Oleh Firman Syah Ali *)
Orasi KH A Muhaimin Iskandar (AMI) dan KH Nusron Wahid (NW) dalam acara Halal Bi Halal IKA PMII di Grand Mercure Kemayoran Jakarta pada tanggal 19 April 2026 lalu telah menjadi bom nuklir yang mengguncang jagad NU. Para tokohpun ramai berkomentar, antara lain Direktur CSIIS Sholeh Baasyari dan sesepuh IPNU Sudarsono Rahman (Cak Dar).
Cak Dar adalah tokoh gaek di NU, nyaris tidak ada tokoh NU yang tidak mengenal Cak Dar, terutama para alumni IPNU. Tokoh yang suka ngopi di Soto Kudus (Sodus) Gayungsari Surabaya ini mengapresiasi evaluasi terhadap elit PBNU yang telah dilakukan oleh AMI dan NW, tapi di sisi lain beliau meminta agar Muktamar NU dibiarkan natural, jangan sampai diitervensi oleh siapapun.
Entah Intervensi apa yang dimaksud oleh Cak Dar, tapi karena komentar beliau di berbagai media terkait erat dengan isi pidato AMI dan NW, bisa kita tebak bahwa Cak Dar tidak menginginkan adanya intervensi dari koalisi gerbong (klik) AMI dan klik NW. AMI punya klik PKB dan klik PMII, NW punya klik PMII. Dengan jumlah pemilik hak suara mayoritas kader PMII, maka sangat besar kemungkinan kader PMII bisa menjadi Ketua Umum PBNU jika klik tersebut diorganisir dan dimobilisir dengan cerdas untuk suksesi PBNU.
Boleh saja Cak Dar menganggap itu intervensi yang kurang sehat bagi masa depan NU, tapi penulis mempunyai optik yang berbeda terkait hal tersebut. Menurut penulis, wajar ada banyak klik dalam organisasi sebesar NU, dan wajar juga ada ikhtiar dari masing-masing klik untuk dapat menjadi pemimpin NU. Adanya rivalitas positif konstruktif antar klik untuk merebut posisi strategis di dalam tubuh NU justeru bagus untuk masa depan NU yang futuristik dan inklusif.
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi besar dan unik. Sebuah raksasa teologi dan ideologi yang saat ini sedang sempoyongan dan terhuyung-huyung. Di dalam tubuhnya yang jumbo, loyalitas tidak hanya dibangun di atas selembar kartu anggota, melainkan di atas jalinan sanad (silsilah keilmuan), jalinan nasab darah biru (genealogis ulama), tradisi pesantren, dan sejarah panjang perjuangan. Keberagaman ini secara alami melahirkan apa yang sering kita sebut sebagai “klik” atau gerbong-gerbong sosiologis. Mulai dari klik gawagis nawaning (para putra kiai), klik Aktivis, klik alumni organisasi otonom seperti IPNU, GP Ansor dan PMII, klik struktural, klik kultural, klik alumni pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo, Ploso, dan Tebuireng, klik Partai Politik, klik Kyai Kampung, klik Kyai Elit, klik struktural hingga klik kultural.
Sebagai contoh, untuk klik Alumni PMII di tubuh NU saat ini antara lain KH Said Aqil Siradj, KH Marzuki Mustamar, KH A Muhaimin Iskandar, KH Nusron Wahid, KH Asep Saifuddin Chalim, KH Cholil Nafis, KH Yusuf Chudori, Anre Gurutta Nasaruddin Umar, KH Ahmad Muwaffiq, KH Ali Masykur Musa, KH Miftah Maulana Habiburrahman, KH As’ad Said Ali, KH Amin Said Husni, KH Fathan Subchi, KH Ahmad Muqowam, Nyai Hj Luluk Nur Hamida, Nyai Hj Arifatul Choiri Fauzi, KH A Malik Madani, KH Asrorun Ni’am, KH Ulil Abshar Abdalla, Savic Ali, Juri Ardiantoro, KH Andi Jamaro Dulung, KH Endin AJ Soefihara dll.
Dalam sosiologi organisasi, keberadaan klik sering dianggap sebagai ancaman serius yang dapat menimbulkan fragmentasi organisasi. Namun, dalam tubuh NU, klik-klik ini seharusnya dipandang sebagai instrumen dalam sebuah simfoni yang indah. Klik birokrat-teknokrat membawa profesionalisme, klik aktivis PMII membawa semangat advokasi, dan klik garis darah biru Kyai NU menjaga identitas.
Semua klik itu akan menjadi kontraproduktif ketika komunikasi antar-klik tersumbat, provokasi masuk dan berubah menjadi persaingan tidak sehat antar kelompok eksklusif. Misalnya kelompok eksklusif aktivis merasa paling berguna untuk masa depan NU, kelompok birokrat dan teknokrat juga merasa begitu, sementara kelompok darah biru Gawagis merasa sebagai paling owner, ini tentu sangat berbahaya jika tidak diorkestrasi dengan lihai dan baik.
Menjelang Muktamar, dinamika antar-klik ini biasanya menghangat. Namun, tantangan besar NU di abad kedua ini bukan lagi tentang bagaimana memenangkan satu klik atas klik lainnya, melainkan bagaimana melakukan orkestrasi terhadap keragaman tersebut menuju Muktamar yang harmonis, inklusif, dan futuristik. Siapapun klik yang berhasil memimpin, hendaknya merangkul klik lainnya dalam medan pengabdian.
Muktamar yang harmonis mensyaratkan adanya ruang dialog yang positif, inklusif, interaktif dan produktif, di mana tidak ada satu kelompok pun yang merasa dipinggirkan. Tidak ada satu klik pun merasa disia-siakan atau disisihkan. Kepemimpinan NU ke depan harus berperan sebagai “dirigen” yang mampu merangkul semua frekuensi kepentingan tanpa menghilangkan karakter khas masing-masing kelompok.
Muktamar yang inklusif di masa kini tidak bisa dilepaskan dari tata kelola organisasi modern. Penggunaan teknologi informasi dalam pendataan anggota (big data) dan transparansi proses pengambilan keputusan akan meminimalisir kecurigaan antar-klik. Dengan sistem yang teknokratis, ruang bagi manuver politik yang tidak sehat dapat dipersempit, digantikan dengan kompetisi gagasan yang substantif.
Inklusivitas juga berarti memberi ruang lebih luas bagi “Kiai Kampung” dan pengurus tingkat bawah (MWC dan Ranting) agar suara mereka tidak tenggelam di tengah dominasi klik-klik elit struktural pusat. Dengan demikian maka NU akan bangkit bersama, sejahtera berkualitas.
Muktamar NU adalah momentum pembuktian bahwa kematangan organisasi tidak diukur dari hilangnya perbedaan antar klik dan hilangnya keberagaman latar belakang, melainkan dari kemampuan mengelola perbedaan tersebut menjadi sebuah energi dahsyat dalam membangun peradaban Indonesia dan Dunia. Dengan orkestrasi yang tepat, klik-klik yang ada akan menjadi katalisator kemandirian umat dan kejayaan peradaban bangsa melalui hasil-hasil Muktamar NU.
*) Firman Syah Ali, Penulis adalah aktivis IPNU, PMII, GP Ansor, ISNU dan LP Ma’arif pada masanya.
Editor : Yoyok











