Surabaya – Fenomena tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10.D, Kabupaten Sidoarjo kembali menjadi sorotan. Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Sidoarjo, dr. Benjamin Kristianto mengingatkan potensi risiko apabila tekanan dari dalam bumi kembali meningkat.
Ia pun menjelaskan, semburan lumpur Lapindo terjadi akibat tekanan tinggi dari dalam bumi yang memicu keluarnya lumpur, gas alam, dan material lainnya.
“Tekanannya sangat tinggi. Saat meledak, yang keluar bukan hanya gas, tetapi juga cairan dan material lainnya,” ujarnya di DPRD Jawa Timur, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, meski kondisi saat ini relatif tenang, bukan berarti potensi semburan sudah sepenuhnya hilang. Ia mengibaratkan kawasan tersebut seperti gunung berapi yang sewaktu-waktu dapat kembali aktif apabila tekanan di dalam bumi meningkat.
“Seperti gunung, kadang-kadang tenang. Tapi bukan berarti tidak bisa meletus lagi. Kalau tekanan di dalam bumi meningkat, air maupun udara akan mencari celah untuk keluar. Itu proses alamiah,” kata Benjamin.
Dokter Benjamin menilai kawasan lumpur Lapindo saat ini pada dasarnya merupakan bendungan atau dam yang menampung material semburan. Karena itu, kondisi tanggul harus terus dipantau agar mampu menahan tekanan yang sewaktu-waktu dapat meningkat.
“Kalau tekanannya tinggi dan material terus keluar, debitnya akan bertambah. Tekanan terhadap dam juga meningkat dan berpotensi menjebol tanggul apabila tidak diantisipasi,” jelas Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur itu.
Politikus Partai Gerindra meminta Pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kekuatan tanggul yang telah dibangun sejak awal penanganan semburan lumpur. Menurutnya, keselamatan masyarakat di sekitar kawasan harus menjadi prioritas utama.
“Kami mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi persoalan ini,” tegas Benjamin.
Benjamin menyebut ada dua langkah penting yang perlu dilakukan. Pertama, memperkuat struktur tanggul agar mampu menahan peningkatan tekanan. Kedua, menyiapkan sistem pengelolaan lumpur yang lebih efektif.
“Apakah cukup dibuang ke laut? Apakah perlu dimanfaatkan menjadi produk tertentu? Atau perlu tambahan pompa? Semua itu harus dipikirkan. Sebab aliran ke laut juga bergantung pada kondisi pasang surut,” terangnya.
Selain itu, ia menilai perlu adanya sistem pendukung, termasuk pompa tambahan, agar volume lumpur tidak membebani tanggul dan meminimalkan risiko jebol.
Benjamin juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar tanggul tetap tenang, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Ia pun meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda keretakan atau kondisi yang mencurigakan pada tanggul.
“Masyarakat tetap tenang. Pemerintah sedang mencari solusi terbaik. Tetapi kalau ada tanda-tanda keretakan atau kondisi yang membahayakan, segera laporkan agar bisa ditangani lebih cepat,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok
