Surabaya – Kiai Muda Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin menyoroti pemberitaan mengenai Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Menurutnya, sejumlah kegiatan positif dalam rangkaian muktamar justru kalah viral dibanding pemberitaan mengenai aksi demonstrasi.
Hal itu disampaikan Kiai Ma’ruf melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Minggu (30/8/2026). Ia mengaku sengaja berjalan kaki berkeliling kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum untuk melihat langsung berbagai kegiatan yang berlangsung selama muktamar.
“Saya sengaja banyak berjalan kaki keliling Pondok Tambakberas Jombang, tempat perhelatan Muktamar NU ke-35. Bagi saya ini sangat tepat dengan nama pesantren, Bahrul Ulum, lautan ilmu. Sebab acara Muktamar ini dipenuhi dengan kajian ilmu,” ujar Kiai Ma’ruf, Selasa (1/9/2026).
Ia menyebut salah satu agenda resmi Muktamar NU ke-35 adalah Bahtsul Masail, forum kajian dan pembahasan persoalan fikih di lingkungan NU.
“Forum tersebut terbagi menjadi tiga majelis, yakni Komisi Waqi’iyah yang membahas persoalan fikih aktual, Komisi Maudhuiyyah untuk fikih konseptual, serta Komisi Qonuniyah yang membahas fikih terkait perundang-undangan,” jelas Kiai Ma’ruf.
Menurut Kiai Ma’ruf, peserta Bahtsul Masail yang mengikuti forum tersebut juga telah terdaftar dan menggunakan tanda pengenal resmi.
Selain Bahtsul Masail, ia menyebut terdapat berbagai forum keilmuan lain di sekitar Pondok Induk Bahrul Ulum. Di antaranya kajian yang menghadirkan Prof Mahfud MD dan Prof Nadirsyah Hosen.
Ada pula forum yang mempertemukan perguruan tinggi NU dengan Universitas Indonesia (UI) untuk membahas kerja sama riset dan beasiswa. Sementara di masjid, berlangsung kajian Aswaja NU Center.
“Kemudian ada juga pertemuan para dokter NU dengan kajian problematika medis terkini. Ada juga ijazah sanad ilmu dengan menghadirkan ulama dari Damaskus. Pameran kitab-kitab ulama Nusantara,” kata dia.
Namun, Kiai Ma’ruf menilai berbagai kegiatan tersebut justru kalah mendapat perhatian dibanding aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok orang terkait salah satu calon ketua yang disebutnya terhambat aturan pemilihan.
Menurutnya, pemberitaan mengenai aksi tersebut kemudian membentuk kesan bahwa Muktamar NU ke-35 identik dengan kericuhan.
“Akhirnya banyak diberitakan bahwa Muktamar NU isinya adalah kericuhan. Ada lagi yang membandingkan dengan Muhammadiyah yang selalu tertib,” jelasnya.
Kiai Ma’ruf menilai pemberitaan mengenai Muktamar NU tidak lepas dari sudut pandang pembaca maupun pemberi perhatian terhadap isu tersebut. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menerima seluruh informasi negatif tanpa melihat konteks secara utuh.
“Ini soal sudut pandang. Jika Anda tergolong orang yang memang tidak senang dengan NU akan langsung menerima berita negatif. Terlalu fanatik juga tidak baik, karena sama-sama menghilangkan kewarasan bernalar,” tuturnya.
Ia kemudian mengutip sebuah syair yang menggambarkan bagaimana rasa cinta maupun kebencian dapat memengaruhi cara seseorang melihat suatu persoalan.
“Pandangan kecintaan menutup segala cela, sebagaimana pandangan benci menampakkan segala keburukan,” katanya.
Kiai Ma’ruf menambahkan NU merupakan organisasi besar dengan latar belakang warga dan dinamika internal yang beragam. Karena itu, menurutnya, NU akan selalu menjadi organisasi yang menarik perhatian dan tidak lepas dari perdebatan publik.
“Memang NU selalu menarik untuk diributkan karena ia organisasi besar. Isi di dalamnya juga nggak karuan macamnya,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful