Medan – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan Satya Lencana dari Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI). Penghargaan tersebut diserahkan Ketua Dewan Pembina ISMI sekaligus pendiri Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Tun Dr H Rahmat Shah, di Medan, Selasa (29/9/2026).
Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprah dan kontribusi Khofifah di berbagai bidang yang dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam kunjungannya, Khofifah juga bersilaturahmi dengan Tun Rahmat Shah sekaligus melihat pengelolaan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery. Pertemuan itu turut membahas peluang kolaborasi untuk mengembangkan dan memperkaya materi edukasi Museum Mpu Tantular di Sidoarjo.
Salah satu opsi kerja sama yang dibahas yakni penitipan sejumlah koleksi satwa yang diawetkan milik Tun Rahmat Shah di Jawa Timur.
“Kami juga menawarkan kerja sama, mungkin satwa milik Pak Rahmat Shah bisa dititipkan di Jawa Timur dan kami juga menyiapkan ruangan khusus yang diatasnamakan beliau,” kata Khofifah dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).
Khofifah berharap kerja sama tersebut tidak hanya menambah koleksi Museum Mpu Tantular, tetapi juga memperkuat fungsi museum sebagai ruang edukasi bagi masyarakat. Museum, kata dia, dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, budaya, lingkungan, serta pentingnya menjaga kelestarian alam kepada generasi muda.
Menurut Khofifah, pengalaman pengelolaan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery dapat menjadi referensi dalam pengembangan Museum Mpu Tantular. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkaya penyajian koleksi sekaligus memperluas manfaat museum sebagai ruang belajar masyarakat.
“Luar biasa kedalaman keilmuannya. Kita ingin membangun koneksitas kesejarahan untuk membangun peradaban dan kearifan. Museum Mpu Tantular Pemprov Jatim di Sidoarjo yang rencananya kita ingin kembangkan, perspektif kita bisa punya penguasaan dan pengayaan dari sini,” ujarnya.
Saat berkeliling museum, Khofifah melihat berbagai koleksi satwa yang diawetkan dan ditata dengan pendekatan habitat asli. Koleksi tersebut tersebar di tiga lantai dan mencakup lebih dari 2.600 jenis satwa serta sekitar 5.600 spesimen dari berbagai belahan dunia.
Koleksi museum antara lain menampilkan African Big Five, Bear Room, Cats of the World, Pheasants of the World, Night Safari, berbagai jenis serangga, hingga satwa khas Indonesia seperti harimau Sumatra dan komodo. Museum tersebut juga memiliki koleksi kerangka satwa.
Khofifah mengatakan ketertarikannya terhadap museum telah tumbuh sejak lama. Menurutnya, museum dapat menjadi pintu untuk memahami latar belakang budaya, sejarah, dan peradaban suatu daerah maupun negara.
“Saya termasuk pencinta museum. Saya juga mengikuti bagaimana kita bisa menemukenali cultural background sebuah negara melalui museum,” ujarnya.
Dia menilai koleksi Rahmat International Wildlife Museum and Gallery dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai satwa, lingkungan, dan konservasi. Khofifah juga mengapresiasi kepedulian Tun Rahmat Shah dalam mengembangkan museum sekaligus membagikan pengetahuannya kepada masyarakat.
Sementara itu, Tun Rahmat Shah menyampaikan apresiasi atas kunjungan Khofifah ke Rahmat International Wildlife Museum and Gallery. Dia menjelaskan museum tersebut memiliki sekitar 2.600 jenis satwa yang diawetkan dari berbagai belahan dunia.
Menurutnya, koleksi tersebut dikumpulkan dan ditata sebagai sarana edukasi sekaligus untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi.
Tun Rahmat Shah mengatakan sebagian pengetahuannya mengenai pengelolaan satwa dan kegiatan berburu konservasi diperoleh dari pengalaman di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman. Dia menegaskan kegiatan tersebut memiliki aturan yang harus dipatuhi dengan tetap memperhatikan aspek konservasi.
“Sebagian saya belajar berburu di Kanada, Amerika, Jerman dan negara lainnya. Tapi tentu dengan rules yang harus kita patuhi,” ungkapnya.
Dia juga menyebut pernah dipercaya sebagai pemburu konservasi dan menerima sejumlah penghargaan atas kiprahnya di bidang tersebut. Pengalaman itu, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya memahami satwa dan lingkungan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam.
“Ini untuk menjadi contoh bahwa banyak orang hebat memulai dari nol. Yang penting tidak melanggar undang-undang negara dan agama. Insyaallah, kita akan berhasil,” katanya.
Tun Rahmat Shah juga menekankan pentingnya kolaborasi dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Semangat tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari kiprahnya di ISMI yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari dunia pendidikan hingga kepala daerah.
“Berbuat kebaikan, sekecil apa pun, pasti ada manfaatnya. Kita tanam padi, nanti yang tumbuh bukan hanya satu, tetapi ada banyak manfaat yang bisa kita rasakan,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat