Pembubaran Program Korup dalam Perspektif Hannah Arendt

Editor Syaiful Hidayat

- Author

Senin, 6 Juli 2026 - 10:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengurus Asosiasi Dosen Pengusaha (ADP) dan Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU Firman Syah Ali. (dok.Pribadi)

Pengurus Asosiasi Dosen Pengusaha (ADP) dan Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU Firman Syah Ali. (dok.Pribadi)

Editor: Syaiful Hidayat

Oleh Firman Syah Ali *) 

Media sosial konoha akhir-akhir ini diributkan oleh pro kontra pembubaran beberapa institusi dan program yang dinilai rawan mega korupsi. Dalam diskusi tersebut, humor politik Gusdur tentang lumbung dan tikus menjadi topik yang paling diperdebatkan. Penulis ikut berdiskusi di beberapa WhatsApp Group (WAG).

​Dalam diskursus tata kelola negara, muncul sebuah dilema yang seringkali dianggap tabu, apakah kita harus mempertahankan institusi atau program pemerintah yang telah terinfeksi korupsi sistemik, ataukah kita harus membubarkannya untuk membangun sesuatu yang baru?

​Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak bisa hanya menggunakan logika manajemen operasional. Kita membutuhkan pisau analisis filsafat politik untuk memahami akar dari kerusakan tersebut. Di sinilah pemikiran Hannah Arendt menjadi relevan dan krusial.

​Hannah Arendt (1906–1975) adalah seorang filsuf politik dan teoritikus asal Jerman-Amerika. Ia dikenal sebagai salah satu pemikir paling tajam mengenai hakikat kekuasaan, otoritarianisme, dan kejahatan.

​Karya monumentalnya yang paling relevan dalam konteks ini adalah “Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil” (1963). Dalam buku ini, Arendt melaporkan pengadilan Adolf Eichmann, seorang perwira Nazi. Arendt menyimpulkan bahwa kejahatan Eichmann bukanlah hasil dari “iblis” yang haus darah, melainkan hasil dari kepatuhan buta pada sistem yang rusak (Sistem Iblis). Inilah yang ia sebut sebagai “Banalitas Kejahatan” (The Banality of Evil). Kejahatan menjadi “banal” (biasa/lumrah) ketika orang-orang melakukan tindakan keji bukan karena niat jahat pribadi, melainkan karena mereka hanya “menjalankan perintah” atau “mengikuti sistem” yang sudah mapan.

​Dalam konteks birokrasi, ketika korupsi telah menjadi bagian dari Standard Operating Procedure (SOP), maka kita sedang berhadapan dengan apa yang mungkin disebut sebagai “Banalitas Korupsi”.

BACA JUGA  Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

​Jika seorang oknum melakukan korupsi karena ia jahat, kita bisa memecatnya. Namun, jika ternyata sistem yang mengharuskan dia korupsi untuk mencapai target bulanan, untuk memenangkan tender, atau untuk mempertahankan posisi, maka sistemnya yang busuk. Dalam kondisi ini, memperbaiki “tikus” (individu) tidak akan memberikan dampak permanen karena sistem tersebut telah menciptakan ekosistem bagi tikus-tikus baru untuk lahir dan tumbuh.

​Ketika “tikus” sudah bukan lagi individu, melainkan SOP dari program itu sendiri, maka memperbaiki satu per satu bagian adalah upaya yang sia-sia. Kita harus membongkar lumbungnya.

​Ide untuk membubarkan program pemerintah yang korup bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan bentuk integritas.

​Berdasarkan analisis Hannah Arendt di atas, mempertahankan lumbung yang sudah busuk justru merupakan bentuk kelalaian moral.

Ketika sebuah sistem telah menormalisasi korupsi sebagai bagian dari SOP, sistem itu telah kehilangan hak moralnya untuk beroperasi.

Pembubaran (atau pembongkaran total) bukanlah tindakan penghancuran demi kehancuran, melainkan tindakan “dekonstruksi” untuk menyiapkan fondasi baru yang memungkinkan etika kembali tegak.

​Negara yang berani mengakui bahwa “lumbungnya sudah hancur” dan memilih untuk membongkarnya, adalah negara yang sedang melakukan proses penyembuhan diri (Autofagi).

Sebaliknya, membiarkan institusi yang busuk terus beroperasi dengan dalih stabilitas justru akan melanggengkan banalitas kejahatan, yang pada akhirnya akan menggerogoti negara itu sendiri.

*) Penulis adalah Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) dan Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU

Editor : Syaiful Hidayat

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029
Teori Pohon Khidmat NU
Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas
Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU
Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”
Diaspora Madura Menggagas Studi Tiru ke Maldives
Getaran Nasionalisme dalam Haul Khotib Parangghan Sumenep
Transformasi Petani di Tengah Sengatan Konflik Global
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:29 WIB

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Jumat, 4 September 2026 - 05:23 WIB

Teori Pohon Khidmat NU

Rabu, 2 September 2026 - 11:40 WIB

Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas

Selasa, 1 September 2026 - 20:33 WIB

Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:20 WIB

Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”

Berita Terbaru

WhatsApp