Jakarta – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi maupun keuntungan perusahaan. Menurutnya, AI harus mampu menciptakan sustainable value atau nilai berkelanjutan dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat transformasi.
Pernyataan itu disampaikan Emil saat menjadi keynote speaker bersama Ilham Habibie dalam Oxford × INSEAD Collaborative Debate Night yang digelar Oxford Society Indonesia (OXSI) bersama INSEAD Alumni Association Indonesia di University Club Jakarta, Kamis (6/8/2026) malam.
Forum tersebut mempertemukan alumni University of Oxford dan INSEAD dalam debat bergaya Oxford Union dengan mengangkat mosi, “The AI Dilemma: This House Believes that Maximising Shareholders Value Justifies Replacing Human Labour with AI.”
Dalam paparannya, Emil mengatakan AI kini menjadi salah satu penggerak utama transformasi ekonomi global. Teknologi itu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses bisnis, hingga memperkuat daya saing perusahaan. Namun, di balik peluang tersebut, AI juga menghadirkan tantangan terhadap perubahan struktur pekerjaan dan relasi antara manusia dengan teknologi.
“Perdebatan mengenai AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi mampu menggantikan pekerjaan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan AI menjadi alat untuk memperkuat kapasitas manusia sekaligus menciptakan nilai yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Emil dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Menurut Emil, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, melainkan juga kualitas sumber daya manusia. Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, kemampuan kepemimpinan, kreativitas, empati, kolaborasi, dan pengambilan keputusan strategis tetap menjadi keunggulan yang sulit digantikan mesin.
Karena itu, investasi pada pengembangan manusia harus berjalan seiring dengan investasi teknologi.
Emil juga mendorong perubahan paradigma dunia usaha. Menurutnya, perusahaan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan shareholder value, tetapi juga harus menciptakan sustainable value yang memberi manfaat bagi pekerja, konsumen, masyarakat, dan lingkungan.
“Efisiensi adalah konsekuensi dari inovasi, tetapi bukan tujuan akhirnya. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup manusia dan menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan AI perlu direspons melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas ilmiah. Sinergi tersebut dinilai penting agar transformasi digital berlangsung secara inklusif, membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan dunia kerja.
Usai mengikuti forum tersebut, Emil mengaku memperoleh banyak perspektif baru dari diskusi yang berlangsung dinamis bersama para akademisi dan praktisi.
“Diskusi ini sangat menarik. Saya bersama Pak Ilham Habibie mendapat kesempatan berbagi pandangan, dan saya mewakili perspektif pemerintah daerah mengenai penggunaan AI serta dampaknya bagi masyarakat, dunia industri, dan kebijakan publik. Sementara para alumni Oxford dan INSEAD memperdebatkan isu ini dengan kualitas intelektual yang sangat tinggi sehingga menjadi masukan berharga bagi kami,” ungkapnya.
Emil menilai berbagai pandangan yang berkembang dalam forum tersebut menjadi bekal penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan menghadapi semakin luasnya pemanfaatan AI, termasuk di Jawa Timur. Ia juga berharap jejaring yang terbangun dapat memperkuat kolaborasi dalam mendorong inovasi dan kebijakan berbasis teknologi yang tetap berpihak kepada masyarakat.
“Diskusi ini memberi banyak pelajaran bagi kami dalam menyikapi semakin maraknya penggunaan AI di berbagai sektor kehidupan di Jawa Timur. Mudah-mudahan jejaring yang terbangun bersama para alumni yang hadir hari ini juga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kolaborasi di masa mendatang,” ujarnya.
Menutup paparannya, Emil mengajak seluruh pemangku kepentingan memandang AI sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar alat otomatisasi.
“Ketika AI mampu memperkuat manusia, bukan menggantikannya, di situlah teknologi benar-benar menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masa depan,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -