Bangkalan – Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Universitas Muhammadiyah Surabaya mendorong transformasi digital dalam pembelajaran bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bangkalan, Madura.
Program tersebut diwujudkan melalui penguatan kapasitas guru yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Pendidikan Khusus-Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Bangkalan. Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun pendanaan 2026.
Sebanyak 20 guru yang merupakan delegasi dari empat SLB di Bangkalan mengikuti program tersebut. Tim PKM diketuai Eka Hendi Andriansyah, S.Pd., M.Pd. dari Unesa, dengan anggota Dr. Zeni Rusmawati, S.Pd., M.Ak. dari Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Putri Ulfa Kamalia, S.Pd., M.Pd. dari Unesa.
Ketua Tim PKM Unesa Eka Hendi Andriansyah mengatakan, mengajar di SLB memiliki tantangan tersendiri. Terlebih, guru harus menghadapi keberagaman kebutuhan peserta didik dalam satu ruang kelas. Menurutnya, pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) menjadi salah satu solusi untuk membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif, bermakna, dan menyenangkan.
“Kegiatan ini merupakan pelatihan dan pendampingan pembuatan media pembelajaran berbasis AI menggunakan platform seperti Gemini AI, Google Flow, dan D-ID, sekaligus peningkatan literasi keuangan melalui aplikasi Finku,” kata Hendi dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Pelatihan intensif dipusatkan di SLB Negeri Keleyan, Bangkalan. Selanjutnya, pendampingan dan monitoring penerapan dilakukan di sejumlah sekolah mitra, yakni SLB PGRI Kamal, SLB Negeri Keleyan, SLB Thera Athena, dan SLB Lavender.
Hendi menjelaskan, pelatihan dilaksanakan pada 15–16 Juni 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan intensif serta monitoring penerapan media pembelajaran di kelas hingga September 2026.
Program tersebut dilatarbelakangi kesenjangan rasio guru dan murid serta keberagaman kebutuhan peserta didik, seperti tunanetra, tunarungu, dan autisme. Kondisi tersebut membutuhkan media pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan siswa secara lebih beragam.
“Kondisi tersebut menuntut adanya media ajar audio-visual yang interaktif. Selain itu, rendahnya literasi keuangan guru juga menjadi salah satu hambatan bagi kesejahteraan dan keberlanjutan inovasi di sekolah,” jelasnya.
Menurut Hendi, program dilaksanakan melalui delapan tahapan sistematis. Mulai sosialisasi, penyusunan modul, pelatihan praktik langsung atau hands-on, pendampingan, hingga monitoring dan evaluasi hasil penerapan media pembelajaran berbasis AI.
Hendi menyebut salah satu tantangan guru SLB adalah keterbatasan waktu dan keterampilan dalam membuat media pembelajaran yang dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan khusus.
Pemanfaatan Gemini AI, Google Flow, dan D-ID kemudian dikenalkan kepada para guru. Teknologi tersebut memungkinkan guru membuat video pembelajaran berbasis avatar yang dapat dilengkapi subtitle, narasi suara, serta elemen visual.
“Dengan teknologi ini, guru dapat memproduksi video pembelajaran animasi berbasis avatar dengan subtitle untuk siswa tunarungu, narasi suara untuk siswa tunanetra, serta visual yang menarik bagi siswa autis,” ujarnya.
Menurut Hendi, penggunaan AI juga dapat mempercepat proses pembuatan media pembelajaran. Berdasarkan hasil pelaksanaan program, waktu produksi media ajar disebut dapat dipangkas hingga 70–80 persen.
“Integrasi AI ini terbukti memangkas waktu produksi media ajar hingga 70–80 persen,” katanya.
Hendi menambahkan, penerapan media pembelajaran tersebut salah satunya diuji di SLB PGRI Kamal. Hasilnya, siswa dinilai lebih fokus dan antusias mengikuti pembelajaran karena materi disampaikan melalui pendekatan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.
Program PKM tersebut tidak hanya menyasar inovasi pembelajaran. Tim juga memberikan pendampingan literasi keuangan digital bagi para guru melalui aplikasi Finku.
Anggota tim PKM Dr. Zeni Rusmawati mengatakan, kemampuan mengelola keuangan penting agar guru dapat melakukan perencanaan keuangan secara lebih terstruktur.
“Data menunjukkan peningkatan pemahaman guru. Skor awal 81,39 meningkat menjadi 98,00 setelah pelatihan. Para guru kini mampu melakukan perencanaan anggaran bulanan dan memisahkan kas pribadi dengan dana operasional sekolah secara lebih terstruktur,” ungkap Zeni.
Berdasarkan hasil monitoring di empat sekolah, para guru juga menunjukkan antusiasme dalam membuat media pembelajaran berbasis video. Akses AI yang disediakan tim PKM dimanfaatkan untuk mengembangkan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.
Zeni mengatakan, media pembelajaran yang dihasilkan mendapat respons positif dari peserta didik. Penggunaan unsur audio-visual membuat materi pembelajaran lebih menarik bagi siswa.
Zeni menuturkan, program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis guru. Kegiatan itu juga diarahkan untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia dan pemenuhan hak penyandang disabilitas.
“Program ini selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan,” katanya.
Sementara itu, Ketua MKKS PK-PLK Bangkalan Syaiful Hudha, S.Pd., menyambut positif program tersebut. Dia berharap model pelatihan dan pendampingan serupa dapat diterapkan di wilayah lain di Madura.
“Kami berharap model pelatihan ini dapat direplikasi ke wilayah lain di Madura sehingga lebih banyak sekolah dapat merasakan manfaat dari transformasi digital,” ujarnya.
Menurut Syaiful, kolaborasi antara perguruan tinggi dan praktisi pendidikan menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kualitas pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
“Dengan berakhirnya rangkaian monitoring pada 25 September 2026, program PKM tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan. Para guru didorong untuk terus mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi sesuai kebutuhan peserta didik di masing-masing sekolah,” pungkasnya.