Sidoarjo – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Sidoarjo mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, tercatat 4.880 kasus ISPA di Sidoarjo pada minggu ke-29 hingga minggu ke-36 tahun 2026.
Kondisi tersebut mendapat perhatian DPRD Sidoarjo. Wakil Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Bangun Winarso meminta masyarakat tidak panik menyikapi peningkatan kasus ISPA maupun influenza A.
“Jangan sampai seperti kondisi COVID-19, nanti masyarakat panik. Kemudian banyak aturan yang harus dipatuhi, misalnya pembatasan dan sebagainya. Tapi saya kira belum sampai ke situ,” kata Bangun saat ditemui di ruang Komisi D DPRD Sidoarjo, Selasa (22/9/2026).
Bangun mengatakan pihaknya telah menanyakan kondisi tersebut kepada rumah sakit daerah. Dari informasi yang diterima, terdapat pasien dengan gejala flu, demam, dan batuk.
“Ada pasien flu yang disertai demam dan batuk. Kami tanyakan apakah itu termasuk influenza A, jawabannya memang mengarah ke sana. Tapi kondisi seperti yang diberitakan di media, misalnya di Jakarta, belum terjadi di Sidoarjo,” ujarnya.
Politikus PAN itu menyebut influenza A bukan penyakit baru. Gejala yang muncul antara lain demam, badan terasa sakit, kelelahan, hingga penurunan stamina.
Menurut Bangun, peningkatan kasus ISPA dan dugaan influenza A di Sidoarjo saat ini belum dapat disebut sebagai wabah. Namun, potensi peningkatan kasus tetap perlu diantisipasi.
“Kalau di Sidoarjo sudah menjadi wabah, saya kira belum. Tetapi potensi itu pasti ada,” jelasnya.
Bangun meminta Dinas Kesehatan Sidoarjo melakukan kajian lebih mendalam terhadap perkembangan kasus tersebut. Langkah antisipasi dinilai penting apabila kasus influenza tipe A mengalami peningkatan signifikan.
“Ini perlu dilihat lebih mendalam oleh Dinas Kesehatan sebagai OPD yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat Sidoarjo. Tentunya harus ada antisipasi,” katanya.
Bangun juga mengimbau masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan memenuhi kebutuhan gizi, cukup beristirahat, dan menerapkan pola hidup sehat. Penggunaan masker, lanjutnya, juga perlu dipertimbangkan terutama ketika mengalami gejala flu atau berada di lingkungan berisiko.
Selain itu, Bangun menyoroti mobilitas masyarakat yang dinilai dapat menjadi salah satu faktor penyebaran virus.
“Yang membuat penyebaran cepat bisa dari daerah lain, misalnya orang bepergian jauh menggunakan pesawat kemudian kembali ke Sidoarjo. Ini perlu menjadi perhatian,” ungkapnya.
Menurut Bangun, kondisi cuaca dan paparan debu juga dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan. Abu vulkanik dari erupsi gunung api, misalnya, dapat memicu batuk dan pilek serta memperburuk gangguan pernapasan.
“Kalau badan kita capek, kemudian berinteraksi dengan orang lain yang kondisinya sama, flu bisa cepat menular. Karena itu gunakan masker, jaga kesehatan, asupan gizi cukup, dan istirahat yang cukup,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat