Pacitan – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan tiga pesan penting kepada para santri dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur di Pondok Pesantren Tremas, Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Kamis (22/10/2026).
Tiga pesan tersebut meliputi penguatan ilmu pengetahuan dan akhlak, kemandirian serta kreativitas, dan menjaga persatuan serta kecintaan terhadap Tanah Air. Pesan itu disampaikan untuk mendorong santri berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Khofifah mengatakan, pemilihan Pondok Pesantren at-Tarmasi atau Pondok Tremas sebagai lokasi peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk mengangkat kembali tradisi keilmuan pesantren di Jawa Timur yang telah melahirkan ulama berpengaruh hingga tingkat internasional.
Pesantren yang berdiri sejak 1830 tersebut merupakan tempat lahir Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, ulama besar yang pernah mengajar di Masjidil Haram. Karya-karyanya di bidang hadis dan fikih menjadi rujukan keilmuan Islam di Nusantara hingga dunia Islam.
“Inilah yang menjadi kekuatan kenapa kita menggelar peringatan Hari Santri di sini. Tradisi keilmuan di sini juga terhubung dengan tokoh-tokoh besar Islam Indonesia bahkan dunia,” kata Khofifah dalam keterangnya, Jumat (23/10/2026).
Ia menyebut sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di Indonesia, di antaranya pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Khofifah juga menyebut KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sebagai tokoh yang pernah berguru kepada Syekh Mahfudz at-Tarmasi.
“Ini menjadi bagian penting bagaimana persaudaraan santri beliau yang menjadi pionir, baik sebagai muassis NU maupun muassis Muhammadiyah,” ujarnya.
Menurut Khofifah, jejak sejarah tersebut menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga melahirkan tokoh yang berkontribusi besar dalam membangun umat dan bangsa. NU dan Muhammadiyah, lanjutnya, memiliki peran penting dalam membimbing dan memperkuat kehidupan masyarakat Indonesia.
“Organisasi besar yang memberikan bimbingan, pendampingan, penguatan bagaimana peran umat Islam, peran para santri, menjadi satu kesatuan, hubbul wathon minal iman,” tambahnya.
Dalam upacara bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tersebut, Khofifah menekankan pentingnya santri memiliki keunggulan ilmu yang diimbangi akhlak mulia. Menurutnya, santri harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur pesantren.
Pesan pertama, Khofifah mengajak santri memperdalam ilmu agama sekaligus menguasai sains, teknologi, bahasa, dan keterampilan masa depan. Penguasaan ilmu itu perlu disertai kejujuran, kedisiplinan, serta penghormatan kepada guru dan orang tua.
“Menuju Indonesia Emas 2045, kita ingin menyiapkan generasi santri yang unggul, berdaya saing global, dan berkarakter mulia. Kedalaman ilmu agama harus berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kepedulian terhadap sesama,” tuturnya.
Dia juga mengingatkan santri agar siap menghadapi transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial, dan perubahan dunia kerja.
Pesan kedua, santri didorong menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat. Khofifah meminta para santri memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk menghasilkan karya, mengembangkan kewirausahaan, serta menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.
Kepedulian tersebut, kata dia, juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan merawat sumber daya alam di lingkungan pesantren.
Khofifah menegaskan, latar belakang pendidikan pesantren tidak boleh membatasi cita-cita santri. Sebaliknya, pesantren diharapkan terus melahirkan generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang.
“Dari pesantren harus terus lahir ulama yang mencerahkan, pendidik yang menginspirasi, ilmuwan yang berinovasi, wirausahawan yang membuka lapangan kerja, dan pemimpin yang amanah,” tegasnya.
Pesan ketiga, Khofifah mengajak santri menjaga persatuan dan kecintaan terhadap Tanah Air dengan merawat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Perbedaan, menurutnya, harus menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan.
Dia juga mengingatkan pentingnya menghadirkan nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dalam kehidupan bermasyarakat.
“Santri yang hebat bukan hanya yang tinggi ilmunya, tetapi juga yang luas manfaat dan pengabdiannya,” katanya.
Khofifah menuturkan, semangat persatuan dan kecintaan terhadap Tanah Air telah menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan santri. Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 membangkitkan semangat ulama, santri, dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat tersebut menjadi salah satu kekuatan yang menggerakkan perlawanan rakyat dalam peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya.
“Dari bumi Jawa Timur, semangat perjuangan para ulama dan santri telah memberikan kontribusi besar bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, perjuangan tersebut harus dilanjutkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Untuk memperkuat peran pesantren, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong fasilitasi pengembangan pesantren melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2022 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren dan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 43 Tahun 2023 sebagai landasan pelaksanaannya.
Di sektor ekonomi, Pemprov Jatim juga mengembangkan program One Pesantren One Product (OPOP). Hingga semester I 2026, program tersebut telah menjangkau 1.620 pondok pesantren melalui tiga pilar, yakni Santripreneur, Pesantrenpreneur, dan Sociopreneur.
Program tersebut mendorong pesantren mengembangkan kewirausahaan santri, memperkuat usaha produktif, serta membuka peluang ekonomi bagi alumni dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga penggerak kemandirian ekonomi umat.
Khofifah turut menyambut hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Dia mengajak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan keluarga besar pesantren memperkuat sinergi agar dukungan terhadap pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Di akhir sambutannya, Khofifah mengajak para santri terus belajar, mengembangkan potensi, dan berani mewujudkan cita-cita. Dia berharap pesantren di Jawa Timur terus melahirkan generasi yang berpegang teguh pada nilai keislaman dan kebangsaan sekaligus mampu bersaing di tingkat global.
Upacara tersebut turut dihadiri Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, pengasuh Perguruan Islam Pondok Pesantren at-Tarmasi Luqman Harist Dimyathi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Jatim.
Peringatan Hari Santri 2026 itu juga dimeriahkan penampilan marching drum band Jawahirul Hikmah Tulungagung, drama kolosal KH Hamid Dimyati, serta koreografi bendera Merah Putih sepanjang 178,45 meter oleh santri putra. Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyerahkan penghargaan dan beasiswa dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat