Gubernur Khofifah Buka Pameran dan Klinik Turots di Ponpes Tambakberas, Ajak Jaga Mata Rantai Intelektual

Penulis Syaiful Hidayat
Editor Syaiful

- Author

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Pameran dan Klinik Turots dalam rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. (Dok. Humas Pemprov)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Pameran dan Klinik Turots dalam rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. (Dok. Humas Pemprov)

Jombang  – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya menghidupkan kembali khazanah turots sebagai mata rantai keilmuan dan peradaban Islam Nusantara.

Hal itu disampaikan Khofifah saat meresmikan Pameran dan Klinik Turots dalam rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).

Peresmian tersebut turut dihadiri Wakil Rais Aam Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. Hadir pula Rais Syuriah PBNU KH Syadid Jauhari, tim Nahdlatut Turots serta sejumlah kepala OPD Pemprov Jatim.

Khofifah mengatakan, turots bukan sekadar peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, karya ulama terdahulu merupakan warisan intelektual yang menyimpan mata rantai keilmuan Islam Nusantara.

“Turots bukan sekadar peninggalan, tetapi warisan mata rantai keilmuan ulama Nusantara yang harus dihidupkan, dikaji dan dikembangkan supaya menjadi referensi bagi dunia,” tegas Khofifah dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).

Dalam Pameran Turots, pengunjung dapat melihat berbagai naskah kuno karya ulama dari sejumlah pesantren di Nusantara. Pameran juga menampilkan katalog naskah pesantren, sejarah NU dari masa ke masa, galeri ke-NU-an, jejak aksara di Nusantara, ragam naskah pesantren Nusantara, ma’radl kitab karya ulama Nusantara serta ma’radl kitab karya masyayikh PBNU.

Sementara di Klinik Turots, pengunjung dapat berkonsultasi mengenai naskah sekaligus melihat secara langsung proses digitalisasi dan restorasi manuskrip.

Menurut Khofifah, khazanah pemikiran ulama Nusantara memiliki kedalaman keilmuan yang luar biasa. Warisan tersebut juga dinilai masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer.

Karena itu, penggalian manuskrip dan karya ulama Nusantara perlu dilakukan secara serius. Upaya tersebut mencakup preservasi, digitalisasi hingga pengembangan jejaring kemitraan internasional.

Khofifah bahkan menilai Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu rujukan dunia dalam pengembangan tradisi keislaman yang moderat dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

“Peradaban dunia itu rasanya bisa berkiblat ke Indonesia, terutama Jawa Timur. Karena peradaban ini bergerak dari Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Di tahun 2010 itu sebetulnya sudah mulai bergerak ke Asia terutama ASEAN,” katanya.

BACA JUGA  Anak Disabilitas Jadi Korban Perundungan hingga Meninggal, Senator Lia Istifhama Soroti Pentingnya Deteksi Dini

Khofifah menceritakan, perhatian terhadap teknologi preservasi manuskrip semakin kuat setelah dirinya menemukan sebuah inovasi dalam expo inovasi pada 2019.

Teknologi tersebut memungkinkan kertas manuskrip yang telah lapuk diperkuat. Bahkan, tulisan yang sebelumnya tidak terlihat dapat kembali terbaca.

“Saya menemukan bahwa ternyata kertas yang lapuk itu kalau dikasih tisu kemudian dikasih jeli dengan kualifikasi khusus, maka bisa kembali baik lagi kondisinya dan jadi lebih kuat. Dan tulisan yang tidak tampak itu jadi tampak,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, perkembangan teknologi preservasi tersebut membuka peluang besar untuk menyelamatkan sekaligus memperkenalkan karya-karya ulama Nusantara kepada masyarakat dunia.

Upaya itu kemudian dikembangkan melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh. Saat karya-karya ulama Nusantara dipamerkan di Arab Saudi, respons dari diplomat, pemerintah hingga kalangan akademisi setempat disebut sangat positif.

“Mereka kemudian mengenali pikiran dan kedalaman keilmuan ulama-ulama kita. Oleh karenanya, kita harus menguatkan format kemitraan kita tidak hanya dengan ulama yang punya karya-karya di Jawa Timur, tapi ulama Nusantara,” tuturnya.

Khofifah menilai kedalaman keilmuan ulama Nusantara tidak kalah dibandingkan ilmuwan besar dunia Islam yang selama ini dikenal dalam sejarah peradaban.

“Betapa hebatnya keilmuan ada Ibnu Sina, Al Faraby, Al Jabbar. Keilmuan itu ternyata dimiliki ulama-ulama kita. Sebagian di antaranya sudah di-display di sini,” bebernya.

Momentum Muktamar NU ke-35, lanjut Khofifah, menjadi kesempatan penting untuk kembali menggali dan memperkenalkan karya intelektual ulama Nusantara.

Menurutnya, penerbitan, digitalisasi, preservasi dan kajian turots dapat memperkaya referensi keilmuan Islam sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam percaturan intelektual dunia.

“Saya rasa ini keberseiringan Muktamar ke-35 NU yang diikuti penggalian keilmuan para ulama kita lewat diterbitkannya turots ini,” ujarnya.

Khofifah menyebut sebagian karya ulama Jawa Timur telah didigitalisasi oleh Pemprov Jatim. Sebagian lainnya telah diterbitkan dalam bentuk ikhtisar.

“Ada yang sudah didigitalkan oleh Pemprov, ada yang sudah dalam bentuk ikhtisar, itu ada dua kitab. Saya optimis referensi kita akan makin kaya. Bagaimana keilmuan ulama Nusantara dari ratusan tahun sampai dengan hari ini, keilmuannya tetap update untuk bisa membaca berbagai fenomena hari ini dan yang akan datang,” tegasnya.

BACA JUGA  Zahlul DPRD Sidoarjo Soroti Kedisiplinan 1.500 Pengendara dalam Motoran Santun

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan dua kompilasi karya ulama Jawa Timur, yakni Majmū’ah al-Muṣannafāt as-Sāmiyah li Ba’ḍ Ulamā’ Jawa asy-Syarqiyyah dan Majma’ al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār.

Kedua karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Nahdlatut Turots.

Khofifah juga mengungkapkan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya telah memiliki program studi jenjang master yang berkaitan dengan kajian turots.

Menurutnya, kehadiran program tersebut menjadi langkah penting untuk membangun ekosistem akademik yang secara khusus mengkaji, merawat dan mengembangkan warisan intelektual ulama Nusantara.

Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir menilai Nahdlatut Turots memiliki peran penting dalam membangkitkan kembali tradisi keilmuan ulama dan pesantren.

Ia menegaskan, kebangkitan ulama tidak bisa dilepaskan dari upaya menghidupkan kembali turots.

“Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turots,” kata Afifuddin.

Menurutnya, kitab-kitab turots merupakan warisan keilmuan yang diberikan ulama terdahulu kepada generasi penerus. Di dalamnya terdapat ilmu agama, sumber-sumber agama serta ilmu alat untuk memahami agama.

Karena itu, turots memiliki posisi penting dalam menjaga kesinambungan keilmuan Islam dari generasi ke generasi.

Afifuddin menambahkan, pesantren memiliki peran strategis dalam memadukan tradisi kesalafan dengan perkembangan zaman. Namun, upaya tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa memberikan perhatian terhadap kitab-kitab turots sebagai fondasi tradisi keilmuan pesantren.

“Pesantren ini memadukan kesalafan dan kemodernan. Unsur itu tidak mungkin terwujud tanpa memperhatikan kitab turots ini,” ujarnya.

Ia berharap pengembangan khazanah keilmuan ulama terdahulu terus dilanjutkan dengan melibatkan seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian turots.

“Mudah-mudahan ini terus berlanjut. Apalagi seluruh pihak yang memiliki perhatian serius pada turots. Ke depannya, semoga pengembangan khazanah keilmuan ulama terdahulu bisa terus dilestarikan,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Hidayat

Editor : Syaiful

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026 di Ponpes Tremas Pacitan
600 Personel Gabungan Tertibkan 67 Bangunan Liar di Frontage Road Sidoarjo
Senator Lia Istifhama Soroti Keadilan Pembagian Dana Cukai untuk Madura
Ning Lia Ajak Generasi Muda Jadikan Hari Santri Nasional sebagai Momentum Kebangkitan Peradaban
Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih untuk 196 KK Terdampak Kekeringan di Ngawi
Gubernur Khofifah Tinjau Karhutla Tahura R Soerjo di Pasuruan, Prioritaskan Keselamatan Petugas dan Relawan
Zahlul DPRD Sidoarjo Soroti Kedisiplinan 1.500 Pengendara dalam Motoran Santun
Senator Lia Istifhama Jadi Pembina Solidaritas KING, Dorong Potensi Lokal Nganjuk Makin Dikenal
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:40 WIB

Gubernur Khofifah Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026 di Ponpes Tremas Pacitan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Senator Lia Istifhama Soroti Keadilan Pembagian Dana Cukai untuk Madura

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Ning Lia Ajak Generasi Muda Jadikan Hari Santri Nasional sebagai Momentum Kebangkitan Peradaban

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih untuk 196 KK Terdampak Kekeringan di Ngawi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:38 WIB

Gubernur Khofifah Tinjau Karhutla Tahura R Soerjo di Pasuruan, Prioritaskan Keselamatan Petugas dan Relawan

Berita Terbaru

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau pelaksanaan khitanan massal dan cek kesehatan gratis (CKG) di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan

Jumat, 23 Okt 2026 - 03:31 WIB

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan. (Dok. Syaiful)

Pemerintahan dan Kebijakan

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Kamis, 22 Okt 2026 - 23:53 WIB

WhatsApp