Bhuju’ adalah sebutan orang Madura untuk leluhur suci yang dianggap sebagai waliyullah, keturunan para waliyullah dan menurunkan para waliyullah. Rata-rata Bhuju’ Madura adalah keturunan Walisongo dan menurunkan ulama-ulama Pengasuh Pesantren di seantaro nusantara.
Akhir-akhir ini dzurriyah bhuju’ Madura semakin intensif bertemu, berkumpul dan bersilaturrahim dalam berbagai bentuk kegiatan seperti Haul, Maulid Nabi Muhammad SAW, temu kangen, bahkan sekadar ngopi bareng.
Bahkan Asta (Makam/Maqbaroh) Bhuju’ yang sudah ratusan tahun terlantar, dirawat kembali dan diselenggarakan berbagai kegiatan di situ, mulai dari Haul hingga tahlilan biasa setiap waktu waoleh berbagai kelompok dzurriyah.
Ini perkembangan yang sangat revolusioner, sehingga bisa juga disebut sebagai Revolusi Potoh Bhuju’ di Bumi Madura. Ada kebangkitan kolektif jiwa-jiwa Madura, panggilan kerinduan secara simultan dan sustainable untuk memuliakan bhuju’-nya sendiri, alih-alih memuliakan bhuju’ orang lain.
Saya melihat kebangkitan jiwa orang-orang Madura untuk mengingat dan memuliakan bhuju’-nya sendiri merupakan gelora renaissance dan nasionalisme yang timbul dengan sendirinya, tanpa ada figur tunggal yang menggerakkan mereka. Mereka digerakkan oleh hati nurani dan patriotismenya masing-masing.
Kaki langit Madura yang lama gelap, kini mulai terang karena fajar mulai menyingsing di ufuk timur pulau Seribu Bhuju’ itu.
Namun panggilan sejarah yang luar biasa ini saya amati masih sebatas romantisme pertalian darah diantara elit aristokrat Madura yang memiki kakek suci bersama.
Kalau masa romantisme genealogis ini sudah selesai, maka akan merambah pada solidaritas teologis (aqadiyyah), ideologis (fikriyah), sosiologis (ijtima’iyyah), dan organisatoris (jami’iyyah).
Jika kelima solidaritas potoh Bhuju’ itu sudah lengkap, maka yang terjadi di kaki langit Madura bukan lagi fajar menyingsing, tapi cahaya siang yang sempurna, minaddzulumati ilan nur. (*)
Penulis : Firman Syah Ali
Editor : Syaiful Hidayat