Hujan Mulai Turun di Enam Kabupaten, Pemprov Jatim Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Karhutla

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful Hidayat

- Author

Senin, 7 September 2026 - 23:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hujan Mulai Turun di Enam Kabupaten, Pemprov Jatim Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Karhutla. (Dok. Humas Pemprov)

Hujan Mulai Turun di Enam Kabupaten, Pemprov Jatim Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Karhutla. (Dok. Humas Pemprov)

Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggeber langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang melanda 24 kabupaten/kota. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Operasi tersebut dilakukan Pemprov Jatim bersama Kementerian Kehutanan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim.

Hasilnya mulai terlihat. Berdasarkan pemantauan alat Automatic Rain Gauge (ARG) hingga 6 September 2026, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tercatat turun di 11 titik yang tersebar di enam kabupaten. Yakni Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, OMC merupakan ikhtiar bersama untuk menekan risiko karhutla sekaligus membantu mengatasi dampak kekeringan di sejumlah wilayah prioritas.

“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” kata Khofifah di Surabaya, Senin (7/9/2026).

Dia berharap hujan yang turun dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat sekaligus menekan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Semoga hujan yang turun ini memberikan manfaat bagi masyarakat, membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi dampak kekeringan, serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” imbuhnya.

Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jatim mencatat, OMC telah dilakukan empat kali pada 3–6 September 2026.

Dalam rangkaian operasi tersebut, sebanyak 3.200 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl) disebarkan menggunakan pesawat untuk memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah sasaran.

OMC perdana dilakukan Kamis (3/9) pukul 15.50 WIB menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104. Sasaran operasi meliputi wilayah Lumajang dan Probolinggo dengan menyebarkan 800 kilogram bahan semai NaCl.

Operasi kembali dilaksanakan Jumat (4/9) sekitar pukul 15.25 WIB. Kali ini sasaran meliputi wilayah Probolinggo-Lumajang, termasuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), area di atas Kota Batu dan Gunung Arjuno, hingga wilayah Malang.

BACA JUGA  DPRD Sidoarjo Dorong Raperda Fasilitasi Pesantren, Perkuat Pemberdayaan dan Kepastian Hukum

Sebanyak 800 kilogram bahan semai NaCl kembali disebarkan dalam operasi tersebut. Secara keseluruhan, OMC menyasar sejumlah wilayah yang memiliki potensi terdampak kekeringan dan karhutla. Mulai Malang, Kota Batu, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, hingga Banyuwangi.

Khofifah menjelaskan, pelaksanaan OMC tidak bisa dilakukan sembarangan. Kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial menjadi pertimbangan utama.

Karena itu, pemantauan BMKG menjadi dasar dalam menentukan waktu sekaligus wilayah yang menjadi sasaran operasi.

“OMC dilaksanakan ketika kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial memungkinkan. Awan yang mulai bergerak memasuki sejumlah wilayah terus dipantau. Ketika dinilai potensial, kondisi tersebut dioptimalkan melalui OMC untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran,” jelasnya.

Pascarangkaian OMC, sebaran hujan paling banyak terpantau di Kabupaten Lumajang. Hujan dengan intensitas sedang tercatat di ARG Pronojiwo. Sedangkan hujan ringan terpantau di ARG Pasrujambe, Pasirian, dan Jokarto.

Di Banyuwangi, hujan ringan terpantau melalui ARG Lidjen Jambu dan ARG Kalibaru. Sementara di Kabupaten Malang, hujan ringan tercatat di ARG Sitiarjo dan ARG Dampit.

Hujan ringan juga terpantau di ARG Rekayasa Panti, Kabupaten Jember; ARG Trenggalek, Kabupaten Trenggalek; serta ARG Sudimoro, Kabupaten Pacitan.

Khofifah menegaskan, OMC bukan satu-satunya langkah yang dilakukan Pemprov Jatim. Penanganan kekeringan dan karhutla juga dilakukan melalui distribusi air bersih, penyediaan tandon, optimalisasi sumber air, serta penguatan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

“Tidak ada satu intervensi yang berdiri sendiri. Selain OMC, penanganan di lapangan melalui distribusi air bersih, penyediaan tandon, dan optimalisasi sumber air tetap berjalan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, setiap pelaksanaan OMC membutuhkan pemantauan dan perhitungan secara cermat. BPBD Jatim bersama Kementerian Kehutanan, BMKG, dan seluruh unsur terkait akan terus melakukan koordinasi serta evaluasi.

“Kolaborasi menjadi kunci karena penanganan karhutla dan kekeringan membutuhkan respons yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Semua unsur harus bergerak sesuai peran masing-masing,” tuturnya.

BACA JUGA  Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Dalam rapat koordinasi pengendalian karhutla, Pemprov Jatim bersama pihak terkait juga menyepakati penguatan antisipasi terhadap potensi El Niño. Fenomena tersebut dikhawatirkan meningkatkan risiko karhutla, khususnya di wilayah rawan.

Sejumlah langkah disiapkan. Di antaranya memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini, memetakan serta mengklasifikasikan daerah rawan, hingga meningkatkan patroli dengan mengoptimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA).

Kesiapsiagaan satuan tugas darat juga menjadi perhatian, termasuk memastikan kesiapan personel dan peralatan.

Selain itu, penerapan standar operasional prosedur penanganan karhutla, penetapan status keadaan darurat berdasarkan rekomendasi teknis dan kondisi lapangan, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan secara sengaja akan diperkuat.

“Pemantauan dan respons cepat harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap informasi mengenai karhutla harus segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti agar api tidak meluas dan dampaknya dapat diminimalkan,” tegas Khofifah.

Pelaksanaan OMC berikutnya akan dilakukan secara situasional. Waktu dan wilayah sasaran akan disesuaikan dengan potensi awan berdasarkan hasil pemantauan serta rekomendasi BMKG.

Selain langkah teknis, Khofifah juga mengajak masyarakat dan tokoh agama memperkuat ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.

“Pasuruan merupakan daerah yang religius. Saya berharap masyarakat bersama para tokoh agama melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon hujan. Semoga seluruh ikhtiar yang kita lakukan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT,” harapnya.

Khofifah juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Sebab, dinamika cuaca dapat berubah dengan cepat.

“Kami akan terus berikhtiar agar risiko karhutla dan dampak kekeringan dapat diminimalkan. Semoga setiap langkah yang dilakukan membawa manfaat, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta menjaga keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi di wilayah terdampak,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komisi D DPRD Sidoarjo Hearing soal Bansos Beras di Desa Kalimati, Soroti Transparansi Data Penerima Manfaat
Gapura Jenggala Bakal Jadi Ikon Perbatasan Sidoarjo-Surabaya, Ini Rencana Bupati Subandi
Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan
Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan
DPRD Sidoarjo Dorong Raperda Fasilitasi Pesantren, Perkuat Pemberdayaan dan Kepastian Hukum
DPRD Sidoarjo Siapkan Regulasi Ketenagakerjaan untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi
Gubernur Khofifah Raih Grand Zakat Award 2026, Perkuat Pengelolaan Zakat untuk Kesejahteraan
Pokir DPRD Sidoarjo Disorot, Pemkab Ingatkan Usulan Harus Sesuai Prioritas Pembangunan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:55 WIB

Komisi D DPRD Sidoarjo Hearing soal Bansos Beras di Desa Kalimati, Soroti Transparansi Data Penerima Manfaat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:38 WIB

Gapura Jenggala Bakal Jadi Ikon Perbatasan Sidoarjo-Surabaya, Ini Rencana Bupati Subandi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:31 WIB

Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 23:53 WIB

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:44 WIB

DPRD Sidoarjo Dorong Raperda Fasilitasi Pesantren, Perkuat Pemberdayaan dan Kepastian Hukum

Berita Terbaru

Gapura Jenggala Bakal Jadi Ikon Perbatasan Sidoarjo-Surabaya, Ini Rencana Bupati Subandi. (Dok. Istimewa)

Pemerintahan dan Kebijakan

Gapura Jenggala Bakal Jadi Ikon Perbatasan Sidoarjo-Surabaya, Ini Rencana Bupati Subandi

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:38 WIB

WhatsApp