Surabaya – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, menemui mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya. Bukan dalam suasana formal, Ning Lia memilih berbincang layaknya seorang kakak dengan adik.
Para mahasiswa baru itu diketahui sudah sekitar sebulan tinggal di lingkungan asrama. Mereka mulai menjalani kehidupan jauh dari keluarga sekaligus belajar mandiri.
Ning Lia pun mendengarkan cerita para mahasiswa tentang pengalaman mereka selama tinggal di asrama. Mulai dari beradaptasi dengan lingkungan baru, mengurus kebutuhan sehari-hari, mencari teman, hingga pengalaman sederhana seperti harus mengantre kamar mandi.
Salah satu mahasiswa yang bercerita adalah Widya Alfa Rohman, mahasiswa asal Bojonegoro. Dia mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama sebulan tinggal di asrama.
“Pengalaman pertama kali saya berada di asrama ini benar-benar mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Karena saya juga dari luar Kota Surabaya, memang ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Widya, Selasa (8/9/2026).
Meski harus tinggal jauh dari keluarga, Widya mengaku tidak terlalu kesulitan menjalani kehidupan mandiri. Dia sebelumnya pernah mondok sehingga sejumlah aktivitas seperti mencuci pakaian dan mengurus kebutuhan sendiri sudah terbiasa dilakukan.
“Alhamdulillah tidak kesulitan karena sebelumnya saya sudah pernah mondok. Jadi kegiatan seperti mencuci baju sendiri sudah sering saya lakukan,” ujarnya.
Namun, Widya menemukan tantangan lain saat beradaptasi di Surabaya. Salah satunya terkait bahasa dalam percakapan sehari-hari.
“Mungkin yang sedikit menjadi kesulitan itu bahasa. Ada sedikit perubahan bahasa dari Bojonegoro ke Surabaya,” tuturnya.
Cerita serupa disampaikan mahasiswa baru lainnya, Fahima Nudinia. Selama tinggal di asrama, Fahima mengaku justru senang karena bisa mendapatkan banyak teman baru.
“Teman-temannya baik-baik. Interaksi dengan teman juga menyenangkan,” kata Fahima.
Saat ditanya soal kesulitan menjalani kehidupan mandiri, Fahima mengaku tidak menemukan kendala berarti. Pengalaman pernah mondok membuatnya cukup mudah beradaptasi dengan kehidupan pesantren.
Meski begitu, ada satu hal sederhana yang menurutnya cukup terasa dalam keseharian, yakni harus berbagi fasilitas dengan penghuni asrama lainnya.
“Kalau kesulitan tidak terlalu, karena dulu pernah mondok juga. Tapi yang paling terasa itu antre, terutama antre kamar mandi,” ujarnya.
Cerita tentang bahasa, pertemanan hingga antre kamar mandi itu menjadi bagian dari pengalaman para mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan di asrama.
Bagi mereka, tinggal jauh dari keluarga bukan hanya soal mengikuti perkuliahan. Mereka juga belajar mengatur waktu, memenuhi kebutuhan sendiri, berbagi fasilitas, membangun pertemanan, serta beradaptasi dengan mahasiswa dari berbagai daerah.
Ning Lia mengatakan pengalaman keseharian mahasiswa penting untuk didengar. Menurutnya, proses membangun kemandirian dan karakter generasi muda juga dapat terlihat dari berbagai persoalan sederhana yang mereka hadapi setiap hari.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban. Ning Lia lebih banyak bertanya dan mendengarkan cerita para mahasiswa.
Sebulan berada di asrama memang belum cukup untuk menggambarkan seluruh dinamika kehidupan pesantren. Namun, dari mencuci pakaian sendiri, beradaptasi dengan bahasa baru, mendapatkan teman hingga belajar sabar mengantre kamar mandi, para mahasiswa mulai belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat