Bioetanol Menguat sebagai Pengganti BBM, Lia Istifhama Dukung Kebijakan Presiden Prabowo

Editor Yoyok

- Author

Sabtu, 4 April 2026 - 13:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Foto: Istimewa)

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Foto: Istimewa)

Editor: Yoyok

Surabaya – Di tengah tantangan kelangkaan minyak dan ketergantungan pada energi fosil, langkah pemerintah dalam mengembangkan energi alternatif mulai mendapat perhatian serius. Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama, mengapresiasi arah kebijakan nasional yang mendorong pemanfaatan bioetanol sebagai solusi energi masa depan.

Pandangan tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya. Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa sektor tebu kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai penghasil gula, melainkan memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan.

“Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir soal gula. Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis yang juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional,” ujar Lia Istifhama, pada Kamis (02/04/2026).

Perubahan cara pandang terhadap tebu menjadi poin penting dalam upaya transisi energi. Selama ini, tebu identik dengan produksi gula, namun kini memiliki nilai tambah melalui hasil samping berupa tetes (molasses).

Tetes tebu dapat diolah menjadi bioetanol, bahan bakar ramah lingkungan yang mampu menjadi alternatif pengganti energi fosil. Transformasi ini membuka peluang besar dalam menjawab tantangan kelangkaan minyak sekaligus mendukung agenda energi bersih.

Dengan pendekatan ini, tebu tidak lagi sekadar komoditas pangan, tetapi menjadi bagian dari solusi energi nasional.

Sebagai daerah penghasil lebih dari 50 persen gula konsumsi nasional, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam pengembangan bioetanol.

Infrastruktur industri gula yang telah mapan menjadi modal penting untuk mempercepat produksi bioetanol secara masif dan berkelanjutan.

“Kalau potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya menjadi lumbung gula, tetapi juga bisa menjadi pusat energi hijau nasional,” tegas Lia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/4/2026).

BACA JUGA  Di HUT ke-25 Demokrat, Presiden Prabowo Ingatkan Perbedaan Politik Tak Boleh Picu Perpecahan

Dengan potensi tersebut, Jawa Timur dinilai mampu menjadi motor penggerak transformasi energi berbasis sumber daya lokal.

Pengembangan bioetanol tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memberikan efek langsung terhadap kesejahteraan petani.

Lia menekankan pentingnya integrasi antara sektor pertanian dan energi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas.

“Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional,” ungkap Lia.

Integrasi ini diyakini mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tingkat daerah.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan bioetanol masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait biaya produksi yang relatif tinggi dibandingkan energi fosil.

Hal ini menjadi tantangan utama yang harus diatasi agar bioetanol dapat bersaing di pasar energi nasional. Lia menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memberikan dukungan melalui kebijakan strategis.

“Ini tantangan yang harus dijawab bersama. Negara harus hadir untuk memastikan energi hijau ini bisa kompetitif dan berkelanjutan,” ujar Lia.

Pengembangan bioetanol sejalan dengan kebijakan nasional yang berfokus pada pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik.

Langkah ini tidak hanya menjadi respons terhadap dinamika global, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi impor energi dan memperkuat kemandirian nasional.

Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi negara yang tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga unggul dalam pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, Lia Istifhama menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan bioetanol sangat bergantung pada kolaborasi semua pihak, terutama petani sebagai ujung tombak produksi.

“Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional,” pungkasnya.

Editor : Yoyok

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di HUT ke-25 Demokrat, Presiden Prabowo Ingatkan Perbedaan Politik Tak Boleh Picu Perpecahan
Rafi DPRD Sidoarjo Minta Penertiban PKL di Krembung Tetap Humanis
Adi Prayitno: Presiden Tak Bisa Diturunkan di Tengah Jalan, Masyarakat Tunggu Pemilu
Lelang Lukisan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Muktamar NU Dimenangkan Senator Lia Istifhama
Bro Ryan Ungkap Tidar Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Sekolah Politik Anak Muda
Balita Tiga Tahun Dianiaya Ibu dan Pacar, Puguh DPRD Jatim: Perda Perlindungan Anak Harus Ditegakkan
Cegah Insiden Keracunan MBG, Senator Lia Dorong Penguatan Holding Time dan Keterbukaan Informasi
Hearing MBG di DPRD Sidoarjo Tak Dihadiri BGN, Dhamroni Dorong Audit Operasional SPPG
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 02:45 WIB

Di HUT ke-25 Demokrat, Presiden Prabowo Ingatkan Perbedaan Politik Tak Boleh Picu Perpecahan

Rabu, 9 September 2026 - 15:39 WIB

Rafi DPRD Sidoarjo Minta Penertiban PKL di Krembung Tetap Humanis

Senin, 7 September 2026 - 22:38 WIB

Adi Prayitno: Presiden Tak Bisa Diturunkan di Tengah Jalan, Masyarakat Tunggu Pemilu

Minggu, 6 September 2026 - 11:44 WIB

Lelang Lukisan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Muktamar NU Dimenangkan Senator Lia Istifhama

Sabtu, 5 September 2026 - 23:30 WIB

Bro Ryan Ungkap Tidar Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Sekolah Politik Anak Muda

Berita Terbaru

WhatsApp