​I Hate Roblox

Editor Syaiful Hidayat

- Author

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi AI Roblox

Ilustrasi AI Roblox

Editor: Syaiful Hidayat

Oleh. Noviyanto Aji *)

Dulu sebelum ada gawai dengan teknologinya yang serba canggih seperti saat ini, anak-anak sering memainkan permainan tradisional. Sekarang, permainan itu nyaris tidak bisa dilihat lagi. Anak-anak kini sudah beralih ke gawai. Pun dengan permainan.

​Dan ini yang benar-benar menyesakkan batin. Dari sekian banyak aplikasi game, aplikasi yang satu ini membuat tantrum para orangtua dan anak-anak. Namanya Roblox. I hate Roblox.

Mainan anak-anak berbentuk piksel di layar ponsel ini telah banyak membuat susah para orangtua, guru, dokter hingga pendakwah agama. Bagaimana tidak, Roblox telah mengambil jiwa anak-anak.

Ya, Roblox bukan sekadar “game”. Ia telah berubah menjadi pemicu stres, sumber ledakan emosi, dan perusak kedamaian rumah tangga.

​Mengapa para orangtua membenci aplikasi ini, bukan karena grafisnya yang kotak-kotak, melainkan karena cara ia memanipulasi psikologis anak. Roblox dirancang dengan sistem instant gratification (kepuasan instan).

Setiap detiknya dirancang untuk memicu dopamin. Namun, ketika dopamin itu terputus karena masalah teknis seperti buffering atau internet lemot, atau ponsel low battery atau ketika dalam permainan si anak kalah, yang terjadi adalah “sakau” digital.

​Anak-anak tidak hanya kesal. Mereka mengalami tantrum hebat. Dunia seolah-olah runtuh. Yang terjadi selanjutnya bisa ditebak. Ketantruman yang sangat parah, membuat mereka menangis tiada henti, seperti orang kesetanan.

Ponsel dibanting dan teriakan histeris membuat bulu kudu berdiri. Ini bukan sekadar kenakalan biasa. Parahnya, mereka kemudian mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Misuh-misuh. Kondisi yang tidak pernah dialami anak-anak era 90an.

Ini adalah tanda bahwa kontrol diri mereka telah dirampas oleh algoritma yang lebih kuat dari pertahanan mental mereka yang belum matang.

BACA JUGA  Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

​Mengapa kekalahan di Roblox terasa begitu menyakitkan bagi anak? Saya bukan ahli psikolog, tetapi yang saya lihat di sana identitas anak seperti dipertaruhkan.

​Ketika anak kalah dalam dunia Roblox, itu bukan sekadar akhir permainan, tapi kegagalan sosial. Ketika koneksi internet melambat, anak merasa “dikhianati” oleh alat yang seharusnya memberi mereka kesenangan.

Dalam kondisi ini, mereka merasa sendiri dalam menyelesaikan permasalahannya. Berbeda ketika permainan tradisional dilakukan anak-anak jaman dulu. Ketika mereka kalah, mereka kalah dengan terhormat. Mereka belajar kalah dan menang secara beramai-ramai. Dan, kalah bagi mereka tetap menyenangkan dalam permainan.

Sebaliknya, permainan Roblox membuat ketidakmampuan otak anak untuk memproses frustrasi yang berujung pada perilaku destruktif.

​Aplikasi Roblox telah menciptakan ekosistem predator. Ini bentuk perundungan (bullying) terstruktur yang dilegalkan oleh sistem game. Dan negara sedang membiarkan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh aset digital, bukan karakter.

​Negara harus peduli. Negara tidak boleh diam dengan tumbuh kembang anak-anak. Jangan biarkan aplikasi Roblox merusak generasi emas. Kalau bisa blokir untuk selama-lamanya.

Memang ada yang salah dengan cara kita membiarkan teknologi mengasuh anak-anak. Kita tidak sedang melawan sebuah aplikasi, melainkan sedang berjuang menyelamatkan kesehatan mental dan stabilitas emosi generasi masa depan dari jeratan algoritma yang eksploitatif.

Sudah saatnya kita meletakkan ponsel, menghadapi ledakan amarahnya, dan mulai membangun kembali dunia nyata yang jauh lebih sehat ketimbang sekadar simulasi kotak-kotak yang merusak.

​Saya berani menyatakan “I Hate Roblox” bukanlah bentuk ketertinggalan zaman, tetapi sebuah alarm. Saya yakin semua orangtua mengalami hal yang sama dengan anak-anak mereka.

Di sini kita tidak sedang membenci teknologi. Yang kita benci bagaimana teknologi tersebut mengeksploitasi kerentanan emosional anak-anak. Ketika sebuah permainan video mulai merusak perabotan rumah dan menghancurkan ketenangan jiwa seorang anak, itu bukan lagi hiburan. Itu adalah gangguan.

BACA JUGA  Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

​Sebagai orangtua, tugas kita bukan hanya menyediakan fasilitas, tapi juga menjadi benteng terakhir bagi kesehatan mental mereka. Kita harus berani melindungi otak anak-anak yang sedang “dibajak” oleh hormon stres. Alih-alih hanya membalas dengan amarah, kita perlu menarik mereka keluar dari dunia digital tersebut dan membantu mereka bernapas di dunia nyata.

​Jika negara tetap abai dan tidak bisa diajak kompromi, setidaknya kita bisa mulai dari diri kita. Ajak anak kembali ke permainan fisik di mana “buffering” tidak ada, dan di mana interaksi manusia jauh lebih berharga daripada sekadar skin virtual.

​Roblox mungkin memiliki algoritma yang canggih untuk mengikat perhatian anak kita, tetapi mereka tidak memiliki ikatan batin yang kita miliki.

Mari kita rebut kembali perhatian, emosi, dan tawa anak-anak kita dari layar kotak-kotak itu. Karena pada akhirnya, tidak ada jumlah Roblox di dunia ini yang sebanding dengan kedamaian mental seorang anak.

*) Noviyanto Aji, Penulis adalah jurnalis Rmoljatim.

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029
Teori Pohon Khidmat NU
Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas
Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU
Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”
Diaspora Madura Menggagas Studi Tiru ke Maldives
Getaran Nasionalisme dalam Haul Khotib Parangghan Sumenep
Transformasi Petani di Tengah Sengatan Konflik Global
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:29 WIB

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Jumat, 4 September 2026 - 05:23 WIB

Teori Pohon Khidmat NU

Rabu, 2 September 2026 - 11:40 WIB

Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas

Selasa, 1 September 2026 - 20:33 WIB

Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:20 WIB

Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”

Berita Terbaru

WhatsApp