Sidoarjo – Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto mengikuti Senior Disaster Management Training (SDMT) yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pusdiklat Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pelatihan berlangsung selama 12 hari, mulai Senin (4/5/2026) hingga Sabtu (16/5/2026). Kegiatan SDMT angkatan ke-3 itu diikuti 68 Kalaksa BPBD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota dari seluruh Indonesia.
Kegiatan dibuka Kepala BNPB Letjen TNI Dr Suharyanto dan ditutup Sekretaris Utama BNPB Dr Rustian.
Dalam sambutannya, Suharyanto menyebut Indonesia menjadi salah satu dari 35 negara dengan potensi risiko bencana tertinggi di dunia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat keempat negara dengan tingkat paparan bencana tertinggi.
“Dunia internasional menjuluki Indonesia sebagai laboratorium bencana. Ini bukan sesuatu yang dibanggakan, tetapi menjadi pengingat agar seluruh pihak terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan penanggulangan bencana,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/5/2026).
Karena itu, Suharyanto menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para pimpinan penanggulangan bencana di daerah agar mampu membaca situasi dengan cepat dan tepat, sekaligus mengambil keputusan terukur saat kondisi darurat.
“Selama pelatihan, para peserta mendapat berbagai materi dan praktik, mulai dari sistem penanggulangan bencana, kepemimpinan saat krisis, manajemen informasi dan komunikasi kebencanaan, rehabilitasi dan rekonstruksi, pengelolaan logistik dan peralatan, hingga gladi posko,” jelasnya.
Tak hanya itu, peserta juga memperkuat koordinasi dan komunikasi lintas sektor dalam penanganan bencana di daerah masing-masing.
Bagi Gatot Soebroto, pelatihan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat pola penanganan bencana di Jawa Timur.
Salah satu agenda yang dinilai menarik yakni peninjauan ke sejumlah lokasi guna melihat success story penanganan bencana, termasuk pengolahan sampah pascabencana di TPS Cijantung, Jakarta.
Di lokasi itu, Gatot bersama peserta lainnya meninjau Motah atau Mesin Olah Runtah, teknologi pengolahan sampah pascabencana seperti banjir, longsor, dan puting beliung.
Menurut Gatot, mesin tersebut memiliki sejumlah keunggulan karena tidak membutuhkan listrik maupun bahan bakar, memiliki suhu pembakaran tinggi, serta ramah lingkungan lantaran minim asap.
“Ini salah satu teknologi yang bagus dan efisien. Teknologi ini sudah kami laporkan ke Ibu Gubernur. Rencananya akan diuji coba satu unit di Kabupaten Tuban,” kata Gatot.
Ia menambahkan, banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang diperoleh selama mengikuti SDMT dan dapat diterapkan dalam penanganan bencana di daerah.
“Yang terpenting, jangan pernah lelah belajar di posisi apa pun saat ini. Karena tantangan ke depan tidak semakin mudah. Selain itu, jejaring kemitraan juga harus diperkuat karena bencana tidak bisa ditangani pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai unsur dan komunitas masyarakat,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor : Yoyok











