Surabaya – Lonjakan kasus HIV/AIDS di Jawa Timur yang tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia mendapat perhatian Anggota DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati. Menurutnya, persoalan HIV tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Jawa Timur tahun 2025, jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHIV) di Jawa Timur mencapai 65.238 orang. Dalam periode Januari-Maret 2025, tercatat 2.599 kasus baru.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya Lilik Hendarwati menilai peningkatan kasus yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota, termasuk Sidoarjo, harus menjadi perhatian bersama.
“Meningkatnya kasus HIV di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga,” ujar Lilik, Kamis (23/7/2026).
Menurut Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur tersebut, tren kenaikan kasus menunjukkan perlunya penanganan yang lebih komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan agar penyebaran HIV dapat ditekan.
Karena itu, Lilik mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota memperkuat tiga langkah strategis.
Pertama, meningkatkan edukasi dan literasi masyarakat mengenai pencegahan HIV, terutama bagi kelompok usia produktif dan remaja yang dinilai rentan. Kedua, memperluas layanan skrining, konseling, serta pengobatan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan kesehatan tanpa rasa takut maupun stigma.
Ketiga, memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan keluarga dalam membangun perilaku hidup sehat sekaligus mencegah perilaku berisiko.
“Data yang dipublikasikan menunjukkan adanya tren peningkatan temuan kasus sehingga diperlukan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Lilik menegaskan penanganan HIV harus dilakukan secara berimbang. Di satu sisi, upaya pencegahan perlu diperkuat melalui edukasi, penguatan nilai-nilai keluarga, serta pembinaan karakter generasi muda. Di sisi lain, orang yang hidup dengan HIV harus tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa diskriminasi.
“Kami mengingatkan agar penanganan HIV dilakukan dengan pendekatan yang berimbang. Di satu sisi, pencegahan harus diperkuat melalui edukasi, penguatan nilai-nilai keluarga, dan pembinaan generasi muda. Di sisi lain, masyarakat yang hidup dengan HIV harus mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa diskriminasi, karena stigma justru dapat menghambat deteksi dini dan pengobatan,” ungkapnya.
Ia berharap meningkatnya kasus HIV di Jawa Timur menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta membangun ketahanan keluarga sebagai benteng utama dalam melindungi generasi mendatang.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -
