Firman Syah Ali As-Samarqandy Sebut Walisongo Berasal Dari Alawiyyin Uzbekistan Era Pax Mongolica

Editor Yoyok

- Author

Senin, 11 Mei 2026 - 12:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Editor: Yoyok

Surabaya – Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan narasi yang menyebutkan bahwa Walisongo merupakan keturunan dari wilayah Yaman. Menanggapi fenomena tersebut, pegiat sejarah dan nasab leluhur Nusantara, Firman Syah Ali As-Samarqandy, atau akrab disapa Cak Firman, memberikan perspektif berbeda berdasarkan catatan sejarah dan silsilah.

Ia mengawali keterangannya dengan sejarah singkat diaspora klan Ali Bin Abu Thalib (Alawiyyin).

“Sejarah walisongo tidak bisa lepas dari sejarah diaspora global Klan Ali Bin Abu Thalib, yang kerap disebut sebagai Alawiyyin. Perjalanan Alawiyyin merupakan salah satu narasi migrasi paling dinamis dalam sejarah Islam. Akibat gejolak politik, di mana Alawiyyin selalu dinilai sebagai penantang tahta para khalifah, mereka berdiaspora dari pusat kekuasaan para Khalifah menuju wilayah-wilayah periferi (pinggiran). Pada zaman Khalifah Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan Utsman Bin Affan,

mayoritas Alawiyyin menetap di Kota Madinah. Namun, saat Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah, banyak Alawiyyin berdiaspora ke Kota Kufah, Irak. Setelah syahidnya Khalifah Ali Bin Abu Thalib, sebagian besar Alawiyyin kembali ke Madinah. Pada era Dinasti Umayyah, karena tekanan politik yang sangat keras dari Damaskus, sebagian klan ini tetap bertahan di Madinah sebagai basis spiritual, namun sebagian lainnya bergerak ke Kota Kufah (Irak) dan mulai merambah ke Provinsi Khurasan (Persia Timur) untuk mencari perlindungan serta dukungan politik. Di zaman modern, Khurasan terdiri dari Iran, Uzbekistan, Afghanistan dan Turkmenistan. Pada era Dinasti Abbasiyah, awalnya Alawiyyin membantu revolusi Abbasiyah, kemudian menjadi bagian dari elit kerajaan. Sebagian tinggal di Baghdad dan Samarra, tapi lama-lama mereka menjadi semacam tahanan politik di kedua kota tersebut. Setelah pecah konflik terbuka dengan dinasti Abbasiyah, banyak Alawiyyin yang lari ke wilayah Tabaristan (selatan Laut Kaspia) dan beberapa wilayah periferi (pinggiran) kerajaan lainnya, mungkin diantaranya termasuk ada yang ke Yaman. Pada abad 9 dan 10, atau disebut era Abbasiyah Pertengahan, tekanan di Baghdad semakin menjadi-jadi, membuat mereka bermigrasi jauh ke timur, ke wilayah kesultanan Samaniyah, yang sezaman dengan Ibnu Sina dan Al-biruni. Di sinilah Alawiyyin mulai menetap di Termez (Uzbekistan), Balkh (Afghanistan), dan Merv (Turkmenistan). Pada Era Abbasiyah Akhir, atau disebut juga era Kesultanan Saljuk, seseorang yang mengklaim dirinya sebagai Alawiyyin dari garis Ismail bin Ja’far mendirikan Dinasti Fathimiyah di Tunisia lalu pindah ke Kairo, Mesir. Ini membuat tekanan Abbasiyah dan Saljuk semakin keras kepada seluruh alawiyyin yang berada di dalam wilayah Abbasiyah. Sementara sekelompok alawiyyin yang lain semakin kuat di wilayah pinggiran Abbasiyah, seperti Rayy (Teheran) dan Hamadan. Pada Tahun 1258, Abbasiyah Baghdad jatuh ke tangan Mongol. Penerus Dinasti Abbasiyah eksodus ke Cairo, tetap menjadi Khalifah di sana di bawah protektorat Kerajaan Mameluk. Di bawah Pax Mongolica tersebut, banyak Alawiyyin dari Samarkand dan Bukhara (sekarang Uzbekistan) mulai bergerak masuk ke arah Anak Benua India (Multan dan Delhi) karena keamanan yang relatif stabil di bawah naungan Khanat-Khanat Mongol. Alawiyyin waktu itu menguasai jalur sutera darat di bawah perlindungan Mongol. Puncak kejayaan dakwah dan bisnis Alawiyyin terjadi pada era kekuasaan Timur Lenk. Kaisar Timurlenk sangat menghormati Alawiyyin. Pada era ini, Samarkand menjadi pusat Sadah (Alawiyyin). Banyak dari mereka yang memegang posisi keagamaan tinggi di wilayah kekuasaan Timurlenk. Setelah Kerajaan Timuriyah runtuh, dominasi Alawiyyin di jalur sutera darat mulai didesak oleh imperium Shafawiyah. Imperium Shafawiyah hanya merangkul Alwiyyin yang beraliran syiah, sedangkan yang beraliran sunni dihajar. Maka Alawiyyin pindah rute dari jalur sutera darat ke jalur sutera laut. Alawiyyin sunni waktu itu berdiaspora ke Istanbul, Hijaz, Syam, Mughal, Cina dan Nusantara. Dari titik inilah muncul sejarah Walisongo di nusantara. Kita dapat melacak Sumber Otoritatif dari historiografi tersebut dari kitab Al-Fakhri fi Ansab al-Talibiyyin karya Ismail bin al-Husain al-Marwazi, Ini adalah kitab primer mengenai silsilah keturunan Abu Thalib di seluruh dunia. Kemudian kitab Sirr al-Silsilah al-Alawiyyah karya Abu Nashr al-Bukhari, kitab ini sangat otoritatif untuk melacak migrasi Alawiyyin ke wilayah Asia Tengah (Turkmenistan, Uzbekistan dan Afghanistan). Kemudian kitab Tahdhib al-Ansab wa Nihayat al-A’qab karya Al-Ubaidili sebagai salah satu rujukan tertua mengenai percabangan nasab Alawiyyin. Kemudian kitab Asy-Syajarah al-Mubarakah fi Ansab al-Thalibiyyah yang diatribusikan kepada kepada Imam Fakhruddin ar-Razi, buku ini memetakan persebaran geografis klan secara detail. Jangan lupa juga buku The Ismailis: Their History and Doctrines karya Farhad Daftary, buku ini sangat baik untuk memahami pergerakan politik klan Abu Thalib dari faksi Ismailiyah,” ucap Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.

BACA JUGA  Gubernur Khofifah Tinjau Karhutla Tahura R Soerjo di Pasuruan, Prioritaskan Keselamatan Petugas dan Relawan

Ia melanjutkan, bahwa jika ditarik ke hulu sejarahnya, datuk atau leluhur dari para Walisongo sejatinya berasal dari Uzbekistan, khususnya wilayah Samarkand.

“berdasarkan sejarah diaspora yang saya sampaikan tadi, kita hendaknya faham bahwa leluhur Walisongo berasal dari samarkand, kini Uzbekistan, pada era Pax Mongolica. Era Pax Mongolica adalah abad 13 hingga 14. Identitas As-Samarqandy yang melekat pada beberapa tokoh bukan sekadar nama, melainkan penanda geografis asal-usul keluarga mereka. Sejarah mencatat, pasca Pax Mongolica terjadi pergerakan besar Alawiyyin dari Asia Tengah, khususnya Samarkand (Uzbekistan), menuju berbagai belahan dunia termasuk Nusantara. Datuk-datuk Walisongo adalah bagian dari gelombang besar intelektual, saudagar dan pendakwah dari wilayah tersebut,” lanjut Pengurus Pusat Asossiasi Dosen Pergerakan (ADP).

Ia melanjutkan bahwa semua itu terkait erat dengan Jalur Sutera Darat dan Jalur Sutera Laut.

“Jadi pergerakan datuk-datuk Walisongo ke nusantara itu tidak lepas dari pergeseran dominasi Alawiyyin dari jalur sutera darat selama era Pax Mongolica ke jalur sutera laut pasca era Pax Mongolica. Pada masa datuk-datuk Walisongo, Samarkand dan Bukhara (kini di Uzbekistan) merupakan pusat ilmu pengetahuan dunia. Para leluhur ini bergerak dari Samarkand menuju Gujarat India, lalu masuk ke Campa Vietnam, hingga akhirnya menetap dan berdakwah di tanah Jawa. Berdasarkan uraian sejarah singkat dan runtut berdasarkan sumber-sumber primer yang otoritatif ini, saya sebagai pegiat sejarah dan nasab leluhur nusantara, menghimbau publik agar tidak mudah tertelan mentah-mentah oleh konten singkat di media sosial yang seringkali memotong narasi sejarah demi kepentingan tertentu. Penting bagi kita untuk membuka kembali kitab-kitab sejarah klasik dan catatan perjalanan kuno untuk melihat gambaran yang lebih utuh. Kita tidak boleh melupakan mata rantai sejarah Uzbekistan dalam proses islamisasi di Nusantara. Di sanalah tempat bermuaranya ilmu dan nasab para datuk Walisongo sebelum mereka sampai ke Bumi Pertiwi,” pungkasnya.

BACA JUGA  Ning Lia Ajak Generasi Muda Jadikan Hari Santri Nasional sebagai Momentum Kebangkitan Peradaban

Editor : Yoyok

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026 di Ponpes Tremas Pacitan
600 Personel Gabungan Tertibkan 67 Bangunan Liar di Frontage Road Sidoarjo
Senator Lia Istifhama Soroti Keadilan Pembagian Dana Cukai untuk Madura
Ning Lia Ajak Generasi Muda Jadikan Hari Santri Nasional sebagai Momentum Kebangkitan Peradaban
Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih untuk 196 KK Terdampak Kekeringan di Ngawi
Gubernur Khofifah Tinjau Karhutla Tahura R Soerjo di Pasuruan, Prioritaskan Keselamatan Petugas dan Relawan
Zahlul DPRD Sidoarjo Soroti Kedisiplinan 1.500 Pengendara dalam Motoran Santun
Senator Lia Istifhama Jadi Pembina Solidaritas KING, Dorong Potensi Lokal Nganjuk Makin Dikenal
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:40 WIB

Gubernur Khofifah Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026 di Ponpes Tremas Pacitan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Senator Lia Istifhama Soroti Keadilan Pembagian Dana Cukai untuk Madura

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Ning Lia Ajak Generasi Muda Jadikan Hari Santri Nasional sebagai Momentum Kebangkitan Peradaban

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih untuk 196 KK Terdampak Kekeringan di Ngawi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:38 WIB

Gubernur Khofifah Tinjau Karhutla Tahura R Soerjo di Pasuruan, Prioritaskan Keselamatan Petugas dan Relawan

Berita Terbaru

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau pelaksanaan khitanan massal dan cek kesehatan gratis (CKG) di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan

Jumat, 23 Okt 2026 - 03:31 WIB

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan. (Dok. Syaiful)

Pemerintahan dan Kebijakan

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Kamis, 22 Okt 2026 - 23:53 WIB

WhatsApp