Di tengah riuk-pikuk modernisasi dan dinamika organisasi modern saat ini, kita sering kali mendapati perdebatan klasik, mana yang lebih penting antara idealisme nilai atau tata kelola finansial? Namun, jika kita menengok jauh ke belakang, tepatnya pada tahun 1926 saat Nahdlatul Ulama (NU) baru didirikan di Surabaya, sosok H.Hasan Gipo sudah memberikan jawaban tuntas atas perdebatan tersebut.
Nama H.Hasan Gipo mungkin tidak sepopuler Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari atau KH Abdul Wahab Chasbullah dalam panggung sejarah umum. Padahal, beliau adalah Ketua Umum PBNU pertama (saat itu menjabat Ketua Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama). Kehadiran H.Hasan Gipo di pucuk kepemimpinan eksekutif NU masa awal bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar penting yang menentukan fondasi arah jam’iyah.
Sebagai seorang saudagar kaya asal Surabaya, H.Hasan Gipo mengajarkan kita sebuah etika kepemimpinan yang amat krusial, yaitu kemandirian dan pengorbanan tanpa batas.
Berkhidmat, Bukan Mengambil manfaat
Di era ketika sebuah organisasi baru lahir dan belum memiliki kas yang stabil, H.Hasan Gipo tidak bertanya apa yang bisa diberikan NU kepadanya, melainkan apa yang bisa ia korbankan untuk NU. Dari kantong pribadinya, operasional awal organisasi berjalan. Beliau menanggung biaya rapat-rapat para kiai, menyokong penerbitan media Berita Nahdlatul Ulama, hingga menyediakan ruang bagi pergerakan jam’iyah.
Sikap dermawan ini bukan sekadar bentuk kepedulian materi, melainkan penanaman nilai takhalluq bi akhlaqillah (berakhlak dengan sifat-sifat Allah) dalam berorganisasi. H.Hasan Gipo menegaskan sebuah standar moral: memimpin adalah melayani dan memberi, bukan menjadikan jam’iyah sebagai batu loncatan ekonomi atau politik personal.
Mengintegrasikan Manajemen Modern dan Tawadhu pada Ulama
Teladan menarik lainnya dari sosok H.Hasan Gipo adalah kemampuannya menjembatani dua dunia. Sebagai saudagar perkotaan yang berwawasan luas, ia paham betul pentingnya tertib administrasi, pembukuan, dan manajemen yang rapi. Ia membawa spirit profesionalisme ke dalam tubuh organisasi yang berbasis pesantren dan kiai.
Namun, di balik kapasitas dan kontribusi finansialnya yang besar, H.Hasan Gipo tetap menampilkan kedalaman rasa tawadhu. Beliau menempatkan jajaran Syuriyah—para kiai dan ulama sanad—sebagai pemegang komando tertinggi. Tidak ada relasi kuasa yang timpang atas dasar “siapa yang menyokong dana”. Bagi H.Hasan Gipo, keilmuan dan kearifan para kiai adalah kompas utama, sedangkan kepemimpinan eksekutifnya adalah instrumen untuk mewujudkan gagasan besar tersebut.
Menerjemahkan Tradisi di Ruang Urban
H.Hasan Gipo juga membuktikan bahwa tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan tidak boleh terisolasi di pinggiran. Berkedudukan di Surabaya yang menjadi pusat dinamika pergerakan dan perdagangan nasional kala itu, beliau berhasil menerjemahkan gagasan-gagasan keagamaan para kiai pedesaan menjadi kerja-kerja sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat kota.
Prinsip _al-muhafadhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah_ (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) terwujud secara alami dalam gaya kepemimpinannya. Beliau tidak alergi pada efisiensi cara-cara modern, tetapi tetap teguh memegang prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin dan kebangsaan.
Cermin bagi Kepemimpinan Masa Kini
Merenungkan kembali jejak H.Hasan Gipo hari ini terasa sangat relevan. Di tengah godaan pragmatisme dan komodifikasi organisasi, H.Hasan Gipo adalah cermin jernih tentang bagaimana seorang profesional, pengusaha, maupun intelektual seharusnya berkhidmat.
Sinergi antara ulama (sebagai pemilik kedalaman ilmu dan spiritualitas) dan saudagar/intelektual seperti H.Hasan Gipo (sebagai penggerak tata kelola dan kemandirian) adalah resep sejarah yang membuat NU mampu bertahan dan melintasi zaman.
H.Hasan Gipo telah wariskan garis petunjuk yang terang bahwa kepemimpinan yang berdampak luas selalu lahir dari perpaduan antara keikhlasan bertindak, kemandirian sikap, dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur para pendahulu. Sudah saatnya kita meneladani kembali spirit H.Hasan Gipo dalam setiap ruang khidmat yang kita jalani.
Warisan sejarah H.Hasan Gipo menjadi amat relevan untuk kita renungkan kembali menjelang momentum Muktamar NU ke-35. Di tengah kompleksitas tantangan zaman, mulai dari kemandirian ekonomi, tata kelola organisasi berbasis digital, hingga menjaga independensi di tengah pusaran politik jamaah dan jam’iyah merindukan lahirnya sosok-sosok pemimpin baru yang mewarisi spirit Hasan Gipo. Yakni, pemimpin yang selesai dengan urusan pribadinya, kaya akan karya dan kemandirian, namun tetap merunduk tawadhu di hadapan dawuh para kiai. Semoga Muktamar NU ke-35 mendatang di Tambakberas Jombang tidak hanya menjadi ajang suksesi kepemimpinan, tetapi juga momen lahirnya kembali tradisi kepemimpinan yang ikhlas, profesional, dan berani berkorban demi kemaslahatan umat serta bangsa.
Penulis : Ahmad Syauqi
Editor : Syaiful Hidayat