Merindukan Pejabat Merdeka

Editor Syaiful Hidayat

- Author

Senin, 8 Juni 2026 - 11:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Editor: Syaiful Hidayat

Oleh : Firman Syah Ali *)

Ada yang pernah dengar nama J Edgar Hoover? Direktur FBI selama setengah abad (48 tahun), sejak 1924 hingga 1972. Selama menjabat sebagai Direktur FBI, dia telah “memimpin” delapan Presiden. Eh maaf, dipimpin oleh delapan Presiden, yaitu Calvin Coolidge, Herbert Hoover, Franklin D Roosevelt, Harry S Truman, Dwight D Eisenhower, JF Kennedy, Lyndon B Johnson, dan Richard Nixon.

Bayangkan betapa saktinya birokrat satu ini, delapan Presiden hebat Amerika Serikat tidak ada yang berani memutasi dia, sampai akhirnya dia dimutasi ke alam baka dengan tenang oleh Malaikat Maut pada tahun 1972. Mirip Ramapati dalam sandiwara radio Tutur Tinular, tiga raja, Nararya Kertanegara, Nararya Sanggrama Wijaya dan Nararya Jayanegara tidak mampu memutasi dia.

Pimpinan Tapi Bukan Pemimpin

Andai JE Hoover itu hidup di Indonesia, mungkin saja segera dicari nasabnya, dianggap memiliki kesaktian turun-temurun, memiliki ajimat dan jampi-jampi yang “ameledak bumah” kata orang Madura.

Ternyata dia hanya berbekal kenalan dengan artis Sandra Bullock, Sandra Dewi dan Dewi Sandra, haha tentu saja saya bercanda. Dia bisa memimpin dan mendikte delapan Presiden itu karena dia punya senjata “sandra politik”. Dia punya kartu truf para Presiden AS, jauh sebelum para figur itu menjadi Presiden, dan selama para figur itu menjabat Presiden.

Tentu saja JE Hoover tidak sendirian, banyak birokrat lain di dunia, entah Perdana Menteri, entah Sekretaris Daerah, entah Mahapatih, yang mampu menyandera, kemudian mendikte para pemimpin tertinggi pemerintahan, baik pusat maupun daerah.

Pimpinan yang tersandera ini disebut pimpinan yang tidak memimpin. Pimpinan tapi bukan pemimpin. Pejabat tapi tidak merdeka. Mereka memiliki jabatan, tapi tidak merdeka dalam melaksanakan tugas jabatannya secara adil dan bijaksana. Dia tidak merdeka dari kepentingan, tidak merdeka dari rasa takut, tidak merdeka untuk berinovasi, dan tidak merdeka untuk mewujudkan semua idealismenya tentang kebenaran dan keadilan.

BACA JUGA  Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Orang Baikpun Jadi Jahat

Orang baik laksana wali sekalipun, kalau sudah tersandera dalam jabatannya, otomatis menjadi jahat, karena yang dia tandatangani jahat semua. Bisajadi dia tandatangan berkas sambil menangis, tapi begitu dokumen itu ditandatanganinya maka langsung lahir kezaliman massal yang merugikan orang lain, bahkan bukan hanya satu dua orang, dan bukan hanya satu dua generasi. Malaikatpun bisa berubah jadi Iblis kata Mahfud MD.

Suasana birokrasi beracun seperti ini diungkap juga oleh Philip Zambardo dalam buku “The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil” pada tahun 2007. Dia

membuktikan bahwa “Pejabat Merdeka” akan sulit lahir jika sistem/birokrasi beracun. Sistem yang korup akan mengubah orang baik menjadi jahat.

Meminjam istilah Nietzche, pejabat tersebut tidak memiliki kehendak bebas untuk menjadi ubermensch, dia tidak mampu melampaui moralitas kawanan, karena dia sedang menjadi budak dari rahasia-rahasianya sendiri.

Hanya Ada Satu Jalan Keluar

Permasalahan ini hanya mempunyai satu jalan keluar, yaitu keberanian sang pejabat untuk memilih menjadi “Pejabat Merdeka”. Hanya pejabat yang bersih dari masa lalu, yang memiliki kehendak bebas (Wille zur Macht) untuk mendefinisikan integritasnya sendiri, yang mampu berdiri tegak dan mendobrak lingkaran setan penyanderaan. Memang berat dan penuh risiko, namun inilah satu-satunya jalan untuk mengubah kerinduan menjadi realitas, melahirkan pejabat yang tidak lagi takut pada ancaman bawahannya, tidak takut pada mesin birokrasinya, melainkan hanya tunduk pada sumpah jabatan dan nurani rakyat.

Resiko?

Nama lain kepemimpinan adalah keberanian ambil resiko.

*) Firman Syah Ali, Penulis adalah Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)

Editor : Syaiful Hidayat

Sumber Berita: digitaljatim.com

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029
Teori Pohon Khidmat NU
Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas
Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU
Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”
Diaspora Madura Menggagas Studi Tiru ke Maldives
Getaran Nasionalisme dalam Haul Khotib Parangghan Sumenep
Transformasi Petani di Tengah Sengatan Konflik Global
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:29 WIB

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Jumat, 4 September 2026 - 05:23 WIB

Teori Pohon Khidmat NU

Rabu, 2 September 2026 - 11:40 WIB

Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas

Selasa, 1 September 2026 - 20:33 WIB

Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:20 WIB

Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”

Berita Terbaru

WhatsApp