Bambang Ashraf Ingatkan RUU Pidana LGBT Berpotensi Timbulkan Diskriminasi jika Multitafsir

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Yoyok

- Author

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggiat antikorupsi, advokasi disabilitas, dan politik Bambang Ashraf HS. (dok. Pribadi)

Penggiat antikorupsi, advokasi disabilitas, dan politik Bambang Ashraf HS. (dok. Pribadi)

Surabaya – Penggiat antikorupsi, advokasi disabilitas, dan Pengamat politik Bambang Ashraf HS menilai usulan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pidana LGBT yang didorong masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) merupakan hak konstitusional setiap kelompok masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.

Namun, menurutnya, pembentukan suatu undang-undang harus tetap berlandaskan kebutuhan hukum yang nyata serta memiliki dasar filosofis, sosiologis, dan yuridis yang kuat.

“Perspektif pembentukan peraturan perundang-undangan, sebuah RUU harus didasarkan pada kebutuhan hukum yang nyata, memiliki landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis yang kuat serta menjawab persoalan hukum yang memang belum dapat diatasi oleh regulasi yang berlaku,” kata Ashraf dalam keterangannya yang diterima redaksi, Rabu (22/7/2026).

Ashraf mengatakan Indonesia saat ini masih dihadapkan pada berbagai persoalan hukum yang lebih mendesak. Mulai dari pemberantasan korupsi, perlindungan anak, kekerasan seksual, kejahatan narkotika, perdagangan orang, hingga meningkatnya kejahatan digital.

“Karena itu, pembahasan suatu RUU sebaiknya mempertimbangkan skala prioritas nasional agar tidak menimbulkan perdebatan yang justru memecah konsentrasi publik,” ujarnya.

Mantan Gubernur LIRA Jawa Timur itu menjelaskan, pihak yang mendukung RUU tersebut berangkat dari pandangan bahwa negara memiliki kewajiban menjaga moral, ketertiban umum, serta nilai-nilai budaya dan agama yang hidup di masyarakat.

“Pandangan ini memiliki dasar sosiologis karena Indonesia memang menjunjung nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan norma kesusilaan,” katanya.

Di sisi lain, Ashraf mengingatkan adanya potensi persoalan apabila rumusan norma pidana dalam RUU tersebut terlalu luas atau multitafsir. Kondisi itu dinilai dapat membuka ruang terjadinya diskriminasi, penyalahgunaan kewenangan, hingga kriminalisasi terhadap seseorang berdasarkan identitas atau orientasi seksualnya, bukan karena perbuatan pidana.

“Hukum pidana seharusnya menghukum perbuatan yang nyata melanggar hukum (*actus reus*), bukan identitas seseorang. Prinsip *equality before the law* menghendaki setiap warga negara diperlakukan sama di hadapan hukum,” tegasnya.

BACA JUGA  Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri

Ashraf menekankan pentingnya membedakan antara orientasi seksual dengan perbuatan yang melanggar hukum. Menurutnya, Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai instrumen hukum untuk menindak tindak pidana tanpa membedakan siapa pelakunya.

Ia mencontohkan ketentuan dalam KUHP mengenai perbuatan cabul, Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), Undang-Undang Perlindungan Anak, hingga ketentuan mengenai penyebaran konten asusila dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) apabila memenuhi unsur pidana.

“Apabila yang menjadi persoalan adalah tindakan melawan hukum, maka perangkat hukum sebenarnya telah tersedia. Yang perlu diperkuat adalah efektivitas penegakan hukumnya, bukan semata-mata pembentukan norma pidana baru,” ujarnya.

Ashraf juga mengingatkan sejumlah potensi dampak apabila RUU tersebut tidak dirumuskan secara cermat. Dari sisi sosial, menurutnya, regulasi tersebut berpotensi meningkatkan polarisasi apabila dipersepsikan sebagai bentuk kriminalisasi terhadap kelompok tertentu.

Selain itu, dari aspek penegakan hukum, aparat dinilai dapat menghadapi kesulitan dalam pembuktian apabila norma pidana tidak dirumuskan secara jelas dan terukur.

Sementara dari perspektif hubungan internasional, Indonesia berpotensi menjadi sorotan berbagai lembaga hak asasi manusia (HAM). Meski demikian, ia menegaskan Indonesia tetap memiliki hak menentukan kebijakan hukumnya sendiri sebagai negara berdaulat.

“Sepanjang pembentukannya sesuai konstitusi, prinsip negara hukum, dan menghormati hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam UUD 1945,” katanya.

Karena itu, Ashraf menilai keseimbangan antara perlindungan moral publik, kepastian hukum, dan penghormatan terhadap hak konstitusional warga negara harus menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan RUU tersebut.

Ia juga menilai langkah yang lebih strategis adalah memperkuat upaya pencegahan dibanding memperluas kriminalisasi.

Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan pendidikan karakter dan pendidikan agama, memperkuat literasi digital, mengoptimalkan fungsi keluarga, memperkuat perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi seksual, serta memastikan implementasi UU TPKS dan UU Perlindungan Anak berjalan efektif.

BACA JUGA  Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja

“Negara juga harus membangun ruang dialog yang sehat agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik sosial. Hukum harus menjadi alat menjaga ketertiban dan keadilan, bukan menjadi instrumen yang memperuncing polarisasi masyarakat,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Ashraf menegaskan pembentukan hukum pidana harus berorientasi pada perlindungan masyarakat, kepastian hukum, keadilan, dan penghormatan terhadap konstitusi.

“Negara wajib melindungi moral publik dan ketertiban sosial, tetapi pada saat yang sama harus memastikan setiap kebijakan pidana dirumuskan secara proporsional, tidak diskriminatif, dan benar-benar menjawab kebutuhan hukum masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Yoyok

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri
Raperda Tibumtranmas Linmas Dibahas, Rizza DPRD Sidoarjo Soroti Bullying hingga Gangster Pelajar
Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja
Belajar dari Kasus Tanah Fasum Sidoarjo, Sriatun DPRD Jatim Tekankan Digitalisasi Aset Desa
Ning Lia Apresiasi Transformasi Digital Pengadilan Tinggi Surabaya, Layak Jadi Percontohan Nasional
Gerakan Indonesia ASRI, PC TIDAR Sidoarjo Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Hidup
Dukung Gerakan Indonesia ASRI, DPC Partai Gerindra Sidoarjo Hijaukan Hutan Kota dan Bersihkan Sungai
Hadiri Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-81 Jatim, Senator Lia Sebut Jatim Bangunan Politik Humanis
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Raperda Tibumtranmas Linmas Dibahas, Rizza DPRD Sidoarjo Soroti Bullying hingga Gangster Pelajar

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:39 WIB

Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Belajar dari Kasus Tanah Fasum Sidoarjo, Sriatun DPRD Jatim Tekankan Digitalisasi Aset Desa

Minggu, 18 Oktober 2026 - 04:10 WIB

Ning Lia Apresiasi Transformasi Digital Pengadilan Tinggi Surabaya, Layak Jadi Percontohan Nasional

Berita Terbaru

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau pelaksanaan khitanan massal dan cek kesehatan gratis (CKG) di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan

Jumat, 23 Okt 2026 - 03:31 WIB

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan. (Dok. Syaiful)

Pemerintahan dan Kebijakan

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Kamis, 22 Okt 2026 - 23:53 WIB

WhatsApp