Surabaya – Rencana sejumlah pabrik asal China merelokasi kegiatan industrinya ke Kawasan Industri Wiraraja Madura di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dinilai menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Madura.
Rencana tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Wiraraja Madura Industrial Estate dan Guangdong Fenyong ASEAN Industrial Park melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP) antara Indonesia dan China.
Akademisi asal Sumenep sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, menyambut positif rencana investasi tersebut. Menururnya, masuknya investasi asing berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas bagi Madura.
Namun, Sucipto menekankan agar manfaat investasi tidak berhenti pada aktivitas industri semata. Penyerapan tenaga kerja lokal harus menjadi salah satu perhatian utama agar masyarakat Madura turut merasakan dampak langsung dari perkembangan kawasan industri.
“Adanya investasi, apalagi dari China untuk pembangunan di Madura, pasti akan ada dampak atau multiplier effect yang sangat besar,” kata Sucipto dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
Menurut Sucipto, penyerapan tenaga kerja masyarakat lokal perlu dikawal sejak awal. Untuk itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Madura menjadi hal penting agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang berkembang.
“Terutama serapan tenaga kerja dari masyarakat lokal. Itu yang perlu dikawal bersama-sama sehingga masyarakat bisa langsung mendapatkan dampak dari keberadaan industri tersebut,” ujarnya.
Sucipto menegaskan, masyarakat Madura tidak boleh hanya menjadi penonton ketika industrialisasi mulai berkembang. Kompetensi dan keterampilan masyarakat harus dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan industri.
“Memang harus dibarengi dengan kompetensi yang harus dimiliki masyarakat setempat, sehingga kompetensi itu benar-benar mendukung keberadaan industri tersebut,” jelasnya.
Selain menyiapkan SDM, Sucipto mendorong pemerintah daerah melibatkan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan sejak tahap awal. Menurut dia, komunikasi yang baik diperlukan agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dan dampak investasi.
Tokoh-tokoh masyarakat juga dinilai perlu dilibatkan dalam pembahasan rencana industrialisasi tersebut. Langkah itu penting untuk mencegah munculnya persoalan sosial di kemudian hari.
“Semua stakeholder, termasuk masyarakat dan tokoh-tokoh sentral di masyarakat, harus duduk bersama sehingga semuanya memiliki pemahaman yang sama,” tuturnya.
Sucipto berharap investasi industri di Bangkalan benar-benar diarahkan untuk meningkatkan perekonomian daerah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Jangan sampai nanti ada konflik. Kita tentu tidak mengharapkan itu. Duduk bersama sehingga mempunyai pemahaman yang sama bahwa investasi dalam bentuk industri di Bangkalan memang untuk meningkatkan perekonomian, khususnya masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Menurut Sucipto, dampak industrialisasi tidak hanya akan dirasakan sektor industri. Meningkatnya aktivitas ekonomi diperkirakan turut mendorong mobilitas orang menuju Bangkalan.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu membenahi sektor akomodasi, khususnya perhotelan. Sucipto menilai Bangkalan perlu memiliki hotel yang layak agar para pekerja, investor, maupun tamu yang datang untuk kegiatan bisnis dapat tinggal lebih lama di daerah tersebut.
Ia membandingkan kondisi Bangkalan dengan Sampang, Pamekasan, dan Sumenep yang dinilai telah memiliki sejumlah hotel yang mendukung aktivitas masyarakat maupun kelembagaan.
“Hotel-hotel yang layak itu penting agar orang bisa tinggal lebih lama di Bangkalan. Jangan sampai keberadaan industri justru membuat yang mendapatkan keuntungan adalah Surabaya,” katanya.
Sucipto mencontohkan, saat ini sejumlah lembaga yang menggelar kegiatan di Bangkalan masih memilih menginap di Surabaya. Kondisi tersebut dinilai sebagai leakage atau kebocoran ekonomi karena potensi perputaran uang yang seharusnya masuk ke Bangkalan justru mengalir ke daerah lain.
“Banyak lembaga berkegiatan di Bangkalan, tetapi menginapnya di Surabaya. Dalam bisnis itu disebut leakage, kebocoran, yang seharusnya bisa dinikmati Bangkalan,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong masuknya investor di sektor perhotelan. Kehadiran hotel yang memadai dinilai dapat membuat para tamu yang datang untuk kepentingan industri tinggal lebih lama sekaligus membelanjakan uangnya di Bangkalan.
Selain perhotelan, sektor kuliner juga dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang. Bangkalan selama ini dikenal memiliki beragam kuliner khas yang dapat menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat.
Namun, Sucipto mengingatkan agar pertumbuhan sektor kuliner tetap dibarengi dengan pengaturan dan peningkatan standar pelayanan. Salah satunya terkait kebersihan dan higienitas rumah makan, terutama yang menyajikan kuliner berbasis bebek.
“Sebelum ada industrialisasi, Bangkalan sudah terkenal dari sisi kuliner. Saya rasa kuliner-kuliner lain juga harus tumbuh dan ada penyeragaman agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat,” katanya.
“Terutama dari sisi higienitas atau kebersihan di setiap rumah makan, khususnya yang berbasis bebek,” sambungnya.
Sucipto menilai sektor perhotelan dan kuliner menjadi dua bidang yang berpotensi besar ikut terdorong oleh perkembangan industrialisasi Bangkalan.
Ia mencontohkan Pamekasan yang kerap menjadi lokasi kegiatan berbagai lembaga. Salah satu faktor pendukungnya adalah keberadaan hotel yang dinilai memenuhi standar. Kondisi serupa juga terlihat di Sumenep.
Sementara di Jawa Timur, Sucipto mencontohkan perkembangan Kediri. Menurut dia, pertumbuhan investasi, termasuk dari sektor industri rokok, turut memberikan efek terhadap pembangunan infrastruktur pendukung seperti Bandara Dhoho Kediri.
Karena itu, rencana masuknya investasi industri ke Bangkalan dinilai harus dipandang sebagai peluang besar yang perlu dipersiapkan secara matang.
“Saya rasa ini peluang yang bagus untuk ditangkap. Tentu dengan kajian yang komprehensif oleh semua stakeholder, tetapi tetap peran utamanya adalah pemerintah daerah,” tutupnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat