Malang – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak generasi muda meneladani semangat juang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dalam menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, nilai patriotisme para pelajar pejuang harus menjadi inspirasi menghadapi disrupsi teknologi, persaingan global, hingga ancaman terhadap persatuan bangsa.
Pesan itu disampaikan Khofifah saat menghadiri Upacara Ziarah dan Tabur Bunga memperingati Peristiwa Pertempuran 31 Juli 1947 di Monumen Pahlawan TRIP, Jalan Pahlawan TRIP, Kota Malang, Jumat (31/7/2026).
Upacara berlangsung khidmat untuk mengenang 79 tahun perjuangan para Pelajar TRIP yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bertindak sebagai inspektur upacara yakni Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur yang juga Penjabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti.
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan perjuangan para Pelajar TRIP merupakan warisan sejarah yang tetap relevan hingga kini. Ia mengingatkan, hanya dua tahun setelah Indonesia merdeka, para pelajar yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP dan SMA rela meninggalkan sekolah untuk mengangkat senjata melawan agresi Belanda.
“Bayangin, anak-anak SMP dan SMA saat itu berjuang mempertahankan kemerdekaan ketika Indonesia baru dua tahun merdeka, lalu Belanda datang lagi. Mereka bertempur dengan senjata seadanya,” kata Khofifah dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).
Menurut Khofifah, keberanian para Pelajar TRIP membuktikan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak mengenal batas usia. Nilai keberanian, keikhlasan berkorban, patriotisme, dan cinta tanah air harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Sejarah tidak boleh berhenti menjadi cerita masa lalu. Sejarah harus hidup sebagai sumber keteladanan, inspirasi, dan kekuatan moral untuk membangun masa depan bangsa,” ujarnya.
Khofifah mengatakan bentuk perjuangan setiap generasi memang berbeda. Jika generasi 1945 mempertahankan kemerdekaan lewat perlawanan fisik, maka generasi saat ini menghadapi tantangan berupa perkembangan teknologi digital, penyebaran hoaks, intoleransi, radikalisme, kejahatan siber, penyalahgunaan narkotika, hingga krisis lingkungan.
“Sekarang senjata kita adalah teknologi informasi, persatuan, kualitas SDM, ilmu pengetahuan, dan semangat gotong royong,” tegasnya.
Ia menilai makna kepahlawanan saat ini tidak lagi identik dengan mengangkat senjata. Menurutnya, setiap warga negara bisa menjadi pahlawan melalui prestasi, integritas, inovasi, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Kepahlawanan masa kini juga berarti berani menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi, merawat persaudaraan di tengah perbedaan, dan menghadirkan solusi di tengah berbagai keterbatasan,” katanya.
Khofifah pun berpesan kepada pelajar, mahasiswa, anggota Resimen Mahasiswa (Menwa), dan generasi muda Jawa Timur agar terus meningkatkan kompetensi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, adaptif terhadap perubahan, serta mampu bersaing secara global tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.
“Jangan pernah merasa terlalu muda untuk mengambil peran. Pelajar Pejuang TRIP telah membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mencintai, membela, dan memberikan karya terbaik bagi Indonesia,” pesannya.
Pada kesempatan yang sama, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur yang dinilai konsisten menjaga warisan sejarah perjuangan bangsa sekaligus menanamkan nilai patriotisme kepada generasi muda.
“Kita semua memiliki tugas yang sama, yakni menjaga kemerdekaan Republik Indonesia sesuai profesi, peran, dan bidang pengabdian masing-masing,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur, Destry Damayanti, menegaskan peringatan Peristiwa 31 Juli bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda.
“Kami ingin memberi teladan kepada anak-anak bahwa bangsa ini memiliki sejarah perjuangan yang luar biasa. Karena itu, Indonesia harus terus dijaga bersama,” ujar Destry.
Ia menambahkan, semangat perjuangan Mas TRIP harus terus diwariskan lintas generasi sebagai fondasi penguatan karakter kebangsaan.
“Kegiatan ini bukan hanya seremoni, tetapi untuk membangun kesadaran bahwa para pendahulu pernah mengorbankan segalanya demi Merah Putih. Tugas kita adalah meneruskan semangat itu,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -