Surabaya – Nama Lia Istifhama kembali jadi perbincangan di kalangan aktivis dan kader pergerakan. Anggota DPD RI asal Jawa Timur itu dinilai konsisten menjaga idealisme sejak aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga kini duduk di level nasional.
Perempuan bergelar doktor lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya itu dikenal vokal menyuarakan gagasan kritis di berbagai forum. Di sisi lain, Ning Lia—sapaan akrabnya—tetap aktif membersamai kader, termasuk hadir dalam kegiatan Sekolah Kader KOPRI PMII.
Putri almarhum KH Masykur Hasyim tersebut mengaku idealismenya banyak ditempa saat aktif di PMII semasa kuliah.
“Saya memiliki jiwa PMII secara kuat karena tempaan dinamika super unik dalam PMII SS, alias PMII Surabaya Selatan. Simbol PMII yang sangat fenomenal, bahkan paling melegenda hingga saat ini. PMII SS identik dengan IAIN Sunan Ampel Surabaya waktu itu,” ujar Lia dalam forum Sekolah Kader KOPRI (SKK) KOPRI PMII, dikutip dari laman Lensajatim, Minggu (22/2/2026).
Menurut Lia, atmosfer PMII Surabaya Selatan kala itu diisi mahasiswa dengan kemampuan retorika, kepercayaan diri, serta pola komunikasi yang kuat.
“Maka dari itu, salam pergerakan PMII harus dijiwai sebagai stimulus membentuk pribadi progresif,” tambahnya.
Lia dikenal sebagai alumni PMII yang kerap hadir dalam forum-forum kader, termasuk kegiatan KOPRI. Ia disebut tetap aktif mengisi seminar dan diskusi bahkan sebelum menjabat sebagai anggota DPD RI.
Salah satu alumni PMII IAIN Sunan Ampel asal Lumajang, M Arif, menilai Lia sebagai figur yang konsisten membersamai kader.
“Kalau melihat intensitasnya, memang Ning Lia bisa dikatakan paling aktif mengisi forum adik-adik PMII, termasuk KOPRI. Keaktifannya bukan baru sekarang, sebelum menjadi anggota DPD RI pun sudah sering hadir,” ujar Arif.
Hal senada disampaikan Junaidi, alumni PMII asal Madura. Ia menyebut Lia sudah dikenal luas di kalangan aktivis sejak masih menjadi mahasiswa.
“Pada zaman ia masih kuliah, siapa yang tidak kenal dia? Se-Jawa Timur kenal dia. Kalau aktivis PMII tidak kenal Ning Lia, kurang ngopi,” ujarnya berseloroh.
Sementara itu, kader PMII asal Surabaya, Muzammil, menilai kehadiran Lia di level nasional memberi energi baru bagi kader dan alumni.
“Beliau tidak hanya datang saat acara seremonial. Ning Lia sering berdialog langsung, memberi masukan, bahkan membantu mencarikan solusi ketika kader menghadapi kendala,” katanya.
Menurutnya, Lia menjadi contoh kader PMII yang mampu menembus level nasional tanpa meninggalkan identitas pergerakan.
“Beliau tetap sederhana dan terbuka. Itu yang membuat kader merasa dekat,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat











