Alumni PMII Bicara Kepemimpinan dan Masa Depan NU Lewat Bedah Buku di Jombang

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful

- Author

Jumat, 28 Agustus 2026 - 23:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alumni PMII Bicara Kepemimpinan dan Masa Depan NU Lewat Bedah Buku di Jombang. (Dok. Istimewa)

Alumni PMII Bicara Kepemimpinan dan Masa Depan NU Lewat Bedah Buku di Jombang. (Dok. Istimewa)

Jombang – Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyerukan gerakan penyelamatan Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai persoalan yang dinilai terjadi dalam lima tahun terakhir.

Seruan itu disampaikan Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar saat menghadiri bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Salam Hall Denanyar, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Muhaimin menilai pertemuan alumni PMII dalam momentum Muktamar memiliki posisi strategis. Alumni PMII, kata dia, tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus ikut menentukan arah perbaikan NU ke depan.

Ia bahkan menyebut tema besar yang harus menjadi perhatian bersama adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan setelah perjalanan lima tahun terakhir.

“Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” kata Muhaimin.

Menurut Muhaimin, keberanian mengakui persoalan menjadi langkah awal untuk melakukan pembenahan. Ia meminta kader dan alumni PMII tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tubuh NU.

“NU harus kita akui, jujur, terburuk. Kejujuran itu sebagai bagian dari konsekuensi untuk kita melakukan apa di dalam menolong keterpurukan itu,” ujarnya.

Muhaimin mengaku prihatin melihat dinamika internal NU dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, konflik kepentingan hingga perebutan sumber daya justru berpotensi menggerus marwah organisasi.

“Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik,” ungkapnya.

Karena itu, Muhaimin menyerukan alumni PMII yang memiliki posisi dan hak dalam proses Muktamar menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perubahan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan Ikatan Alumni PMII tidak hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang digelar. Lebih dari itu, alumni harus mampu memberikan warna terhadap keputusan strategis NU.

Ketua Umum PB IKA PMII periode 2025-2030, Drs H Fathan Subchi MAP CIISA ChFA, mengatakan buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan menjadi upaya merekam gagasan dan cita-cita alumni PMII yang kini berkiprah di berbagai bidang.

Buku tersebut melibatkan hampir 100 alumni PMII dari berbagai latar belakang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 44 alumni turut menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam buku.

Fathan menilai keberagaman latar belakang para penulis menjadi salah satu kekuatan buku tersebut. Para alumni yang bergerak di masyarakat sipil, mendampingi petani, berkecimpung di dunia usaha, akademisi, hingga politik memiliki perspektif berbeda mengenai masa depan NU dan bangsa.

“Kalau di Mesir kan, minal fikroh ilal harokah. Dari ideologi menuju gerakan. Saya kira kita bisa kembangkan, dari ideologi, dari ide, dari manifesto, dari gagasan menuju kepemimpinan,” ujar Fathan.

Menurut Fathan, seluruh proses kaderisasi dan perjalanan gerakan pada akhirnya harus diarahkan pada kepemimpinan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kekuasaan maupun kewenangan yang diperoleh alumni PMII, kata dia, tidak boleh berhenti sebagai pencapaian personal. Hal itu harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.

Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII Dr M Sholeh Basyari mengatakan buku tersebut tidak sekadar mendokumentasikan perjalanan alumni PMII.

BACA JUGA  Puguh DPRD Jatim Soroti Banjir Sawojajar 2 Malang, Normalisasi Saluran Dikawal

Buku itu juga menawarkan perspektif mengenai model kepemimpinan yang dinilai khas, berjenjang, dan lahir dari tradisi pergerakan.

Sholeh mengatakan gagasan utama buku tersebut berangkat dari dinamika politik lima tahun terakhir yang diwarnai ketegangan, friksi, hingga perbedaan kepentingan.

Kondisi tersebut, menurut dia, membutuhkan alternatif kepemimpinan yang mampu menjadi jalan keluar dari berbagai persoalan internal maupun eksternal.

“Buku ini menyodorkan alternatif leadership yang kami tawarkan kepada publik Indonesia. Inilah kami, wahai Indonesia. Kami punya sistem kepemimpinan yang khas, berjenjang, dan memiliki karakter tersendiri,” kata Sholeh.

Ia menjelaskan buku tersebut disiapkan melalui proses pembahasan yang cukup panjang. Pembahasan judul bahkan sempat dilakukan bersama Fathan Subchi pada pertengahan Mei 2026 saat Fathan tengah menjalankan tugas pengawasan haji.

Saat itu, Sholeh mengusulkan judul Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan. Namun, Fathan sempat menawarkan judul alternatif yang lebih bernuansa pergerakan, yakni *

Minal Akidah Ilaf Tawroh atau “Dari Teologi Menuju Revolusi”.

Sholeh kemudian merespons usulan tersebut dengan nada humor. Menurutnya, gagasan revolusi dinilai kurang relevan jika dikaitkan dengan posisi dan kesibukan para alumni PMII yang kini banyak berada dalam struktur pemerintahan maupun lembaga negara.

Selain konsep kepemimpinan, buku tersebut juga menyoroti fenomena yang disebut Sholeh sebagai siklus keberhasilan angka sembilan dalam perjalanan politik alumni PMII dan warga NU.

Menurut Sholeh, angka sembilan memiliki catatan empiris dalam sejumlah momentum politik yang melibatkan kader dan alumni PMII.

Ia mencontohkan 1999. Pada tahun tersebut, kekuatan politik yang berkaitan dengan keluarga besar NU berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia.

Siklus tersebut, menurut Sholeh, kembali terlihat pada 2009. Saat itu, kekuatan politik berbasis warga NU disebut berhasil mengambil alih kendali penuh terhadap partai yang lahir dari keluarga besar NU.

Sepuluh tahun kemudian, pada 2019, pola tersebut kembali muncul. KH Ma’ruf Amin yang memiliki latar belakang kuat di lingkungan NU dipercaya menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Presiden Joko Widodo.

Rangkaian itu kemudian menjadi dasar bagi Sholeh untuk melihat kemungkinan munculnya kembali momentum politik pada 2029.

“Pertanyaannya, apakah siklus sembilan tahunan yang sudah terjadi dan sukses mengantarkan hasil itu akan terulang lagi pada 2029? Kalau terulang seperti 1999, 2009, 2019 dan kelak 2029, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr Abdul Muhaimin Iskandar,” ujarnya.

Sholeh menilai perjalanan tersebut menunjukkan alumni PMII memiliki pengalaman panjang dalam membangun kepemimpinan di berbagai bidang.

Karena itu, buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah organisasi, tetapi menjadi tawaran gagasan mengenai arah kepemimpinan Indonesia ke depan.

Bagi alumni PMII, pergerakan tidak semestinya berhenti ketika seseorang menyelesaikan masa studinya di perguruan tinggi. Nilai-nilai pergerakan justru harus diterjemahkan dalam bentuk kepemimpinan dan pengabdian di tengah masyarakat.

Melalui buku tersebut, PB IKA PMII ingin menunjukkan tradisi kaderisasi yang berlangsung di PMII dapat menjadi modal sosial dan politik untuk melahirkan kepemimpinan yang memiliki akar pengalaman organisasi, kemampuan intelektual, sekaligus kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

BACA JUGA  Ning Lia: Gen Z Boleh Keren dan Modern, tapi Akhlak Rasulullah Harus Jadi Pegangan

Dalam kegiatan itu hadir sejumlah tokoh dan alumni PMII sebagai narasumber. Di antaranya Prof Dr KH Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa; Mochammad Afifuddin, Ketua KPU RI; Prof Dr H Musahadi MAg, Rektor UIN Walisongo; serta Dr Luluk Nur Hamidah, Ketua Umum IKA Perempuan PMII.

Acara tersebut dimoderatori anggota DPD RI Ahmad Nawardi. Hadir pula para penulis buku, sejumlah rektor perguruan tinggi Islam, serta pengurus dan ketua IKA PMII dari berbagai daerah.

Kehadiran lintas profesi dan wilayah itu menunjukkan luasnya jaringan alumni PMII sekaligus beragamnya perspektif yang berkembang di dalam organisasi alumni tersebut.

Dr Luluk Nur Hamidah menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam bukunya berjudul Ublek dan Oncor. Buku tersebut mencoba melihat sejarah NU melalui akar tradisi dan kehidupan masyarakat di ruang-ruang sederhana.

Menurut Luluk, buku itu tidak hanya merekam perjalanan NU, tetapi juga menghadirkan sejarah pergerakan, intelektualitas, gerakan sosial, pengabdian, serta keterkaitan PMII dengan dinamika politik kebangsaan, kekuasaan, dan berbagai gerakan sosial lainnya.

Ia memilih pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ublek, Oncor, dan Bahidu yang menjadi bagian dari judul buku digunakan untuk membuka ruang pemaknaan yang lebih luas bagi pembaca.

“Saya di buku ini menulis dengan judul yang cukup sederhana, Ublek dan Oncor. Di situ ada Ublek, Oncor, dan juga Bahidu,” kata Luluk.

Ia menjelaskan istilah tersebut dapat dibaca sebagai metafora sosiologis dan politik. Namun, istilah itu juga dapat dimaknai secara sederhana sebagaimana kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dari perspektif itu, NU tidak dilihat semata sebagai organisasi besar seperti saat ini. Luluk justru melihat NU dari sesuatu yang kecil, intim, tenang, dan dekat dengan kehidupan warga.

“NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini, tetapi saya melihat NU dari sesuatu yang kecil, yang sangat intim, yang sangat tenang, dan sangat indah, yang itu digambarkan seperti Ublek,” ujarnya.

Menurut Luluk, akar NU dapat ditemukan di kampung-kampung, musala, tempat mengaji, hingga lingkungan keluarga.

Para kiai kampung, kiai musala, ibu, ibu nyai, nenek, dan guru ngaji memiliki peran penting dalam proses pewarisan nilai tersebut. Karena itu, sejarah NU dalam pandangannya tidak hanya lahir dari panggung-panggung besar dan gemerlap.

Sebelum seseorang mengenal pesantren dan organisasi, nilai-nilai keagamaan terlebih dahulu diperkenalkan melalui praktik keseharian di lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Tidak dari panggung-panggung yang besar, panggung-panggung yang gemerlap, apalagi dari panggung-panggung kekuasaan,” tegasnya.

Ia mencontohkan tradisi keagamaan dan pendidikan dasar Islam kerap pertama kali dikenalkan melalui keluarga. Anak-anak mengenal doa, membaca Al-Qur’an, alif ba ta, hingga berbagai bentuk pengajaran agama dari ibu, nenek, ibu nyai, maupun guru ngaji di musala dan kampung.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Puguh DPRD Jatim Soroti Banjir Sawojajar 2 Malang, Normalisasi Saluran Dikawal
Ning Lia: Gen Z Boleh Keren dan Modern, tapi Akhlak Rasulullah Harus Jadi Pegangan
Sebulan Tinggal di Pesantren, Ning Lia Datangi Mahasiswa Baru dan Dengarkan Cerita Mereka
Hadiri Maulid Nabi Bersama Kader PKK Pasuruan, Arumi Bachsin Tekankan Pentingnya Akhlak dalam Pengabdian Kepada Masyarakat
Kekeringan Pasuruan, Gubernur Khofifah Kirim 45 Tandon dan 500 Jeriken untuk Warga
Gubernur Khofifah Salurkan 120 Rit Air Bersih untuk 38.270 Keluarga Terdampak Kekeringan di Blitar
Tunggakan Empat TPS 3R ke TPA Griyo Mulyo Jabon Sidoarjo Capai Rp1,13 Miliar
Hadiri Sholawat Kemerdekaan di Sidoarjo, Gubernur Khofifah Ajak Jamaah Amalkan “My Religion My Morality”
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 21:48 WIB

Puguh DPRD Jatim Soroti Banjir Sawojajar 2 Malang, Normalisasi Saluran Dikawal

Rabu, 9 September 2026 - 04:52 WIB

Ning Lia: Gen Z Boleh Keren dan Modern, tapi Akhlak Rasulullah Harus Jadi Pegangan

Selasa, 8 September 2026 - 20:41 WIB

Sebulan Tinggal di Pesantren, Ning Lia Datangi Mahasiswa Baru dan Dengarkan Cerita Mereka

Senin, 7 September 2026 - 23:07 WIB

Hadiri Maulid Nabi Bersama Kader PKK Pasuruan, Arumi Bachsin Tekankan Pentingnya Akhlak dalam Pengabdian Kepada Masyarakat

Senin, 7 September 2026 - 14:11 WIB

Kekeringan Pasuruan, Gubernur Khofifah Kirim 45 Tandon dan 500 Jeriken untuk Warga

Berita Terbaru

WhatsApp