggak karuan macamnya,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di HUT ke-25 Demokrat, Presiden Prabowo Ingatkan Perbedaan Politik Tak Boleh Picu Perpecahan
Rafi DPRD Sidoarjo Minta Penertiban PKL di Krembung Tetap Humanis
Adi Prayitno: Presiden Tak Bisa Diturunkan di Tengah Jalan, Masyarakat Tunggu Pemilu
Lelang Lukisan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Muktamar NU Dimenangkan Senator Lia Istifhama
Bro Ryan Ungkap Tidar Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Sekolah Politik Anak Muda
Balita Tiga Tahun Dianiaya Ibu dan Pacar, Puguh DPRD Jatim: Perda Perlindungan Anak Harus Ditegakkan
Cegah Insiden Keracunan MBG, Senator Lia Dorong Penguatan Holding Time dan Keterbukaan Informasi
Hearing MBG di DPRD Sidoarjo Tak Dihadiri BGN, Dhamroni Dorong Audit Operasional SPPG
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 02:45 WIB

Di HUT ke-25 Demokrat, Presiden Prabowo Ingatkan Perbedaan Politik Tak Boleh Picu Perpecahan

Rabu, 9 September 2026 - 15:39 WIB

Rafi DPRD Sidoarjo Minta Penertiban PKL di Krembung Tetap Humanis

Senin, 7 September 2026 - 22:38 WIB

Adi Prayitno: Presiden Tak Bisa Diturunkan di Tengah Jalan, Masyarakat Tunggu Pemilu

Minggu, 6 September 2026 - 11:44 WIB

Lelang Lukisan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Muktamar NU Dimenangkan Senator Lia Istifhama

Sabtu, 5 September 2026 - 23:30 WIB

Bro Ryan Ungkap Tidar Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Sekolah Politik Anak Muda

Berita Terbaru

WhatsApp