Jombang — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi momentum musyawarah dan silaturahmi warga Nahdliyin.
Di balik hiruk-pikuk ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah, ada geliat ekonomi masyarakat sekitar yang ikut bergerak.
Warung makan semakin ramai. Pedagang mendapat lebih banyak pembeli. Pelaku UMKM membuka lapak. Beragam jasa pun ikut tumbuh memenuhi kebutuhan peserta muktamar.
Bahkan hingga malam hari, kawasan Tambakberas belum benar-benar beristirahat. Lampu warung masih menyala, peserta muktamar berlalu-lalang, sementara pedagang tetap menunggu pembeli.
Pemandangan itu menjadi perhatian Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia. Ia menyebut geliat ekonomi tersebut sebagai salah satu sisi yang membuatnya terharu.
“Yang membuat saya terharu, muktamar ini ternyata bukan hanya menjadi ruang silaturahmi dan musyawarah bagi warga Nahdliyin. Di luar arena, ada masyarakat yang ikut merasakan berkahnya,” kata Ning Lia dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Wakil Ketua PW Fatayat NU itu menilai, kehadiran ribuan orang dalam sebuah agenda besar secara otomatis menciptakan kebutuhan baru. Kondisi tersebut kemudian membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Warung makan, UMKM, jasa transportasi, penginapan hingga jasa pijat ikut mendapatkan ruang.
“Ini yang saya sebut sebagai berkah muktamar. Masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari pergerakan ekonomi,” ujarnya.
Namun, Ning Lia mengingatkan agar geliat tersebut tidak serta-merta diterjemahkan sebagai angka perputaran uang tanpa dukungan data transaksi yang terukur.
“Kalau bicara angka total perputaran ekonomi tentu harus berdasarkan data. Tetapi cerita-cerita dari warga ini menunjukkan bahwa ada manfaat ekonomi yang nyata dan dirasakan langsung,” tegasnya.
Salah satu kisah yang menarik perhatian Ning Lia adalah Panji Perdana, warga Kediri yang merupakan penyandang tunanetra.
Panji datang bersama empat rekannya ke kawasan Muktamar NU. Mereka tidak sekadar ikut meramaikan acara, tetapi memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka jasa pijat sederhana.
Bermodal tikar sebagai tempat bekerja, kelimanya melayani peserta muktamar selama 24 jam. Saat sebagian peserta mulai beristirahat pada malam hari, Panji dan rekan-rekannya justru tetap bersiaga. Peserta yang kelelahan setelah mengikuti rangkaian kegiatan bisa menggunakan jasa mereka.
Dalam sehari, Panji mengaku mampu melayani sekitar belasan orang. “Dalam sehari bisa melayani sekitar belasan orang,” ujarnya.
Dari jasa tersebut, Panji bersama empat rekannya mengaku memperoleh penghasilan hingga belasan juta rupiah selama pelaksanaan Muktamar NU.
Kisah itu membuat Ning Lia melihat muktamar dari sisi berbeda. Menurut dia, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk tetap berkarya dan memanfaatkan peluang ekonomi.
“Saya melihat sendiri bahwa keterbatasan bukan berarti tidak bisa berkarya. Panji dan teman-temannya datang, bekerja, melayani orang dengan keterampilan yang mereka miliki, kemudian mendapatkan rezeki,” tuturnya.
Bagi Panji, muktamar menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bekerja dan mendapatkan penghasilan.
Geliat ekonomi juga dirasakan Ahmad Syafi’i, pemilik Warung Lele Legend di Gang IV Pesantren Bahrul Ulum. Sebelum muktamar berlangsung, Syafi’i menyebut omzet hariannya berada di kisaran Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Namun, selama muktamar, pendapatannya meningkat lebih dari 100 persen. “Ini berkah muktamar. Alhamdulillah, pendapatan warung naik lebih dari 100 persen,” kata Syafi’i.
Geliat ekonomi warga semakin terasa dengan hadirnya sekitar 1.300 tenant dalam UMKM Expo dan Bazar Muktamar.
Ribuan pelaku usaha mendapat ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjual produknya kepada peserta dan pengunjung muktamar.
Ning Lia menilai pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa agenda berskala besar dapat memberikan efek ekonomi kepada masyarakat di sekitarnya.
“Jangan sampai masyarakat sekitar hanya melihat keramaian, tetapi tidak ikut merasakan keberkahannya,” katanya.
Ia berharap manfaat ekonomi yang muncul selama muktamar tidak berhenti ketika seluruh rangkaian kegiatan berakhir.
Menurut Ning Lia, jejaring yang terbentuk selama muktamar bisa menjadi modal bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan pelanggan baru dan mengembangkan usahanya.
“Semoga berkah muktamar tidak berhenti ketika acara selesai. Harapannya, jejaring ekonomi yang terbentuk selama muktamar bisa terus berlanjut. Pelaku UMKM mendapatkan pelanggan baru, masyarakat mendapatkan pengalaman, dan warga sekitar memperoleh manfaat yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful