Madura Tak Akan Pernah Padam, Senator Lia Ungkap Kekuatan Diaspora di Perantauan

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful

- Author

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Senator DPD RI Lia Istifhama menghadiri bedah buku

Senator DPD RI Lia Istifhama menghadiri bedah buku "Diaspora Madura" di Bangkalan Madura. (Dok. istimewa)

Bangkalan – Diaspora Madura dinilai memiliki ketangguhan dalam menghadapi perubahan sosial. Kemampuan bangkit dari pengalaman konflik etnik hingga beradaptasi di daerah perantauan disebut menjadi modal penting untuk membangun kehidupan yang lebih inklusif.

Hal itu mengemuka dalam bedah buku Diaspora Madura karya Dr Abdur Rozaki di Bangkalan, Sabtu (23/8/2026). Kegiatan yang digelar komunitas literasi dan pegiat budaya Madura tersebut didukung Harian Bangsa dan Intensif Books.

Senator DPD RI asal Jawa Timur, Dr Hj Lia Istifhama, turut hadir dalam kegiatan yang menghadirkan akademisi, ulama, budayawan, tokoh masyarakat, dan pegiat literasi.

Dalam forum tersebut, Ning Lia, sapaan Lia Istifhama, mengatakan buku Diaspora Madura tidak hanya mengisahkan perpindahan masyarakat Madura ke berbagai daerah. Buku itu juga merekam kemampuan diaspora Madura mempertahankan identitas sekaligus beradaptasi dengan lingkungan sosial baru.

“Kalau kita bicara resiliensi, strategi dan transformasi pascakonflik etnik, saya memahami bahwa Madura tidak akan pernah padam,” ujar Ning Lia.

Menurut Lia, masyarakat Madura memiliki sejumlah karakter yang menjadi modal menghadapi tantangan zaman. Salah satunya adalah etos kerja keras yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat Madura.

Selain itu, Senator Lia menyoroti kuatnya rasa memiliki atau sense of belonging di kalangan masyarakat Madura. Ikatan tersebut, kata dia, tidak hanya terbentuk karena hubungan darah, tetapi juga karena kesamaan identitas dan kultur.

“Walaupun kita berbeda orang tua, berbeda ayah dan ibu, tetapi ketika sama-sama Madura, ikatannya kuat. Ada sense of belonging yang luar biasa,” ujarnya.

Kekuatan tersebut kemudian berkembang menjadi modal sosial yang menopang keberdayaan masyarakat, termasuk di sektor ekonomi. Senator Lia mencontohkan menjamurnya warung Madura di berbagai daerah sebagai salah satu bentuk strategi masyarakat Madura membangun kemandirian ekonomi.

BACA JUGA  Gubernur Khofifah Salurkan 120 Rit Air Bersih untuk 38.270 Keluarga Terdampak Kekeringan di Blitar

“Kalau bicara strategi out of the box, Madura punya. Warung Madura tumbuh di mana-mana dan menjadi contoh bagaimana modal sosial bisa berkembang menjadi kekuatan ekonomi,” tuturnya.

Buku karya Abdur Rozaki tersebut berpijak pada tiga narasi utama, yakni resiliensi, strategi, dan transformasi. Resiliensi terlihat dari kemampuan diaspora Madura bangkit dari pengalaman traumatis akibat konflik sekaligus beradaptasi secara konstruktif dengan lingkungan sosial baru.

Sementara strategi diwujudkan melalui penguatan organisasi, perluasan akses pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penolakan terhadap stereotip etnik, serta penciptaan ruang publik yang lebih inklusif, moderat, dan toleran.

Adapun transformasi ditandai dengan munculnya peran-peran baru diaspora Madura. Mereka tidak hanya berkembang dalam tradisi perdagangan, tetapi juga memasuki ruang politik formal sebagai anggota legislatif maupun eksekutif.

Dalam konteks Kalimantan Barat, buku tersebut mengulas upaya diaspora Madura memperkuat organisasi seperti Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM). Penguatan organisasi itu dilakukan untuk mengurangi kerentanan terhadap politisasi etnik.

Upaya tersebut juga dibarengi peningkatan pendidikan dan pendirian lembaga pendidikan, termasuk pesantren yang inklusif.

IKBM bersama tokoh Dayak dan Melayu juga membentuk Perkumpulan Merah Putih (PMP). Organisasi tersebut berperan mencegah konflik kriminal berkembang menjadi konflik antaretnik.

Langkah itu dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni masyarakat multikultural di Kalimantan Barat. Senator Lia menilai pengalaman tersebut menunjukkan masyarakat Madura mampu mengubah pengalaman masa lalu menjadi energi untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

“Orang Madura di perantauan itu luar biasa. Mereka mampu beradaptasi, membangun jejaring, dan tetap menjaga akar budayanya. Ini yang perlu kita luruskan agar stigma negatif tidak terus melekat,” ungkapnya.

Ia juga mengaitkan kekuatan diaspora Madura dengan pentingnya pendidikan dan agama sebagai fondasi ketahanan kebangsaan. 

BACA JUGA  Tunggakan Empat TPS 3R ke TPA Griyo Mulyo Jabon Sidoarjo Capai Rp1,13 Miliar

Menurut Senator Lia, penguatan ekonomi masyarakat Madura harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan, terutama pendidikan berbasis pesantren.

“Semoga masyarakat Madura yang sekarang kuat dari sisi ekonomi juga semakin kuat dari sisi pendidikan, terutama berbasis pesantren. Karena penguatan fondasi kebangsaan itu salah satunya melalui pendidikan dan agama,” katanya.

Senator Lia berharap bedah buku Diaspora Madura dapat menjadi ruang untuk membangun kebanggaan terhadap identitas Madura. Selain itu, generasi muda diharapkan dapat mengambil nilai positif dari perjalanan para pendahulunya.

“Semoga anak cucu kita menjadi jiwa-jiwa pejuang dan Madura terus memberikan kontribusi bagi keberhasilan bangsa,” pungkasnya.

Bedah buku tersebut turut menghadirkan perwakilan Gubernur Jawa Timur yang diwakili Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur Muhammad Isa Anshori, Ketua MUI Pusat KH Masduki Baidlowi, Rektor Universitas Trunojoyo Madura Prof Dr Syaiful SH MH, penulis buku Dr Abdur Rozaki, serta CEO Harian Bangsa H Mas’ud Adnan.

Sejumlah ulama juga hadir, di antaranya KH Muhammad Ali Kholil, KH Abd Kadir Rofii, KH Makki Nashir, KH Imam Buchori Cholil, KH Ali Rahbini Latif, KH Hasani Zubair, KH Muhdhor Abdullah, KH Mondir Rofii, dan KH Sufyan Absi.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ali Mufthi Tinjau Pembangunan Bronjong Sungai Ngasinan, 70 Meter Tanggul Diperkuat
Puguh DPRD Jatim Soroti Banjir Sawojajar 2 Malang, Normalisasi Saluran Dikawal
Ning Lia: Gen Z Boleh Keren dan Modern, tapi Akhlak Rasulullah Harus Jadi Pegangan
Sebulan Tinggal di Pesantren, Ning Lia Datangi Mahasiswa Baru dan Dengarkan Cerita Mereka
Hadiri Maulid Nabi Bersama Kader PKK Pasuruan, Arumi Bachsin Tekankan Pentingnya Akhlak dalam Pengabdian Kepada Masyarakat
Kekeringan Pasuruan, Gubernur Khofifah Kirim 45 Tandon dan 500 Jeriken untuk Warga
Gubernur Khofifah Salurkan 120 Rit Air Bersih untuk 38.270 Keluarga Terdampak Kekeringan di Blitar
Tunggakan Empat TPS 3R ke TPA Griyo Mulyo Jabon Sidoarjo Capai Rp1,13 Miliar
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 02:59 WIB

Ali Mufthi Tinjau Pembangunan Bronjong Sungai Ngasinan, 70 Meter Tanggul Diperkuat

Rabu, 9 September 2026 - 21:48 WIB

Puguh DPRD Jatim Soroti Banjir Sawojajar 2 Malang, Normalisasi Saluran Dikawal

Rabu, 9 September 2026 - 04:52 WIB

Ning Lia: Gen Z Boleh Keren dan Modern, tapi Akhlak Rasulullah Harus Jadi Pegangan

Selasa, 8 September 2026 - 20:41 WIB

Sebulan Tinggal di Pesantren, Ning Lia Datangi Mahasiswa Baru dan Dengarkan Cerita Mereka

Senin, 7 September 2026 - 23:07 WIB

Hadiri Maulid Nabi Bersama Kader PKK Pasuruan, Arumi Bachsin Tekankan Pentingnya Akhlak dalam Pengabdian Kepada Masyarakat

Berita Terbaru

WhatsApp