Mojokerto – Suasana berbeda tampak di halaman CGV Mojokerto pada Senin (25/5/2026). Sebanyak 115 siswa kelas 2, 3, 4, dan 5 SDN Prajuritkulon 2 Kota Mojokerto berbaris rapi sambil memegang tiket masuk bioskop. Hari itu mereka mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film Cyberbullying sebagai bagian dari program penguatan pendidikan karakter dan literasi digital yang diselenggarakan sekolah.
Kegiatan berlangsung di CGV Mojokerto yang berada di Sunrise Mall lantai 2, Jalan Benteng Pancasila Nomor 9, Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Seluruh biaya kegiatan telah dibayarkan secara kolektif melalui sekolah sebesar Rp35.000 per siswa. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran kokurikuler yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna sekaligus menyenangkan bagi siswa.
Rombongan siswa tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB didampingi enam guru. Setibanya di bioskop, mereka langsung diarahkan untuk berbaris dan menerima tiket masuk menuju Studio 6. Meski terlihat antusias, para siswa tetap tertib mengikuti arahan guru dan petugas bioskop.
Sebelum memasuki studio, para guru kembali mengingatkan siswa agar menjaga ketertiban selama menonton. Tepat pukul 11.00 WIB, siswa masuk secara bergantian dengan menunjukkan tiket masing-masing. Wajah-wajah ceria tampak menghiasi ruangan saat mereka bersiap menyaksikan film yang sarat pesan moral tersebut.
Kepala SDN Prajuritkulon 2 Kota Mojokerto, Isnawaty DJ Nussa, menjelaskan bahwa kegiatan nobar ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang relevan dengan kehidupan anak-anak di era digital.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah mengedukasi siswa tentang bahaya perundungan di dunia maya serta menanamkan etika dan sikap bijak dalam menggunakan media sosial sejak dini. Anak-anak perlu memahami bahwa apa yang mereka tulis atau unggah di internet dapat berdampak pada orang lain,” ujarnya.
Menurut Isnawaty, kegiatan ini juga bertujuan membangun empati siswa terhadap sesama, mengenalkan berbagai bentuk cyberbullying, meningkatkan literasi digital, serta mendorong keberanian siswa untuk melapor apabila menjadi korban atau mengetahui adanya perundungan di dunia maya.
Film Cyberbullying yang ditayangkan mengisahkan perjalanan seorang remaja bernama Neira, siswi SMP yang dikenal populer dan berprestasi. Kehidupannya yang tampak sempurna berubah drastis ketika sebuah video tentang dirinya viral di media sosial dan menjadi bahan ejekan banyak orang.
Perundungan digital yang dialami Neira makin meluas dan membuatnya mengalami tekanan mental yang berat. Ia merasa malu, kehilangan kepercayaan diri, dan memilih menjauh dari lingkungan sosialnya. Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana cyberbullying dapat memberikan dampak psikologis yang serius bagi korbannya.
Dalam cerita, Neira kemudian dikirim untuk tinggal bersama tantenya di sebuah desa. Lingkungan baru yang lebih hangat dan penuh dukungan perlahan membantu dirinya bangkit kembali. Bersama keluarga dan teman-teman barunya, Neira mulai menemukan kembali semangat hidupnya melalui berbagai kegiatan positif, seperti membangun taman baca dan mengikuti klub Spelling Bee.
Film tersebut menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya empati, solidaritas, dan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar dalam membantu korban cyberbullying. Selain itu, film ini juga mengingatkan penonton bahwa penggunaan media sosial harus disertai tanggung jawab dan kesadaran akan dampak yang ditimbulkan.
Selama pemutaran film, para siswa tampak fokus menyimak alur cerita. Beberapa terlihat terharu ketika menyaksikan perjuangan Neira menghadapi tekanan dari lingkungan digital. Ada pula yang sesekali berdiskusi pelan dengan teman di sebelahnya mengenai adegan yang sedang berlangsung.
Tidak hanya menonton, para siswa juga mendapatkan lembar kerja siswa (LKS) yang berisi sepuluh pertanyaan terkait isi film. Kegiatan ini dilakukan karena nobar merupakan bagian dari pembelajaran kokurikuler. Melalui lembar kerja tersebut, siswa diajak memahami pesan moral dan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam film.
Para guru berharap kegiatan ini mampu memperkuat pemahaman siswa mengenai penggunaan media sosial yang sehat dan bertanggung jawab. Mereka juga diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai empati dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun dunia digital.
Salah satu siswa kelas 4, Anjani, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, menonton film bersama teman-teman sekolah merupakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memberikan pelajaran berharga.
“Saya senang sekali karena bisa menonton film bersama teman-teman. Biasanya saya menonton bersama keluarga. Dari film ini saya jadi tahu kalau media sosial harus digunakan dengan baik dan tidak boleh digunakan untuk mengejek orang lain,” tuturnya.
Kegiatan nobar film Cyberbullying berakhir pukul 13.00 WIB. Meski telah selesai, pesan yang disampaikan film tersebut diharapkan terus melekat dalam ingatan siswa. Melalui kegiatan ini, SDN Prajuritkulon 2 Kota Mojokerto berupaya menanamkan kesadaran bahwa teknologi harus dimanfaatkan secara positif, serta mengajarkan pentingnya menghormati dan menghargai sesama di tengah perkembangan dunia digital yang makin pesat.
Penulis :
Uzlifatul Rusydiana
Guru di SDN Prajuritkulon 2 Kota Mojokerto
uzlifahirdana@gmail.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor : Syaiful Hidayat
Sumber Berita: digitaljatim.com












