Ponorogo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bantuan 15 ribu liter air bersih kepada warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Bantuan tersebut disalurkan menggunakan tiga truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Penyaluran bantuan dilakukan pada Sabtu (19/9/2026) dan turut dihadiri Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita. Selain air bersih, Pemprov Jatim memberikan tiga tandon, dua tandon lipat, 60 jerigen, serta sembako kepada warga.
Khofifah mengatakan penanganan kekeringan membutuhkan ikhtiar secara saintifik dan spiritual. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri sehingga diperlukan gotong royong bersama masyarakat.
“Semua pihak harus bersama-sama mengikhtiari. Secara saintifik kita lakukan operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, menarik air dari sumber-sumber terdekat. Secara spiritual kita memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” kata Khofifah dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Pemprov Jatim melakukan dropping air bersih karena sejumlah daerah tengah mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Hingga 19 September 2026, tercatat 24 wilayah di Jawa Timur telah menetapkan status darurat kekeringan.
Khusus Kabupaten Ponorogo, bantuan penanganan kekeringan berupa 200 jerigen berkapasitas 15 liter dan 50 tandon berkapasitas 1.200 liter.
Kekeringan di Ponorogo tercatat terjadi di lima kecamatan dan berdampak terhadap 241 keluarga atau 612 jiwa. Rinciannya, Kecamatan Pulung sebanyak 56 keluarga atau 189 jiwa, Bungkal 111 keluarga atau 193 jiwa, Sampung 10 keluarga atau 35 jiwa, Jambon 120 jiwa, serta Slahung 36 keluarga atau 75 jiwa.
Hingga kini, dropping air bersih Pemprov Jatim telah dilakukan di 23 kabupaten. Di antaranya Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, Sampang, dan Kediri.
Selain dropping air, Khofifah mengatakan Pemprov Jatim melalui Dinas Sumber Daya Air terus memetakan sumber mata air yang dapat dialirkan ke wilayah terdampak melalui pipanisasi.
Menurutnya, skema tersebut telah diterapkan di sejumlah daerah. Salah satunya di Singosari, Kabupaten Malang, dengan menarik air dari kawasan Gunung Arjuno sejauh 15 kilometer. Di lokasi lain, jaringan pipanisasi bahkan mencapai 17 kilometer.
“Kalau di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, kita bisa bersama-sama membangun konektivitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini,” ujarnya.
Namun, Khofifah mengakui pembangunan pipanisasi menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya kekhawatiran warga di sekitar sumber air terhadap ketersediaan air untuk wilayah mereka sendiri.
Upaya lainnya adalah pengeboran sumur. Khofifah menyebut tingkat kesulitan pengeboran berbeda di setiap wilayah.
“Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” jelasnya.
Pemprov Jatim juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 3 September 2026. Khofifah mengatakan penyemaian dilakukan ketika BMKG mendeteksi awan yang masuk ke wilayah daratan Jawa Timur.
“Kita melakukan sangat banyak ikhtiar sejak tanggal 3 September lalu. Kalau BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jatim, kita lakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai sedang,” katanya.
Khofifah juga mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual menghadapi kekeringan. Ia meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jatim mengimbau masjid-masjid melaksanakan Salat Istisqa setelah Salat Jumat pekan depan.
“Kemarin kita sudah melakukan Salat Istisqa. Saya minta Jumat depan di masjid-masjid setelah Salat Jumat dilaksanakan Salat Istisqa, salat mohon kepada Allah agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” pesannya.
Salah satu warga Desa Karangpatihan, Wagiyem (62), mengaku bersyukur mendapat bantuan air bersih. Ia mengatakan wilayahnya telah mengalami kekeringan selama sekitar lima bulan.
“Terima kasih Bu Gubernur, bantuan airnya sangat bermanfaat. Kami di sini sudah 5 bulan kekeringan, semoga tidak ada lagi kekeringan di tahun depan, terima kasih Bu Gubernur Khofifah,” kata Wagiyem.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat