Wisata Madura Tumbuh, Sucipto Usul Karyawan Hotel Kenakan Batik hingga Sakera

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful Hidayat

- Author

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi asal Kabupaten Sumenep sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto. (Dok. Istimewa)

Akademisi asal Kabupaten Sumenep sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto. (Dok. Istimewa)

Surabaya – Perkembangan pariwisata di Madura dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan melestarikan budaya lokal. Kehadiran destinasi wisata hingga hotel-hotel baru dinilai menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, kemajuan sektor pariwisata diharapkan tidak membuat karakter budaya Madura semakin terpinggirkan.

Akademisi asal Kabupaten Sumenep sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, mengatakan Madura memiliki banyak potensi wisata menarik, khususnya wisata pantai. 

Menurutnya, sejumlah destinasi bahkan berada di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, seperti Pantai 9 dan Gili Labak. Potensi wisata juga tersebar di tiga kabupaten lainnya di Madura.

“Pertumbuhan destinasi wisata tersebut turut mendorong bertambahnya penginapan dan hotel untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan. Di Sumenep, misalnya, terdapat MYZE Hotel. Sementara di Pamekasan ada Azana Style Hotel Madura dan di Bangkalan terdapat Hotel Rose serta sejumlah hotel lainnya,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).

Sucipto menilai bertambahnya investasi dan fasilitas pariwisata merupakan hal positif karena dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Meski begitu, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya berorientasi pada fasilitas dan jumlah kunjungan wisatawan.

“Lebih dari itu, kemajuan pariwisata harus tetap menjaga identitas budaya Madura yang sangat kental. Karena itu, pengusaha hotel memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus memperkenalkan budaya Madura,” kata Sucipto.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan, kata dia, yakni menghadirkan unsur budaya lokal dalam aktivitas perhotelan. Misalnya melalui pakaian yang dikenakan para karyawan pada hari-hari tertentu.

“Misalnya dengan cara berpakaiannya. Hari-hari tertentu, karyawan bisa memakai batik khas Madura, atau bisa pakaian Sakera-Marlena, atau juga bisa dengan kopiah dan sarung yang identik dengan ciri masyarakat Madura yang religius,” jelas dia. 

BACA JUGA  Rumah Pompa Lippo Sidoarjo Ditarget Rampung Sebelum Desember, Progres 26,67%

Menurut Sucipto, masuknya investasi ke Madura, termasuk investor dari luar daerah yang membangun hotel, seharusnya dapat menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi masyarakat setempat.

Ia mengatakan penggunaan pakaian adat di lingkungan hotel dapat dilakukan secara terjadwal dengan melibatkan dinas pariwisata.

“Ya, nanti itu bisa melalui pakaian misalnya, tinggal dijadwal saja. Tentu ini juga perlu kehadiran dinas pariwisata. Jadi diatur itu nanti, hari apa, dari tujuh hari itu misalnya hari apa yang berpakaian adat, jadi adat setempat,” ujarnya.

Selain melalui pakaian karyawan, pengenalan budaya lokal juga dapat dilakukan melalui berbagai media yang dilihat wisatawan selama menginap di hotel. Sucipto mencontohkan tayangan televisi di kamar hotel. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi daerah kepada para tamu.

“Biasanya ketika kita masuk kamar, itu kan begitu nyala ada tayangan di TV. Nah, di situ juga bisa ditampilkan, sehingga itu untuk menjadi informasi bahwa begini lho, budaya tradisi yang ada di Bangkalan,” ujarnya.

Ia menilai konsep tersebut tidak harus diterapkan oleh satu hotel saja. Penguatan identitas budaya dapat dilakukan secara lebih luas oleh sektor perhotelan di Madura.

Terlebih, penyebaran informasi mengenai budaya lokal kini semakin mudah dilakukan melalui media sosial.

“Sekarang kan gampang, tinggal memanfaatkan media-media sosial. Itu juga untuk sosialisasi bahwa nilai-nilai budaya yang ada di Bangkalan itu tidak sama dengan persepsi orang yang selama ini dibayangkan,” imbuh Sucipto.

Sucipto berharap penguatan budaya melalui sektor pariwisata dapat memperlihatkan sisi lain Madura, terutama terkait kesantunan, tradisi, serta nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Dengan begitu, wisatawan yang datang tidak hanya mendapatkan pengalaman dari destinasi wisata, tetapi juga membawa kesan mengenai nilai-nilai dan adat istiadat masyarakat Madura.

BACA JUGA  Jelang HUT ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Ziarah ke Makam Bung Karno

“Sehingga begitu orang datang ke Bangkalan, itu kesannya, kenangan yang didapat itu ya memang nilai-nilai sesuai dengan adat istiadat. Bukan justru yang dibayangkan selama ini, misalnya dengan kekerasan dan lain sebagainya,” tutur Sucipto.

Untuk penerapannya di hotel, Sucipto mengatakan unsur budaya lokal dapat dikemas dengan menyesuaikan karakter serta standar pelayanan perhotelan.

Salah satunya melalui penggunaan batik dengan motif yang dikenal sebagai ciri khas Bangkalan. Selain itu, pakaian Sakera juga dapat menjadi pilihan untuk memperkenalkan identitas budaya Madura.

“Bisa dua nanti, pakaian itu, batik satu, artinya batik sesuai dengan motif yang terkenal di Bangkalan. Yang kedua adalah seperti baju Sakera misalnya. Nah, itu bisa ditampilkan atau nanti ada inovasi sendiri,” jelasnya.

Menurut Sucipto, pakaian Sakera dapat dimodifikasi dengan desain yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter utamanya. 

“Untuk saat ini barangkali itu bisa menampilkan yang Sakera. Bisa menggunakan sarung, misalnya sarung,” katanya.

Sucipto juga membuka peluang penggunaan sarung dengan konsep yang lebih modern agar tetap sesuai dengan standar pakaian karyawan hotel.

“Jadi tetap pakai celana, tapi separuhnya itu ditutup sarung misalnya. Atau juga karena itu nanti, kalau hotel itu langsung dia pakai sarung akan menurun, takut ini nanti kontradiktif dengan standar-standar yang ada di hotel. Hingga nanti modifikasinya saja begitu,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semarakkan Hari Jadi ke-81 Jatim dan ke-351 Kabupaten Magetan, Gubernur Khofifah Bawa Pasar Murah dan Doorprize untuk Masyarakat
Rumah Pompa Lippo Sidoarjo Ditarget Rampung Sebelum Desember, Progres 26,67%
Semarakkan Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Serahkan Alsintan untuk Petani Magetan
Sambut Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Salurkan Bansos dan Pemberdayaan Rp9,87 Miliar di Magetan
Akademisi Sambut Positif Industrialisasi Madura, Dorong Serapan Tenaga Kerja Lokal
Jelang Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Ziarah ke Makam Gubernur Soerjo
Jelang HUT ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Ziarah ke Makam Bung Karno
Ledakan San Antonio Surabaya Jadi Sorotan, Senator Lia Istifhama Ingatkan Pelaku Usaha soal K3
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:55 WIB

Wisata Madura Tumbuh, Sucipto Usul Karyawan Hotel Kenakan Batik hingga Sakera

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:24 WIB

Rumah Pompa Lippo Sidoarjo Ditarget Rampung Sebelum Desember, Progres 26,67%

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:03 WIB

Semarakkan Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Serahkan Alsintan untuk Petani Magetan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Sambut Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Salurkan Bansos dan Pemberdayaan Rp9,87 Miliar di Magetan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:52 WIB

Akademisi Sambut Positif Industrialisasi Madura, Dorong Serapan Tenaga Kerja Lokal

Berita Terbaru

Jelang Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah dan BAZNAS Siapkan 1.000 Kacamata Gratis. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Jelang Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah dan BAZNAS Siapkan 1.000 Kacamata Gratis

Kamis, 8 Okt 2026 - 11:42 WIB

Sambut Hari Jadi Jatim ke-81, Gubernur Khofifah Hadirkan Servis Gratis 8.100 Motor. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Sambut Hari Jadi Jatim ke-81, Gubernur Khofifah Hadirkan Servis Gratis 8.100 Motor

Rabu, 7 Okt 2026 - 22:11 WIB

WhatsApp