Jakarta – Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan pentingnya Indonesia dan Thailand memperkuat kerja sama bilateral sebagai dua pilar utama ASEAN. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga perdamaian, stabilitas, sekaligus mendorong kemajuan kawasan.
Pernyataan itu disampaikan Anutin saat mengawali pertemuan bilateral dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026).
“Sebagai dua negara yang merupakan pilar utama ASEAN, kita harus bekerja lebih erat untuk memperluas kerja sama bilateral dan mendorong kawasan kita maju,” ujar Anutin, dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara, Selasa (4/8/2026).
Anutin mengatakan kunjungannya ke Indonesia merupakan tindak lanjut dari lawatan Presiden Prabowo ke Thailand pada tahun lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat meningkatkan hubungan menjadi kemitraan strategis.
Menurutnya, Konsultasi Pemimpin Indonesia-Thailand ke-2 menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian kerja sama sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai agenda prioritas.
“Saya yakin peta jalan kemitraan strategis yang akan kita adopsi setelah pertemuan ini akan menjadi kerangka panduan untuk mengubah visi kita menjadi aksi konkret,” katanya.
Di bidang politik dan keamanan, Anutin mendorong agar pertemuan tingkat tinggi kedua negara digelar lebih rutin, termasuk di sela forum regional maupun internasional. Ia juga mengusulkan Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan Komisi Bersama tingkat Menteri Luar Negeri guna memastikan seluruh kesepakatan berjalan sesuai rencana.
Sektor pertahanan juga menjadi perhatian. Thailand menawarkan kelanjutan latihan militer bersama, pertukaran informasi, penguatan keamanan maritim, hingga kerja sama industri pertahanan.
Selain itu, Thailand menyatakan kesiapan memasok 36 kendaraan lapis baja amfibi beroda untuk Korps Marinir Indonesia. Anutin juga mengundang delegasi Indonesia menghadiri pameran pertahanan dan keamanan di Thailand pada November 2027.
Dalam bidang keamanan, Anutin mengajak Indonesia memperkuat kolaborasi memberantas kejahatan lintas negara, mulai dari penipuan daring, perdagangan orang, hingga peredaran narkotika.
Ia mengungkapkan, sejak tahun lalu pemerintah Thailand telah memfasilitasi pemulangan lebih dari seribu warga negara Indonesia yang menjadi korban jaringan penipuan daring di kawasan perbatasan.
“Thailand dan Indonesia harus mendorong kerja sama regional yang lebih kuat dalam ASEAN untuk menangani penipuan daring,” ujarnya.
Di sektor ekonomi, Anutin menyebut nilai perdagangan bilateral Indonesia-Thailand telah mencapai sekitar 20 miliar dolar AS. Meski demikian, ia menilai potensi peningkatan perdagangan dan investasi masih sangat besar.
Karena itu, Thailand mengusulkan pembentukan Komite Perdagangan Bersama Indonesia-Thailand untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Anutin juga menawarkan kerja sama yang lebih luas di bidang ketahanan pangan, meliputi penyediaan beras berkualitas, peningkatan perdagangan produk pertanian dan peternakan, serta kenaikan impor pupuk urea dari Indonesia dari sekitar 60 ribu ton menjadi 100 ribu ton per tahun.
Selain itu, kedua negara didorong mempercepat kolaborasi di sektor perikanan dan industri halal.
Di bidang investasi, Anutin menyebut kepercayaan pelaku usaha Thailand terhadap Indonesia terus meningkat. Ia menilai keberhasilan investasi Lion Air di Thailand menjadi contoh positif yang dapat memperkuat arus investasi dua arah sekaligus membangun rantai nilai ekonomi yang menghubungkan lebih dari 350 juta penduduk kedua negara.
Untuk sektor energi, Anutin mengusulkan agar Forum Energi Thailand-Indonesia yang terakhir digelar pada 2014 kembali diaktifkan. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah memperluas kerja sama di bidang gas alam, batu bara, hingga pengembangan energi masa depan.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -